Touring Flashback Gowes Keliling Riau

Mengayuh Mimpi Memutari Tanah Melayu (2)


Batas Mimpi

Catatan Effendi Muis


SELASA 6 November 2018.

Ini hari kedua perjalanan panjang yang kunamai saja dengan “Touring Flashback”. Cukup keren kan? He he he ....  

Setelah cukup waktu istirahat untuk memulihkan lelah dan penat kupersiapkan diri  kembali untuk meneruskan petualangan.

Bangun pukul 04.30 WIB untuk melaksanakan sholat subuh dan mempersiapkan segalanya. Setelah semua ready, pukul 06.00 WIB  aku beranjak mencari sarapan pagi di kedai kopi Nirwana Air Molek dengan ditemani sahabatku, Komandan Oppa Keyla. Di hadapan kami sudah tersaji  kopsus (kopi susu) ditambah roti bakar selai sari kaya. Kami menghabiskan waktu sarapan dengan saling bercerita masa lalu.

Tak terasa waktupun sudah berjalan 45 menit, aku bersiap-siap meneruskan perjalanan. Namun sebelum berpisah tak lupa kusempatkan mengabadikan pertemuan kami dengan berfoto.

Pukul 07.00 WIB kukayuh sepeda meninggalkan Air Molek menuju kota Rengat dengan jarak lebih kurang 65 kilometer. Cukup jauh.

 

Menelusuri perjalanan ke Kota Rengat, akupun melewati daerah yang dulu selalu kulewati. Mengenang kembali daerah Japura sebagai Bandara di Kabupaten Inhu, Jembatan Japura yang dulunya hanya 1 jembatan dan kini sudah terbangun 2 jembatan, kota lama, Bukit Selasih, dan Pematang Reba yang merupakan pusat perkantoran pemerintahan Kabupaten Indragiri Hulu.

Sampai  di Simpang Tugu Ikan Patin  di daerah Pematang Reba, aku berhenti di kantor Bank Riau Kepri Pematang Reba untuk menambah amunisi (uang saku).   Tak terlalu repot karena kebetulan pagi itu ada  ATM di Otobanking yang lagi stand by di halaman BRK. Sangatlah mudah.

Memang di sekitar kawasan ini banyak perkantoran sehingga letak  kantor Bank Riau Kepri di sini sangat  strategis untuk  bertransaksi. Terima Kasih PT. Bank Riau Kepri atas segala kemudahannya.

 

Pukul 10.00 WIB aku tiba di kota Rengat. Kota ini merupakan tempat kelahiranku dan juga putra pertamaku. Kota yang penuh sejarah dan kenangan manis. Di sini banyak spot foto yang kuabadikan dari kota ini, seperti Danau Raja, Museum Daerah Rumah Tinggi, Jembatan Gantung di Pusat Kotanya, Gedung Sejuta Sungkai, Stadion Narasinga dan banyak lagi.

Setelah puas memutari kota ini, akupun sarapan pagi lagi untuk kedua kalinya. Ada dua sahabatku yang menemani. Namanya Roby Ben Saputra dan Ferry Syaprian. Kami menikmati menu Lontong Sate yang selalu kuingat di kota ini, sembari ngobrol lepas dengan Roby dan Ferry.

Tak terasa waktu  beranjak naik kami ngobrol sampai pukul 11.00 WIB. Dari sini  kulanjutkan perjalanan menuju Indragiri Hilir dengan melewati daerah yang sedang dilanda banjir (air sungai Indragiri dan Taluk sedang naik pasang). Kawasan ini dideram curah hujan yang terus turun seperti Desa Rawa Sekip, Tambak, Teluk Sungkai, Pulau Gelang dan Pulau Jumat.

Sampai di Jembatan Kuala Cinaku kuhentikan kayuhan . Sejenak mengabadikan momen istirahat ini dengan latar jembatan. Tempat ini biasanya sangatlah disukai bagi para pemancing. Usai jepret-jepret, pedal kembali kukayuh. Menyusuri jalan yang membentang hingga ke ujung sana di Desa Bayas Jaya.

