SF Hariyanto Bertemu Abdul Wahid, Dialog Berlangsung Panas di Persidangan

  • Rabu, 03 Juni 2026 - 14:57 WIB

KLIKMX.COM, PEKANBARU - Plt Gubernur Riau (Gubri) SF Hariyanto dihadirkan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam sidang lanjutan dugaan korupsi pemerasan anggaran proyek di Dinas PUPR-PKPP Provinsi Riau, Rabu (3/6/2026).

Di mana, Gubernur Riau nonaktif Abdul Wahid bersama Kadis PUPR-PKPP Provinsi Riau nonaktif M Arief Setiawan dan mantan Tenaga Ahli Gubernur Riau Dani M Nursalam duduk di kursi pesakitan sebagai terdakwa di Pengadilan Negeri Tipikor Pekanbaru.

Honda Juni 2026

Diketahui, pada momen persidangan ini, SF Hariyanto dipertemukan pertama kali dengan Abdul Wahid pasca ditangkap KPK. Dalam persidangan itu, SF Hariyanto dan Abdul Wahid terlibat dialog panas. Hal tersebut terkait dengan politik hingga hubungan keduanya yang merenggang.


Di hadapan majelis hakim, Abdul Wahid mengawali pertanyaannya dengan mengaku senang akhirnya bisa bertemu langsung dengan SF Hariyanto di ruang sidang.

"Saya senang melihat Pak SF ada di sini. Sebelumnya belum pernah ketemu saat OTT (Operasi Tangkap Tangan)," ucap Abdul Wahid.

Abdul Wahid kemudian mengungkit proses pencalonan dirinya bersama SF Hariyanto dalam kontestasi Pemilihan Gubernur (Pilgub) Provinsi Riau tahun 2024. Awalnya, Abdul Wahid mempertanyakan apakah dirinya pernah meminta secara langsung untuk menjadi gubernur.


"Apakah saya meminta jadi gubernur," tanya Abdul Wahid kepada SF Hariyanto.

Pertanyaan itu sempat mendapat perhatian majelis hakim yang menanyakan relevansi dengan perkara yang sedang disidangkan. Namun hakim tetap meminta saksi memberikan jawaban.

SF Hariyanto kemudian menjelaskan, bahwa pada awalnya ia enggan maju karena mempertimbangkan etika birokrasi. Di mana, saat Pilgub tersebut, mantan Gubernur Riau Syamsuar masih berkeinginan maju dalam kontestasi politik.

"Saya disuruh maju berhadapan dengan kandidat dan pak Syamsuar ingin maju. Pak Syamsuar atasan saya dan secara etika tidak bagus melawan atasan saya," ujar SF Hariyanto.

Menurutnya, ketika Syamsuar akhirnya maju di Pilgub, ia justru meminta Abdul Wahid yang maju sebagai calon gubernur. "Di tengah perjalanan Pak Syamsuar maju di Pilgub. Saya minta Abdul Wahid yang maju," kata SF.

"Ya, majulah," ucapnya menirukan jawaban saat itu.

SF juga mengungkapkan bahwa skema yang kemudian disepakati adalah Abdul Wahid sebagai calon gubernur dan dirinya sebagai calon wakil gubernur.

"Bapak maju dan saya wakil," ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Abdul Wahid juga menyinggung hubungan keduanya setelah terpilih. Ia menyebut SF Hariyanto sempat enggan dipanggil sebagai Wakil Gubernur.

"Semua sudah saya rasakan. Mulia hati bapak," kata Abdul Wahid kepada saksi.

Mendengar ucapan Abdul Wahid, SF Hariyanto menanggapi dengan singkat. "Biasa saja pak," jawabnya.

Persidangan kemudian berlanjut pada pembahasan hubungan pribadi keduanya yang mulai merenggang setelah pelantikan. Abdul Wahid mengaku masih mengingat momen saat bulan Ramadan ketika SF Hariyanto berkeinginan bertemu dengannya.

"Saya masih ingat, bapak ingin bertemu dengan saya setelah pelantikan. Waktu itu melalui telepon, supaya saya datang ke rumah," ujar Wahid yang kemudian menurutnya saat itu ia yang meminta agar SF Hariyanto yang datang.

Pembahasan kemudian bergeser ke persoalan rekaman pemeriksaan KPK yang disebut pernah diperlihatkan SF Hariyanto kepada sejumlah pihak.

Abdul Wahid menyebut, SF Hariyanto pernah menunjukkan rekaman pemeriksaan dirinya di KPK dan menyampaikan sejumlah pernyataan yang dinilai sensitif.

