Tamak terhadap Dunia yang Fana

  • Kamis, 22 Oktober 2026 - 08:30 WIB

Oleh: Tengku Iskandar MPd
Duta Literasi Pena Da’i Nusantara Provinsi Sumatera Barat Padang-Indonesia asal Selatpanjang, Kabupaten Kepulauan Meranti-Riau.

 

Honda Juni 4

1. Pendahuluan


Dunia menawarkan berbagai kenikmatan yang dapat membuat manusia bersemangat menjalani kehidupan. Harta, jabatan, rumah megah, kendaraan mewah, dan kedudukan sosial sering menjadi ukuran keberhasilan seseorang. Namun, ketika keinginan memiliki semuanya berubah menjadi ketamakan, manusia dapat kehilangan kemampuan untuk membedakan antara kebutuhan dan keserakahan.

Orang yang tamak tidak mudah merasa cukup. Kekayaan yang telah dikumpulkannya tidak membuatnya puas, bahkan mendorongnya terus mengejar keuntungan berikutnya. Dalam keadaan demikian, ia berisiko mengabaikan keluarga, melalaikan ibadah, dan menghalalkan berbagai cara demi memenuhi ambisinya.

Islam tidak melarang umatnya mencari kekayaan. Sebaliknya, Islam mendorong manusia bekerja, berusaha, dan memanfaatkan rezeki untuk kebaikan. Yang menjadi persoalan ialah ketika dunia menguasai hati dan menggeser tujuan utama kehidupan, yaitu beribadah kepada Allah Swt. dan mempersiapkan bekal akhirat.


2. Bermegah-megahan yang Melalaikan Manusia

Allah Swt. berfirman:

??????????? ???????????? ? ??????? ???????? ????????????

Alh?kumut-tak??ur, ?att? zurtumul-maq?bir.

Artinya: “Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur.” (QS. At-Takatsur [102]: 1–2).

Ayat ini menggambarkan bahaya perlombaan mengumpulkan kekayaan dan kebanggaan duniawi yang melalaikan manusia dari mengingat Allah. Seseorang dapat menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk mengejar kekayaan, tetapi tidak pernah sungguh-sungguh memikirkan bekal yang akan dibawa ketika meninggal dunia.¹

Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa kesibukan bermegah-megahan dapat membuat manusia lalai dari ketaatan sampai kematian mendatanginya.² Al-Qurthubi juga membahas celaan terhadap sikap membanggakan jumlah harta, keturunan, dan berbagai kelebihan duniawi yang menjadi sumber persaingan tanpa batas.³

Pesan ayat tersebut bukanlah agar manusia meninggalkan pekerjaan atau menolak kemajuan. Peringatan itu ditujukan kepada mereka yang menjadikan pencapaian dunia sebagai tujuan utama, sementara tanggung jawab kepada Allah dan sesama manusia diabaikan.

Karena itu, seseorang boleh menjadi pengusaha sukses, pejabat yang berprestasi, atau pemilik kekayaan yang melimpah. Namun, keberhasilan itu harus diiringi kejujuran, rasa syukur, kepedulian sosial, dan ketaatan kepada Allah.

3. Ketamakan Tidak Mengenal Batas

Rasulullah saw. menjelaskan kecenderungan manusia yang terus menginginkan tambahan harta. Dalam hadis sahih, beliau menerangkan bahwa apabila manusia memiliki dua lembah harta, ia masih menginginkan lembah yang ketiga.?

Hadis ini mengajarkan bahwa persoalan ketamakan tidak semata-mata terletak pada jumlah kekayaan, melainkan pada keinginan yang tidak terkendali.

Ada orang yang penghasilannya sederhana tetapi hatinya lapang. Ia bersyukur, bekerja dengan jujur, mencukupi kebutuhan keluarga, dan menyisihkan sebagian rezekinya untuk membantu orang lain.

Sebaliknya, ada orang yang memiliki kekayaan besar tetapi hidup dalam kecemasan. Ia takut hartanya berkurang, terus membandingkan dirinya dengan orang lain, dan merasa belum berhasil selama masih ada orang yang lebih kaya darinya.

Ketamakan dapat menimbulkan berbagai kerusakan moral. Dalam kegiatan ekonomi, sifat ini dapat mendorong seseorang melakukan penipuan, mengurangi timbangan, mengambil hak pekerja, atau menyalahgunakan amanah. Dalam kehidupan keluarga, ketamakan dapat membuat seseorang lebih sibuk mengejar materi daripada mendidik anak dan membangun hubungan yang penuh kasih sayang.