Sesampainya di Desa Bayas Jaya, aku berhent di sebuah kedai harian (P&D), kebetulan pemiliknya  masih ada hubungan keluarga denganku, adik Siti Rahmawati. Aku sekalian bersilaturahmi.

“Terima kasih atas minuman segarnya. Sukses dan terus membesar usaha ya dik, abang selalu mendoakanmu.”

Di desa Bayas Jaya ini masih ada salah satu usaha huller rice milling (Kilang Padi) Almarhum H. Abdul Muis (orangtuaku) yang masih bertahan sampai saat ini walaupun sudah banyak pesaing.

 

Menelurusi perjalanan hari ke-2 ini, kayuhan sepeda kubuat melambat.  Ini sengaja kulakukan untuk mengingat memori masa lalu yang penuh arti.

Target jarak tempuh dari kota Rengat ke Jembatan Indragiri Hilir lebih kurang 75 km. Saat tiba Desa Blok A Kecamatan Kempas Jaya, akupun berhenti di rumah keluarga  Mas Pongat dan istrinya Kak Helmi Ati untuk istirahat dan melakukan sholat zhuhur dan ashar (jamak), lebih kurang 30 menit kuhabiskan waktu di sini.

Sebelum meninggalkan Desa Blok A, aku dijamu makan siang yang telat (pukul 14.15 WIB) dan menikmati segarnya dua gelas teh es juga kue-kue. Enaaknyaaa..hehehe,  Terima kasih ya Mas Pongat dan Keluarga atas sambutannya, senantiasa diberi kemurahan rezeki dan balasanNya...Amin ya Rabbal ‘alamin.

Setibanya di Jembatan Indragiri yang merupakan ikon Kabupaten Indragiri Hilir ini pukul 16.20 WIB kuabadikan moment ini.

Di Jembatan Indragiri inilah target perhentianku.

Sambil istirahat di salah satu kedai kopi, aku menunggu jemputan mobil pick up oleh Nanang Mudianto untuk menuju Kampung halamanku Desa Teluk Kiambang.

Sambil ngupi bersama bapak Afrizal, Kapol Pos Rumbai Jaya dan Pamanku Kepala Desa Bayas Jaya M. Ka'ap,  aku bercerita banyak tentang pengalaman touring sepedaku. Kulihat mereka takzim menyimak kisahku selama dua hari mengayuh sepeda ini.

 

Pukul 17.15 WIB akupun meneruskan perjalanan dengan menggunakan mobil pick up menuju kampung halamanku dengan jarak tempuh lebih kurang 20 kilometer, dimana jalan menuju kampungku masih dalam kondisi belum aspal (masih sirtu/pasir batu), hal ini yang membuatku tidak bisa lagi mengayuh sepeda. Sebab bila terus dipaksakan akan berakibat fatal pada ban sepedaku.

Setibanya di Desa Teluk Kiambang pukul 18.45 WIB, akupun mengakhiri perjalanan ini dengan beristirahat melepas lelah dan penat.

Desa ini adalah tempat  aku dibesarkan.
Banyak sahabat-sahabat kecilku di sini.
Banyak guru-guru terhebatku di sini.
Banyak sanak familikuku di sini.
Banyak kenangan yg tak terlupakan di sini, seperti bermain bola saat hujan, mandi di sungai Indragiri tanpa pakaian (hehehe..bugil), main layang-layang, main gasing dan lugu, main cingkong  dan banyak lagi.

Desa yang memang masih sangat membutuhkan sentuhan tangan Pemerintahan Kabupaten Indragiri Hilir dan Pemprov Riau terutama pada sektor jalan dan jembatannya.
Semoga...

Allâhummaj‘al lanâ bihâ qarârâ, wa rizqan hasanâ
Artinya, “Tuhanku, jadikan kampung ini tempat tinggal kami dan jadikan desa ini sebagai rezeki yang baik"

Amin Ya Robbal Alim.

(bersambung)

Jual-Rumah

Baca Juga