"Dia menunjukkan rekaman saya diperiksa KPK. Saya kaget, kok pemeriksaan KPK bisa ada. Itu ditunjukkan ke Arwin dan banyak orang," kata Wahid.

Ia juga menyinggung adanya ucapan yang menurutnya pernah disampaikan SF Hariyanto terkait pengaruh yang dimiliki hingga ke KPK.

"Ketua hati-hati, ketua tidak bersih. Tangan saya di mana-mana, di KPK ada," ujar Wahid mengutip dugaan pernyataan SF Hariyanto tersebut.

Mendengar hal itu, SF Hariyanto secara tegas membantah tudingan itu. ''Tidak benar saya ucapkan itu," jawab SF Hariyanto.

Abdul Wahid kembali melanjutkan pertanyaannya dengan menyinggung pernyataan lain yang menurutnya pernah diucapkan saksi.

"Ketua jangan macam-macam dengan saya, saya otaknya kotor. Pernah bilang itu," tanya Wahid.

"Tidak pernah," jawab SF Hariyanto singkat.

Suasana persidangan semakin tegang ketika Abdul Wahid menanyakan soal permintaan maaf yang disebut pernah dilakukan SF Hariyanto.

"Berapa kali bapak minta maaf ke saya dan cium tangan saya," tanya Wahid.

Lagi-lagi, mendengar pertanyaan tersebut SF Hariyanto langsung bereaksi. "Siapa bapak kiranya," jawab SF Hariyanto.

Abdul Wahid kemudian mengungkit peristiwa saat Kapolda Riau Irjen Herry Heryawan mempertemukan keduanya untuk berdamai.

"Waktu Kapolda mendamaikan kita dan foto tersebar ke mana-mana," kata Abdul Wahid.

"Saya tidak ada cium tangan bapak. Siapa bapak rupanya," tegas SF Hariyanto.

Dalam persidangan itu, Abdul Wahid juga menepis anggapan bahwa dirinya tidak pernah memberikan tugas kepada SF Hariyanto selama menjabat.

"Bapak bilang saya tidak pernah kasih tugas. Silakan tanya ke Taufik dan Syahrial Abdi," ujar Abdul Wahid.

Ia juga mengaku pernah memberikan izin kepada SF Hariyanto untuk berobat dan tetap menjaga hubungan baik. "Bapak datang bersama Kapolda, bilang izin berobat. Saya kasih izin dan baik," kata terang Abdul Wahid.

Abdul Wahid kemudian mempertanyakan alasan kemarahan SF Hariyanto yang disebut merasa tidak dilibatkan dalam pemerintahan. "Mengapa bapak marah, merasa saya tidak melibatkan bapak," tanya Wahid.

Namun SF memilih menyerahkan penilaian tersebut kepada Abdul Wahid sendiri. ''Bapak saja yang jawab diri sendiri," jawabnya.

Menurut SF Hariyanto, selama menjabat sebagai Wakil Gubernur Riau, dirinya merasa tidak pernah dilibatkan dalam berbagai pengambilan keputusan pemerintahan.

"Disposisi surat tidak pernah. Diajak rapat eselon empat tidak pernah. Kenapa tanya kepada saya," kata SF Hariyanto.

Tak berhenti di situ, Abdul Wahid juga menyinggung isu penunjukan Sekretaris Daerah (Sekda) Riau yang disebut pernah disampaikan kepada ulama kondang, Abdul Somad.

"Pernah bapak menyampaikan ke UAS bahwa Sekda harus orang bapak," tanya Wahid.

Lagi-lagi, SF Hariyanto kembali membantah. ''Saya tidak pernah. Saya ke sana karena beliau tokoh agama, tolong perbaiki hubungan kami. Jangan saya dipelesetkan," tegas SF Hariyanto.

Menutup rangkaian pertanyaan, Abdul Wahid menanyakan apakah persoalan tersebut menjadi alasan kemarahan SF Hariyanto terhadap dirinya.

"Bukan alasan saya itu," jawab SF Hariyanto.

Ia juga menegaskan bahwa proses demosi atau mutasi pejabat bukan merupakan keputusan pribadinya, melainkan hasil kerja panitia seleksi.

"Soal demosi bukan soal dari saya karena tim Pansel," kata SF Hariyanto di hadapan majelis hakim.

Persidangan yang berlangsung cukup lama itu beberapa kali diwarnai saling bantah antara Abdul Wahid dan SF Hariyanto. Dialog berlangsung panas keduanya membuka sejumlah fakta mengenai hubungan politik dan pemerintahan antara Abdul Wahid dan SF Hariyanto yang sebelumnya jarang terungkap ke publik. ***

 



Baca Juga

--ads--