Dengan demikian, manusia perlu mengendalikan keinginannya. Tidak semua yang mampu dibeli harus dimiliki, dan tidak semua keuntungan yang tersedia pantas dikejar.

4. Dunia Adalah Kesenangan yang Sementara

Allah Swt. berfirman:

????? ?????????? ?????????? ?????? ??????? ??????????

Wa mal-?ay?tud-duny? ill? mat?‘ul-gur?r.

Artinya: “Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya.” (QS. Al-Hadid [57]: 20, petikan ayat).

Kehidupan dunia memiliki keindahan, tetapi keindahan itu tidak abadi. Masa muda akan berlalu, kekuatan tubuh akan berkurang, jabatan akan berakhir, dan kekayaan suatu saat akan ditinggalkan.

Ibnu Katsir, ketika menafsirkan ayat ini, menjelaskan sifat kehidupan dunia yang sementara dan mengingatkan manusia agar tidak tertipu oleh perhiasannya.? Al-Qurthubi juga menguraikan bahwa kenikmatan dunia dapat memperdaya manusia apabila membuatnya melupakan tujuan kehidupan yang lebih kekal.?

Kesadaran tentang kefanaan dunia seharusnya melahirkan kebijaksanaan. Manusia tetap bekerja dan membangun kehidupan, tetapi tidak menggantungkan seluruh kebahagiaannya pada harta benda.

Allah Swt. berfirman:

????????? ?????? ?????? ??????? ???????? ?????????? ????? ?????? ????????? ???? ??????????

Artinya: “Carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (pahala) negeri akhirat, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia.” (QS. Al-Qashash [28]: 77, petikan ayat).

Ayat tersebut menegaskan keseimbangan hidup seorang muslim. Dunia bukan sesuatu yang harus dibenci, tetapi harus dikelola sesuai tuntunan agama. Bekerja mencari nafkah, membesarkan anak, membantu masyarakat, dan membangun usaha yang halal dapat menjadi jalan kebaikan apabila dilakukan dengan niat yang benar.

### 5. Qanaah sebagai Penawar Ketamakan

Salah satu sifat yang perlu ditumbuhkan untuk mengatasi ketamakan adalah qanaah, yakni sikap merasa cukup terhadap karunia Allah tanpa meninggalkan ikhtiar untuk memperbaiki kehidupan.

Rasulullah saw. bersabda:

?????? ???????? ???? ???????? ?????????? ????????? ???????? ????? ?????????

Artinya: “Kekayaan itu bukanlah karena banyaknya harta benda, tetapi kekayaan yang sebenarnya adalah kekayaan jiwa.”?

Hadis riwayat al-Bukhari dan Muslim ini memberikan ukuran keberhasilan yang berbeda dari ukuran material semata.? Kekayaan jiwa tercermin dalam kemampuan bersyukur, menjaga kehormatan diri, dan tidak mengorbankan prinsip agama demi keuntungan duniawi.

Qanaah tidak berarti berhenti berusaha. Seorang ayah tetap berkewajiban mencari nafkah, seorang ibu tetap dapat mengembangkan kemampuan dan usahanya, dan seorang pemuda tetap perlu memiliki cita-cita serta meningkatkan keterampilan.

Namun, seluruh ikhtiar itu harus ditempuh secara halal. Apabila memperoleh keuntungan, ia bersyukur. Apabila menghadapi kesulitan, ia bersabar dan mencari jalan keluar tanpa melakukan kezaliman.

Qanaah juga mengajarkan manusia untuk membedakan kebutuhan dengan keinginan. Kebutuhan keluarga harus dipenuhi, sedangkan keinginan yang berlebihan perlu dikendalikan. Dengan demikian, kehidupan menjadi lebih terarah dan tidak habis dalam perlombaan yang tidak pernah selesai.

6. Harta Merupakan Amanah

Islam memandang harta sebagai karunia sekaligus amanah yang harus dipertanggungjawabkan. Harta tidak hanya digunakan untuk kepentingan pribadi, tetapi juga untuk memenuhi kewajiban keluarga dan membantu sesama.

Allah Swt. berfirman:

????? ????????????? ????? ??????????? ??????????????

Artinya: “Dan pada harta benda mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak meminta.” (QS. Adz-Dzariyat [51]: 19).

Ayat ini menunjukkan pentingnya kepedulian sosial. Kekayaan seharusnya mendorong manusia memperluas manfaat, bukan sekadar meningkatkan kebanggaan pribadi.

