Komisi IV DPRD Pekanbaru Bahas Pengelolaan Sampah Terpadu, Libatkan Tenaga Ahli Putra Daerah
- Senin, 02 Maret 2026 - 21:39 WIB
- Reporter : Noviyanti
- Redaktur : Nofri Yandi
KLIKMX.COM, PEKANBARU – Komisi IV DPRD Kota Pekanbaru menggelar rapat bersama sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD) dan pakar teknologi untuk membahas konsep pengelolaan sampah terpadu berbasis teknologi modern. Rapat tersebut turut dihadiri Ketua DPRD Kota Pekanbaru, Isa Lahamid.
Dalam keterangannya, Isa Lahamid menyampaikan bahwa pertemuan tersebut mempertemukan DPRD dengan OPD terkait, khususnya Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) serta Dinas Pertanian. DPRD juga berencana melibatkan Bappeda dalam pembahasan lanjutan guna mematangkan perencanaan.
“Alhamdulillah siang hari ini kita bisa mengadakan pertemuan antara DPRD dan beberapa OPD untuk mendengarkan pemaparan dari tim ahli, termasuk Prof Jaswar Koto, salah seorang putra daerah Pekanbaru yang kini berdomisili di Jepang. Beliau merupakan pakar teknologi yang menyampaikan konsep pengolahan sampah terpadu untuk Kota Pekanbaru,” ujar Isa.
Menurutnya, persoalan sampah harus ditangani secara menyeluruh agar tidak lagi menjadi beban Pemerintah Kota Pekanbaru. Ia berharap sistem yang ditawarkan tidak hanya menyelesaikan persoalan lingkungan, tetapi juga memberikan dampak positif secara ekonomi dan sosial bagi masyarakat.
Dalam pemaparan tersebut, konsep pengolahan sampah yang ditawarkan mampu memproses sampah dalam waktu 24 jam tanpa meninggalkan residu yang menumpuk lama di tempat pembuangan akhir (TPA). Namun demikian, Isa menegaskan bahwa implementasi sistem tersebut masih perlu kajian mendalam, terutama terkait skema pengelolaan dan pembiayaan.
“Kita harus menghitung seluruh kemungkinan, baik dari sisi anggaran maupun dampak ekonominya. Apakah nanti sistemnya dikelola langsung oleh pemerintah kota, melalui Badan Layanan Umum Daerah (BLUD), kerja sama dengan pihak ketiga, atau sepenuhnya diserahkan kepada investor, itu masih perlu pembahasan lebih lanjut,” jelasnya.
Ia menambahkan, sistem pengolahan sampah tidak bisa berdiri sendiri, melainkan harus menjadi satu kesatuan konsep yang mencakup pemilahan di tingkat rumah tangga, sistem pengangkutan, hingga pengolahan di fasilitas akhir.
Sementara itu, pakar teknologi Prof Jaswar Koto menjelaskan bahwa timnya yang terdiri dari para akademisi dan peneliti dari berbagai perguruan tinggi, termasuk Universitas Riau dan institusi riset lainnya, telah melakukan simulasi perhitungan investasi.
Menurut Jaswar, dengan investasi awal sekitar Rp37 miliar, dapat dibangun sistem pengolahan sampah terpadu yang berpotensi menghasilkan pemasukan hingga Rp74 miliar per tahun. Sistem tersebut menggunakan metode gravitasi dan teknologi bersih, sebagaimana diterapkan di Jepang.
“Dengan sistem ini, sampah yang masuk hari ini tidak akan tersisa keesokan harinya. Pengolahannya bersih dan terukur, bahkan fasilitasnya bisa ditempatkan di tengah kota tanpa menimbulkan pencemaran,” ujarnya.
Ia mencontohkan praktik di Jepang, di mana fasilitas pengolahan sampah berada di pusat kota dan beroperasi layaknya gedung perkantoran karena mengusung konsep clean energy. Selain itu, biaya transportasi sampah dapat ditekan karena lokasi pengolahan lebih dekat dibanding TPA yang selama ini berada di kawasan pinggiran seperti Muara Fajar dan Air Hitam.
Namun Jaswar menegaskan, keberhasilan sistem di Jepang dimulai dari kesadaran masyarakat untuk memilah sampah sejak dari rumah. Warga memisahkan sampah plastik, botol, kaleng, dan sampah rumah tangga lainnya sebelum diangkut.
“Sampah adalah tanggung jawab kita bersama. Kalau masyarakat mau mulai memilah dari rumah, seperti di Jepang, Korea, dan Cina, saya yakin Pekanbaru bisa bersih dari sampah. Bahkan ke depan, mudah-mudahan tidak ada lagi beban APBD untuk pengelolaan sampah karena sistem ini bisa menghasilkan pendapatan,” katanya.
Komisi IV DPRD Pekanbaru berkomitmen menindaklanjuti hasil rapat tersebut melalui pembahasan lanjutan bersama pemerintah kota untuk menentukan skema kebijakan yang paling tepat. Harapannya, konsep pengolahan sampah berbasis teknologi ini dapat menjadi solusi jangka panjang bagi permasalahan sampah di Kota Pekanbaru. ***
