- Beranda
- Lingkungan
- BBKSDA Riau Pasang GPS Collar ke Gajah Sumatera Liar di TNTN, Mitigasi Konflik Manusia dan Satwa
BBKSDA Riau Pasang GPS Collar ke Gajah Sumatera Liar di TNTN, Mitigasi Konflik Manusia dan Satwa
- Senin, 10 November 2025 - 10:38 WIB
- Reporter : Hendra Bakti
- Redaktur : Armazi Yendra
Pegawai Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Provinsi Riau bersama tim memasang perangkat Global Positioning System (GPS) Collar pada seekor gajah liar betina di kantong habitat Tesso Tenggara, Kabupaten Pelalawan.
KLIKMX.COM, PELALAWAN - Pegawai Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Provinsi Riau bersama tim gabungan sukses memasang perangkat Global Positioning System (GPS) Collar pada seekor gajah liar betina di kantong habitat Tesso Tenggara, Kabupaten Pelalawan.
Hal itu bertujuan untuk mitigasi konflik antara manusia dan satwa. Pemasangan ini dilakukan pada Kamis (6/11/2025) lalu, dengan melibatkan kolaborasi lintas lembaga, di antaranya Balai Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN), Yayasan TNTN, serta berbagai pihak di tingkat tapak.
Kepala BBKSDA Riau Supartono SHut MP, menjelaskan, bahwa teknologi GPS Collar menjadi bagian dari strategi membangun sistem peringatan dini (early warning system) untuk mencegah interaksi negatif antara gajah dan manusia.
“Pemasangan GPS Collar ini bertujuan untuk memantau pergerakan gajah secara real-time, sehingga potensi konflik bisa diantisipasi lebih cepat. Data ini juga akan memperkuat basis informasi dalam pengambilan keputusan konservasi,” ujar Supartono di Pekanbaru, kepada Klikmx.com, Senin (10/11/2025).
Gajah yang dipasangi perangkat tersebut merupakan individu betina dewasa berusia sekitar 40 tahun, dengan berat sekitar 3.320 kilogram. Berdasarkan pengamatan tim, gajah ini adalah individu dominan yang sering diikuti oleh kelompok lainnya.
“Pemasangan pada gajah dominan penting untuk memetakan pola pergerakan kelompok secara lebih akurat,” tambahnya.
Supartono mengungkapkan bahwa proses pemasangan perangkat berteknologi tinggi itu bukan perkara mudah. Karena tim gabungan memerlukan persiapan matang, peralatan lengkap, serta koordinasi lapangan yang presisi.
Dua ekor gajah jinak dari Pusat Latihan Gajah (PLG) Minas turut dikerahkan untuk membantu proses tersebut, dengan tetap mengutamakan keselamatan satwa dan petugas.
Lebih lanjut ungkap Supartono, saat ini, berdasarkan data BBKSDA Riau, populasi gajah liar di kantong Tesso Tenggara diperkirakan mencapai 30 individu. Dengan terpasangnya GPS Collar, diharapkan pola pergerakan dan area jelajah satwa dilindungi ini dapat terekam dengan baik, sehingga langkah-langkah mitigasi bisa lebih efektif.
“Kolaborasi lintas lembaga ini menjadi wujud nyata komitmen bersama dalam menjaga harmoni antara manusia dan satwa liar, khususnya gajah Sumatera sebagai ikon konservasi di Bumi Lancang Kuning,” pungkas Supartono. ***
