Mengolah Sampah Menjadi Hand Sanitizer



KLIKMX.COM, PEKANBARU - Dalam kondisi penuh rintangan dan tertekan, kreativitas biasanya muncul bersamaan dengan besarnya kepeduliaan untuk melakukan perubahan. Ini pulalah yang diperlihatkan para dosen Fakultas Kehutanan (Fahutan) Universitas Lancang Kuning, Pekanbaru , Riau. Mereka memanfaatkan sampah untuk membuat produk hand sanitizer dan desinfektan, sangat relevan dan berguna dengan kondisi pademi Covid-19 saat ini.

Para dosen ini tergabung dalam sebuah tim yang diberi nama Tim Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Fahutan Unilak. Tim ini dipimpin oleh Dr. Rina Novia Yanti.

Sebelumnya akademisi Fakultas Kehutanan (Fahutan) Universitas Lancang Kuning melihat fakta bahwa biasanya sampah rumah tangga terutama sampah organik menjadi permasalahan bagi warga. Di antaranya ada yang tidak terurus dengan baik karena tidak adanya koordinasi, atau karena kebiasaan warga yang abai dan membuang sampah sembarangan. 

WR Biru Motor

Namun dalam pandagan para akademisi Fahutan Unilak, sampah rumah tangga sebenarnya bisa dimanfaatkan menjadi produk yang bernilai ekonomis. Dosen Fakultas Kehutanan (Fahutan) Unilak melakukan pengolahan sampah menjadi produk hand sanitizer bersama masyarakat yang tergabung dalam komunitas Bank Sampah Berkah Abadi di Kelurahan Limbungan Pekanbaru. 

Tentu tak semua jenis sampah bisa diolah untuk disulap menjadi produk kesehatan itu. Melalui kegiatan PKM, dosen Fahutan Unilak menggunakan limbah kulit buah yang kemudian diolah  menjadi produk hand sanitizer dan desinfektan.

"Sampah organik khususnya kulit buah-buahan yang selama ini dibuang begitu saja, bisa diolah menjadi produk eco enzyme," ujar Dr. Rina Novia Yanti.

Produk eco enzyme ini tidak hanya bisa digunakan untuk hand sanitizer dan desinfektan, namun juga bisa digunakan untuk berbagai manfaat. Sebut saja  untuk mencuci perabotan rumah tangga, pembersih WC, pembersih lantai, pengganti detergen atau sabun dan obat penyembuh luka. 

Beberapa manfaat eco enzyme antara lain bisa membantu mengurangi limbah atau sampah organik basah sehingga zero waste. Dengan kegiatan ini juga membantu menyadarkan masyarakat pentingnya penggunaan pembersih rumah tangga termasuk disinfektan yang ramah lingkungan, terlebih di masa pandemi Covid-19 saat ini. 

"Sangat bernilai ekonomis bila diolah dengan benar,"  kata Rina saat kegiatan pelatihan yang dilaksanakan pada Ahad (1/6/2021 lalu.

Proses pembuatan eco enzyme ternyata tidak membutuhkan proses yang rumit, sehingga semua orang bisa melakukannya. "Asal dibuat dengan telaten dan butuh kesabaran, karena eco enzym baru bisa dipanen setelah 3 bulan penyimpanan," ujarnya.

Untuk menghasilkan produk eco enzym yang diinginkan, dibutuhkan bahan-bahan yang tidak terpakai lagi. Antara lain 10 liter air, bahan organik 1.800 gram (kulit nanas, apel, pir, papaya, jeruk, pisang, daun kelor, sawi/pakcoy), dan gula merah 600 gram.

"Semua bahan yang telah disebutkan dicampur dalam suatu wadah kedap udara dan difermentasi selama tiga bulan.Tujuannya adalah untuk menghasilkan suatu produk yang berkualitas. Produk eco enzyme murni, kalau mau dipakai untuk berbagai keperluan tinggal ditambahkan air. Untuk hand sanitizer satu banding tiga yaitu satu bag eco enzyme ditambah tiga bagian air bersih," jalasnya.

"Saat kegiatan kami juga membawa contoh Eco Enzym, peserta dapat melihat dan merasakan dari eco enzym ini, ujarnya, Selasa (8/6/2021). 

Dalam kegiatan PKM itu, seluruh peserta sangat antusias untuk belajar seperti yang diceritakan oleh salah peserta yaitu Wilda Oktavia. Menurutnya kegiatan dari dosen Fahutan ini bermanfaat dan membantu. 

"Saya juga baru tau sampah kulit buah ternyata bisa dibuat handsanitizer, pembersih lantai dab lainya, tentunya ini berguna," tandasnya. (EKA SATRIA)

Baca Juga