7 Tahun Bebas Asap, Kini Zaman Kapolda Irjen Herry Heryawan Riau Kembali Dilanda Asap
- Senin, 24 Agustus 2026 - 14:28 WIB
- Reporter : Riawan Syahputra
- Redaktur : Andra
Kabut asap yang membatasi jarak pandang, terlihat di salah satu jalanan di Kota Teluk Kuantan.
KLIKMX.COM, KUANSING - Setelah tujuh tahun relatif terbebas dari teror kabut asap, Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing), Provinsi Riau, kembali diselimuti asap pada Senin (24/8/2026).
Program Green Policing yang selalu digembar-gemborkan Kapolda Riau yang sekarang, Irjen Herry Heryawan, seolah terbantahkan oleh musibah asap yang kembali melanda Riau ini.
Kabut asap yang disebut warga sebagai kiriman dari kabupaten tetangga itu mulai mengusik kenyamanan masyarakat. Bau asap menyengat, sementara kepulan tipis masuk hingga ke dalam rumah warga.
Bagi sebagian masyarakat, kondisi ini bukan sekadar gangguan jarak pandang. Kabut asap kembali membangkitkan kekhawatiran akan ancaman penyakit pernapasan, terutama bagi anak-anak.
Ridho, warga Teluk Kuantan, mengaku resah melihat kondisi tersebut. Dua anaknya memiliki riwayat penyakit asma dan bahkan beberapa kali harus mendapat perawatan intensif di rumah sakit hanya karena terpapar debu.
"Sudah 7 tahun Riau bebas kabut asap, kami pikir akan bebas selamanya. Saya khawatir penyakit asma anak-anak saya akan kambuh akibat kabut," kata Ridho di Teluk Kuantan kepada Klikmx.com, Senin (24/8/2026).
Kekhawatiran itu semakin besar karena kabut asap kali ini terasa begitu nyata. Menurutnya, asap tidak hanya terlihat di luar rumah, tetapi juga mulai masuk ke dalam rumah dan menimbulkan bau menyengat.
"Kabut asap masuk rumah dan menyengat," ujarnya.
Ridho pun mempertanyakan langkah mitigasi pemerintah dan aparat dalam mencegah Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) agar tidak kembali menjadi bencana kabut asap.
Ia menilai munculnya kembali kabut asap setelah bertahun-tahun menjadi alarm keras bahwa pencegahan karhutla harus dievaluasi secara menyeluruh.
Sorotan Juga Diarahkan kepada Polda Riau dan BPBD Riau
Ridho mempertanyakan efektivitas berbagai langkah pencegahan yang selama ini digaungkan, termasuk program Green Policing yang digencarkan jajaran Polda Riau.
Menurut dia, jangan sampai berbagai program lingkungan hanya berhenti sebagai slogan ketika masyarakat kembali harus menghirup asap.
"Kepala BPBD dan Polda Riau harus dievaluasi karena gagal mencegah karhutla yang menimbulkan kembali bencana kabut asap," tegasnya.
Keresahan serupa dirasakan Yahya, warga lainnya. Kekhawatirannya bahkan lebih besar karena anaknya baru berusia satu minggu.
Bayi yang seharusnya menikmati udara bersih justru lahir ketika kabut asap kembali menyelimuti Kuansing. "Anak saya baru berusia satu minggu, kemudian muncul kabut asap. Sudah 7 tahun Riau bebas kabut asap, kini muncul lagi," pungkas Yahya. ***