Orang yang diberi rezeki lebih dapat membantu biaya pendidikan anak-anak yang kurang mampu, menyantuni anak yatim, mendukung kegiatan dakwah, membangun fasilitas ibadah, dan menolong masyarakat yang tertimpa musibah.

Dalam konteks kehidupan sehari-hari, sifat tidak tamak dapat diwujudkan dengan membayar hak pekerja secara layak, memenuhi utang, menghindari korupsi, serta tidak mengambil hak orang lain demi keuntungan pribadi.

Kekayaan yang diperoleh melalui jalan halal dan dimanfaatkan untuk kebaikan akan memberikan manfaat yang lebih luas. Sebaliknya, harta yang dikumpulkan melalui kezaliman dapat menjadi sumber kerusakan bagi pemiliknya maupun masyarakat.

7. Mengingat Kematian dan Mempersiapkan Akhirat

Kematian merupakan kenyataan yang tidak dapat dihindari. Tidak seorang pun mengetahui secara pasti kapan perjalanan hidupnya berakhir.

Rasulullah saw. bersabda:

?????????? ?????? ??????? ???????????

Artinya: “Perbanyaklah mengingat pemutus segala kenikmatan,” yaitu kematian.?

Hadis ini mengingatkan manusia agar tidak tenggelam dalam kesenangan dunia sampai melupakan pertanggungjawaban akhirat.

Mengingat kematian bukan berarti kehilangan semangat untuk hidup. Sebaliknya, kesadaran tersebut membantu manusia menggunakan waktu dengan lebih baik, memperbaiki hubungan dengan keluarga, menunaikan kewajiban, dan meninggalkan kebiasaan yang merugikan orang lain.

Orang yang menyadari kefanaan hidup akan lebih berhati-hati ketika memperoleh kekuasaan. Ia tidak memandang jabatan sebagai kesempatan untuk memperkaya diri, melainkan sebagai amanah yang harus dijalankan dengan adil.

Demikian pula orang yang memiliki kekayaan akan menyadari bahwa harta tidak dapat menggantikan amal saleh. Karena itu, ia berusaha memperbaiki niat, menjaga sumber penghasilannya, dan menggunakan rezekinya untuk hal-hal yang bermanfaat.

8. Langkah Praktis Menghindari Ketamakan

Ada beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk menjaga hati dari ketamakan.

Pertama, membiasakan diri bersyukur atas rezeki yang diperoleh. Syukur tidak menghalangi kemajuan, tetapi membantu manusia menikmati hasil usaha tanpa terus-menerus merasa kekurangan.

Kedua, memastikan penghasilan diperoleh dengan cara yang halal. Keuntungan yang besar tidak dapat menjadi pembenaran bagi penipuan, korupsi, atau pengambilan hak orang lain.

Ketiga, menyusun prioritas keuangan keluarga. Dahulukan kebutuhan pokok, pendidikan, kesehatan, kewajiban utang, dan tabungan yang wajar sebelum memenuhi keinginan konsumtif.

Keempat, membiasakan sedekah dan menunaikan zakat apabila telah memenuhi ketentuannya. Berbagi melatih hati agar tidak menjadikan harta sebagai satu-satunya sumber kebahagiaan.

Kelima, memperbanyak ibadah dan mengingat kematian. Salat, membaca Al-Qur’an, berzikir, serta menghadiri majelis ilmu membantu manusia menjaga orientasi hidupnya.

Keenam, menghindari kebiasaan membandingkan kekayaan secara berlebihan. Setiap manusia memiliki keadaan dan tanggung jawab yang berbeda. Ukuran keberhasilan seharusnya tidak hanya didasarkan pada kepemilikan materi, tetapi juga pada kejujuran, kebermanfaatan, dan kualitas amal.

9. Penutup

Tamak terhadap dunia yang fana merupakan penyakit hati yang dapat menghilangkan rasa syukur, merusak hubungan sosial, dan melalaikan manusia dari kehidupan akhirat. Ketika harta menjadi ukuran segala-galanya, manusia berisiko kehilangan sesuatu yang jauh lebih berharga, yaitu ketenangan jiwa, kehormatan diri, kasih sayang keluarga, dan kedekatan kepada Allah Swt.

Dunia tidak harus dijauhi, tetapi perlu ditempatkan secara benar. Carilah rezeki dengan sungguh-sungguh, bangun kehidupan yang layak, bahagiakan keluarga, dan raihlah prestasi yang bermanfaat. Namun, jangan sampai semua itu membuat kita melupakan kewajiban kepada Allah dan hak sesama manusia.

