Dari MBG ke Koperasi Desa Merah Putih, Jalan Panjang Membangun Ekonomi Rakyat
- Kamis, 18 Juni 2026 - 17:49 WIB
- Redaktur : Yendra
Oleh: Ricky Rahmadia
Pengurus DPD Pemuda Tani Provinsi Riau
DI tengah perdebatan mengenai Program Makan Bergizi Gratis (MBG), perhatian publik umumnya tertuju pada aspek gizi, kesehatan, dan pendidikan anak. Padahal, jika dilihat dari perspektif pembangunan ekonomi, program ini memiliki potensi yang jauh lebih besar daripada sekadar penyediaan makanan.
MBG dapat menjadi instrumen untuk menggerakkan sektor pertanian, memperkuat ekonomi rakyat, menciptakan lapangan kerja, menjaga ketahanan pangan, hingga memperkuat daya tahan nasional di tengah ketidakpastian global.
Besarnya potensi tersebut tidak terlepas dari skala program yang sangat besar. Hingga saat ini, MBG telah menjangkau sekitar 62,4 juta penerima manfaat melalui ribuan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dengan dukungan anggaran sebesar Rp268 triliun.
Pemerintah bahkan menargetkan cakupan program mencapai 82,9 juta penerima manfaat dalam beberapa tahun ke depan.
Skala ini menjadikan MBG bukan sekadar program sosial, melainkan salah satu sumber permintaan pangan terbesar yang pernah diciptakan negara dalam sejarah pembangunan Indonesia.
Persoalan mendasar yang selama ini dihadapi sektor pertanian Indonesia bukanlah semata-mata kemampuan berproduksi, melainkan ketidakpastian pasar.
Banyak petani enggan memperluas areal tanam karena khawatir hasil panennya tidak terserap. Peternak menunda ekspansi usaha karena tidak yakin terhadap keberlanjutan permintaan. Akibatnya, kapasitas produksi nasional sering tumbuh lebih lambat dibandingkan potensi yang sebenarnya dimiliki.
Teori Effective Demand yang diperkenalkan J. M Keynes menjelaskan bahwa peningkatan produksi sangat dipengaruhi oleh adanya permintaan yang nyata dan berkelanjutan. Pelaku ekonomi akan terdorong melakukan investasi ketika mereka melihat adanya pasar yang mampu menyerap hasil produksinya secara konsisten.
MBG memiliki arti strategis, ketika puluhan juta anak membutuhkan pasokan pangan setiap hari, negara sesungguhnya sedang menciptakan effective demand yang mampu mendorong ekspansi produksi pertanian, peternakan, perikanan, dan industri pangan secara lebih terencana. Kebutuhan terhadap beras, telur, ayam, ikan, daging, sayuran, dan buah-buahan tidak lagi bersifat musiman, melainkan berlangsung setiap hari sepanjang tahun.
