Kapolri Bersama Titiek Soeharto dan Menhut Resmikan Jembatan Merah Putih Presisi di Riau
- Selasa, 17 Maret 2026 - 17:06 WIB
- Reporter : Hendra Nainggolan
- Redaktur : Armazi Yendra
Sebanyak 27 jembatan Merah Putih Presisi yang tersebar di wilayah Provinsi Riau diresmikan oleh Kapolri Jendral Pol Listyo Sigit Prabowo bersama Ketua Komisi IV DPR RI Siti Hediati Hariyadi serta Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni, Selasa (17/3/2026).
KLIKMX.COM, KAMPAR - Sebanyak 27 jembatan Merah Putih Presisi yang tersebar di wilayah Provinsi Riau diresmikan oleh Kapolri Jendral Pol Listyo Sigit Prabowo bersama Ketua Komisi IV DPR RI Siti Hediati Hariyadi serta Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni, Selasa (17/3/2026).
Peresmian ini merupakan bagian dari program pembangunan dan peletakan batu pertama (groundbreaking) total 110 Jembatan Merah Putih Presisi di Provinsi Riau. Keberadaan infrastruktur ini diharapkan mampu memperlancar mobilitas masyarakat sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.
Peresmian dan groundbreaking dipusatkan di Desa Gobah, Kecamatan Tambang, Kabupaten Kampar. Sebelum kegiatan dimulai, rombongan disambut prosesi adat berupa pengalungan kain songket dan tanjak oleh Lembaga Adat Kampar.
Sejumlah pejabat turut hadir, di antaranya Wakil Menteri Kehutanan Rohmat Marzuki, Pelaksana Tugas Gubernur Riau SF Hariyanto, Kapolda Riau Dr Irjen Herry Heryawan SIK MH MHum, Ketua DPRD Riau Kaderismanto, serta Pangdam XIX/Tuanku Tambusai Mayjen Agus Hadi Waluyo, bersama unsur forkopimda, tokoh agama, dan tokoh masyarakat.
Dari jajaran Mabes Polri, hadir Kabaintelkam Komjen Yuda Gustawan, Kabareskrim Komjen Syahardiantono, Dankorbrimob Komjen Ramdani Hidayat, dan Kadiv Humas Irjen Johnny Eddizon Isir.
Peresmian 27 jembatan tahap pertama ditandai dengan penekanan tombol sirine oleh Kapolri bersama Ketua Komisi IV DPR RI dan Menteri Kehutanan. Sementara itu, sebanyak 83 jembatan lainnya memasuki tahap kedua melalui groundbreaking.
Kapolri Sigit menjelaskan, sebanyak 27 jembatan yang diresmikan tersebar di berbagai kabupaten/kota di Riau, termasuk Bengkalis, Dumai, Indragiri Hilir, Indragiri Hulu, Kampar, Kepulauan Meranti, Kuantan Singingi, Pelalawan, Rokan Hilir, Rokan Hulu, Siak, hingga Kota Pekanbaru.
Menurutnya, pembangunan Jembatan Merah Putih Presisi merupakan wujud kolaborasi lintas sektor untuk membantu masyarakat, khususnya di wilayah dengan akses transportasi terbatas.
“Keberadaan jembatan ini diharapkan dapat memangkas jarak tempuh, memperlancar distribusi logistik, serta meningkatkan perekonomian masyarakat,” ujar Kapolri jebolan Alumni Akpol 1991 itu.
Sementara itu, Kapolda Riau Irjen Herry Heryawan menegaskan, secara keseluruhan program ini mencakup 110 jembatan, dengan 27 jembatan telah rampung pada tahap pertama.
“Total terdapat 110 jembatan dalam keseluruhan program, di mana tahap pertama sebanyak 27 jembatan telah terwujud. Sisanya 83 jembatan, beberapa sudah masuk proses pembangunan dan sebagian memasuki tahap groundbreaking,” ujar Irjen di sela-sela kegiatan.
Alumni Akpol 1996 ini menjelaskan, angka 110 memiliki makna filosofis yang kuat bagi Korps Bhayangkara, yakni mencerminkan nilai Satyahaprabu atau kesetiaan tertinggi kepada negara dan pemimpin.
“Jumlah 110 atau ‘Satu-Satu-Kosong’ ini melambangkan nilai Satyahaprabu, yang artinya setia kepada negara dan pemimpin,” jelasnya.
Menurut Kapolda, pembangunan ini juga menjadi implementasi nyata dari semangat Polri Presisi (Prediktif, Responsibilitas, dan Transparansi Berkeadilan), di mana Polri tidak hanya berperan dalam penegakan hukum, tetapi juga hadir sebagai motor pengabdian kepada masyarakat.
“Presisi merupakan visi Bapak Kapolri yang menekankan etika pengabdian. Presisi adalah cara kita memastikan bahwa setiap langkah Polri selalu bernilai dan bermanfaat bagi masyarakat,” ucapnya.
Lebih lanjut, ia menyebut pembangunan jembatan ini menjadi pembelajaran penting tentang kepemimpinan yang mampu menerjemahkan kebijakan negara menjadi manfaat nyata bagi masyarakat.
“Pemimpin yang besar bukan hanya mendengar perintah negara, tetapi mampu menerjemahkannya sebagai titik sentuh yang berarti dalam kehidupan masyarakat,” katanya.
Kapolda juga menyoroti peran strategis jembatan sebagai penghubung peradaban Melayu yang sejak lama berkembang di sepanjang aliran sungai besar di Riau, seperti Sungai Siak, Rokan, Indragiri, dan Kampar.
“Tidak ada peradaban besar yang lahir dari keterasingan. Peradaban tumbuh ketika manusia saling terhubung dan saling menguatkan,” tegasnya.
Menutup pernyataannya, ia menekankan bahwa pembangunan ini mencerminkan kehadiran Polri sebagai pelindung sekaligus penolong masyarakat.
“Khairunnas anfa’uhum linnas, sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain,” pungkasnya.
Titiek Soeharto dalam kesempatannya berdialog secara virtual dengan jajaran Forkopimda Kepulauan Meranti serta guru dan siswa SDN 018 Semulut. Sekolah tersebut selama ini bergantung pada satu-satunya jembatan yang kondisinya rusak parah dan membahayakan, bahkan berada di wilayah sungai yang kerap muncul buaya.
Kapolri juga memanfaatkan momen ini berdialog langsung dengan masyarakat di Desa Gobah untuk menyerap aspirasi terkait pembangunan infrastruktur di wilayah tersebut.
Rangkaian kegiatan lainnya adalah Kapolri bersama Titiek Soeharto menyerahkan 500 paket sembako Ramadan kepada warga sekitar, serta bantuan perlengkapan sekolah bagi puluhan siswa sebagai bentuk kepedulian terhadap masyarakat setempat. ***
