- Beranda
- Lingkungan
- Ajak Ribuan Siswa Riau Suarakan Isu Lingkungan, Kapolda Irjen Herry: Generasi Muda Harus Berani
Kritis Terhadap Perusahaan Perusak Lingkungan
Ajak Ribuan Siswa Riau Suarakan Isu Lingkungan, Kapolda Irjen Herry: Generasi Muda Harus Berani
- Kamis, 15 Januari 2026 - 11:55 WIB
- Reporter : Hendra Nainggolan
- Redaktur : Armazi Yendra
Kapolda Riau Irjen Dr Herry Heryawan SIK MH MHum bersama pejabat utama Polda Riau, Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Riau Erisma Yahya SAg MH, bersama 1.500 siswa-siswi SLTA se-Provinsi Riau pada kegiatan Youth Green Policing Eco Academy (YGPEA) 2026 di GOR Tri Buana, Pekanbaru, Kamis (15/1/2026).
KLIKMX.COM, PEKANBARU - Peran generasi muda dinilai memegang peran strategis sebagai agen perubahan dalam menjaga alam, merawat kepercayaan sosial, sekaligus menentukan arah masa depan daerah. Di tengah meningkatnya ancaman krisis lingkungan dan bencana alam yang belakangan terjadi di Riau.
Pesan tersebut disampaikan Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Riau Irjen Dr Herry Heryawan SIK MH MHum, saat memberikan orasi di hadapan hampir 1.500 siswa-siswi SLTA se-Provinsi Riau pada kegiatan Youth Green Policing Eco Academy (YGPEA) 2026 di GOR Tri Buana, Pekanbaru, Kamis (15/1/2026).
Di hadapan ribuan siswa-siswi, Kapolda menyinggung sejumlah bencana alam yang belum lama ini kembali dirasakan masyarakat, mulai dari banjir akibat rusaknya daerah tangkapan air, kemarau panjang, hingga ancaman kabut asap sebagai dampak deforestasi dan pembakaran hutan.
Menurutnya, rangkaian bencana tersebut menjadi alam keras bahwa persoalan lingkungan bukan lagi isu masa depan, melainkan kenyataan hari ini. Untuk itu, mari suarakan isu lingkungan.
“Banjir, asap, dan krisis iklim yang kita alami adalah cermin dari pilihan manusia. Karena itu, generasi muda harus berani bersuara dan mengambil peran,” kata Irjen Herry mengajak.
Dalam orasinya, Kapolda menegaskan bahwa perubahan besar dalam sejarah selalu dimulai dari anak-anak muda yang memilih untuk tidak diam. Ia menilai kepemimpinan tidak identik dengan jabatan atau kekuasaan, melainkan lahir dari keberanian bertindak ketika banyak orang memilih bersikap pasif.
“Kalian tidak harus menjadi pejabat atau tokoh terkenal untuk berdampak. Kalian hanya perlu menjadi generasi yang peduli, berani, dan bertanggung jawab,” ujarnya.
Kapolda Riau mencontohkan langkah-langkah sederhana yang dapat dilakukan para siswa atau pelajar, seperti membuang sampah pada tempatnya untuk menjaga sungai, tidak menyebarkan hoaks demi merawat kepercayaan sosial, serta berani melaporkan perusakan lingkungan sebagai bentuk menjaga masa depan bersama.
Menurutnya, kepemimpinan paling murni justru lahir dari pilihan-pilihan kecil yang dilakukan secara konsisten. Ia juga menekankan bahwa generasi muda hari ini hidup di tengah tiga krisis besar sekaligus, yakni krisis iklim, krisis kepercayaan, dan krisis kepedulian.
Krisis iklim, kata dia, tampak nyata melalui bencana alam yang semakin sering terjadi, sementara krisis kepercayaan tercermin dari mudahnya hoaks dan kebencian menyebar di ruang digital.
“Setiap kali kalian memilih jujur, memverifikasi informasi sebelum membagikannya, dan mendengar sebelum menghakimi, kalian sedang membangun kembali kepercayaan yang rapuh itu. Itu adalah kerja kepemimpinan,” ucap alumni Akpol 1996 ini.
Lebih lanjut, Kapolda yang akrab disapa Herimen ini menyebut krisis kepedulian sebagai tantangan paling berbahaya. Dunia, menurutnya, tidak runtuh karena terlalu banyak orang jahat, melainkan karena terlalu banyak orang baik yang memilih diam.
Karena itu, ia mengajak para siswa menjadi generasi yang merawat alam di tengah krisis iklim, jujur di tengah krisis kepercayaan, dan berani peduli di tengah krisis kepedulian.
“Kalian tidak harus menyelamatkan dunia dalam satu hari. Lakukan bagian kalian dengan konsisten, berintegritas, dan dengan hati. Itu sudah cukup untuk mengubah arah sejarah hijau Provinsi Riau,” serunya.
Kapolda juga membeberkan kondisi hutan Riau yang kian memprihatinkan. Berdasarkan data Kementerian Kehutanan, luas hutan di Riau yang pada 2023 mencapai sekitar 5,6 juta hektare, kini tersisa sekitar 1,4 juta hektare.
“Artinya, sekitar 75 persen hutan telah hilang akibat deforestasi dan kebakaran lahan,” ungkap Kapolda.
“Ini bukan sekadar angka. Ketika banjir terjadi dan asap kembali muncul, itu adalah panggilan bagi kita semua, terutama generasi muda untuk bergerak bersama,” tegasnya.
Ia menilai kekuatan digital yang dimiliki pelajar dan siswa dapat menjadi senjata ampuh dalam menyuarakan isu lingkungan. Satu unggahan atau video di media sosial, menurutnya, mampu menggerakkan kesadaran publik secara luas.
“Kalian adalah generasi yang tidak takut bersuara, kritis terhadap perusahaan perusak lingkungan, pemerintah yang tidak konsisten, bahkan terhadap Kapolda jika tidak konsisten,” ujarnya.
Kegiatan YGPEA 2026 turut menghadirkan sejumlah tokoh nasional, di antaranya akademisi Rocky Gerung, Guru Besar Filsafat Sosial Universitas Negeri Jakarta Prof Robertus Robet, serta content creator dan aktivis muda Sherly Annavita.
Dalam pemaparannya, Sherly mengingatkan bahwa hutan bisa menjadi pelindung manusia, namun juga berpotensi menjadi sumber bencana jika dirusak.
Sementara itu, Rocky Gerung menilai Green Policing sebagai langkah strategis membangun kesadaran etika lingkungan sejak dini. Menurutnya, krisis lingkungan di Sumatra pernah memicu kepanikan lintas daerah akibat bencana asap, sehingga upaya pemulihan ekosistem harus dilakukan secara serius dan berkelanjutan.
Polda Riau berharap Green Policing Eco Academy tidak berhenti sebagai ajang orasi, tetapi melahirkan aksi nyata dan gerakan berkelanjutan yang membentuk karakter generasi muda untuk mencintai alam, menjaga lingkungan, serta mewujudkan Riau yang lebih lestari di masa depan.
Dalam kesempatan ini, Kapolda juga memberikan kesempatan bagi pelajar yang berusia 17 tahun, dan menanam sebanyak 17 bibit pohon yang diupload di media sosial masing-masing bisa mengurus SIM secara gratis. ***