Jangan takut berbagi karena khawatir kehilangan harta, tetapi takutlah memperoleh kekayaan dengan cara yang zalim. Jangan hanya bangga karena memiliki banyak harta, tetapi bersyukurlah apabila harta itu membawa manfaat bagi orang lain.

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan bukan semata-mata berapa banyak kekayaan yang berhasil dikumpulkan, melainkan berapa banyak kebaikan yang ditinggalkan.

Dunia akan berlalu, usia akan berakhir, dan harta akan berpindah tangan. Namun, amal saleh yang dilakukan dengan ikhlas menjadi bekal yang kita harapkan pahalanya di sisi Allah.

Semoga Allah Swt. membersihkan hati kita dari sifat tamak, menumbuhkan qanaah dan rasa syukur, serta menjadikan harta yang kita miliki sebagai jalan menuju keberkahan hidup dan keselamatan akhirat. Amin.

Catatan Kaki (Chicago/Turabian Notes)

1. Al-Qur’an, At-Takatsur [102]: 1–2.

2. Isma‘il ibn ‘Umar Ibn Kathir, Tafsir al-Qur’an al-‘Azim (Riyadh: Dar Taybah, 1999), tafsir QS. At-Takatsur [102]: 1–2.

3. Muhammad ibn Ahmad al-Qurthubi, Al-Jami‘ li Ahkam al-Qur’an, ed. Ahmad al-Barduni dan Ibrahim Atfayish, edisi ke-2 (Kairo: Dar al-Kutub al-Misriyyah, 1964), tafsir QS. At-Takatsur [102]: 1–2. Informasi edisi dan editor terverifikasi dalam katalog bibliografis.

4. Muhammad ibn Isma‘il al-Bukhari, Sahih al-Bukhari, Kitab al-Riqaq, hadis tentang keinginan manusia terhadap harta; Muslim ibn al-Hajjaj, Sahih Muslim, Kitab al-Zakah, hadis tentang ketamakan manusia. Redaksi hadis mengenai dua lembah emas terdapat dalam riwayat sahih dengan variasi redaksi.

5. Ibn Kathir, Tafsir al-Qur’an al-‘Azim, tafsir QS. Al-Hadid [57]: 20.

6. Al-Qurthubi, Al-Jami‘ li Ahkam al-Qur’an, tafsir QS. Al-Hadid [57]: 20.

7. Al-Bukhari, Sahih al-Bukhari, Kitab al-Riqaq, hadis no. 6446. Hadis ini menegaskan bahwa kekayaan sejati adalah kekayaan jiwa.

8. Muslim ibn al-Hajjaj, Sahih Muslim, Kitab al-Zakah, hadis no. 1051.

9. Muhammad ibn ‘Isa al-Tirmidzi, Jami‘ al-Tirmidzi, Kitab al-Zuhd, hadis tentang mengingat kematian. Penomoran hadis dapat berbeda menurut edisi.

10. Al-Qur’an, Al-Qashash [28]: 77.

11. Al-Qur’an, Adz-Dzariyat [51]: 19.

12. Al-Qur’an, Al-Hadid [57]: 20–21.

Catatan teknis: Catatan kaki di atas merupakan rujukan awal yang relevan. Untuk naskah jurnal akademik, nomor halaman tafsir dan edisi kitab perlu diperiksa pada eksemplar yang benar-benar digunakan. Nomor hadis juga sebaiknya dicocokkan dengan edisi atau basis data hadis yang dijadikan acuan.

### Daftar Pustaka

Al-Bukhari, Muhammad ibn Isma‘il. Sahih al-Bukhari. Kitab al-Riqaq dan Kitab al-Zakah.

Al-Qur’an al-Karim.

Al-Qurthubi, Muhammad ibn Ahmad. Al-Jami‘ li Ahkam al-Qur’an. Diedit oleh Ahmad al-Barduni dan Ibrahim Atfayish. Edisi ke-2. Kairo: Dar al-Kutub al-Misriyyah, 1964.

Al-Tirmidzi, Muhammad ibn ‘Isa. Jami‘ al-Tirmidzi. Kitab al-Zuhd.

Ibn Kathir, Isma‘il ibn ‘Umar. Tafsir al-Qur’an al-‘Azim. Riyadh: Dar Taybah, 1999.

Muslim ibn al-Hajjaj. Sahih Muslim. Kitab al-Zakah. ***



Baca Juga

--ads--