- Beranda
- RIAUSTORIA
- Sebelum Mati, Anak Gajah Laila di PKG Sebanga Terdengar Beberapa Kali Berteriak
Sebelum Mati, Anak Gajah Laila di PKG Sebanga Terdengar Beberapa Kali Berteriak
- Senin, 24 November 2025 - 14:35 WIB
- Reporter : Hendra Bakti
- Redaktur : Armazi Yendra
KLIKMX.COM, BENGKALIS - Kabar duka menyelimuti upaya konservasi satwa liar di Riau. Seekor anak gajah sumatera bernama Laila yang berusia 1 tahun 6 bulan dilaporkan mati pada Sabtu, 22 November 2025, di Pusat Konservasi Gajah (PKG) Sebanga, Kabupaten Bengkalis.
Laila merupakan anak gajah hasil kelahiran alami dari induk bernama Puja dan pejantan Sarma pada 6 April 2024. Sejak lahir, ia menjadi salah satu ikon PKG Sebanga karena pertumbuhannya dinilai baik dan selalu berada dalam pengawasan tim medis serta mahout.
Kepala Balai Besar KSDA Riau, Supartono, menjelaskan sebelum ditemukan mati, tanda-tanda penurunan kondisi mulai terlihat pada 20 November 2025.
“Laila tampak kurang aktif dari biasanya, namun nafsu makan dan minumnya masih baik. Menindaklanjuti laporan itu, kami langsung menurunkan tim medis untuk pemeriksaan,” ujarnya.
Hasil pemeriksaan awal oleh dokter hewan menunjukkan suhu tubuh Laila masih normal. Tim medis kemudian memberikan cairan infus, obat-obatan, serta melakukan pemantauan ketat setiap dua jam.
Hingga Jumat malam, 21 November 2025, pukul 22.00 WIB, Laila masih terlihat makan dan minum seperti biasa, termasuk menyusu kepada induknya. Namun kondisi mendadak berubah pada dini hari sekitar pukul 00.30 WIB, Laila terdengar menjerit. Saat dipantau, ia masih dalam posisi berdiri dan bergerak aktif.
Setengah jam kemudian, jeritan kedua terdengar. Ketika diperiksa, Laila sudah dalam kondisi terbaring, namun berhasil kembali bangun setelah mendapat penanganan, lalu kembali minum dan menyusu.
Kemudian, pada pukul 05.00 WIB, Laila kembali mengeluarkan suara lemah. Lalu dokter segera melakukan pemeriksaan. Hanya selang 30 menit kemudian, sekitar pukul 05.30 WIB, Laila ditemukan dalam posisi terbaring dan dinyatakan mati.
“Untuk memastikan penyebab pasti kematian, tim dokter hewan Balai Besar KSDA Riau langsung melakukan nekropsi guna memeriksa perubahan pada organ vital. Sampel jaringan tubuh juga diambil dan akan diuji di laboratorium,” kata Supartono.
Atas kehilangan ini, Supartono menyampaikan belasungkawa dan menegaskan bahwa hasil uji laboratorium nantinya akan menjadi dasar evaluasi dalam peningkatan standar perawatan gajah sumatera di pusat konservasi. ***
