Kapolda Riau Tegaskan Pendidikan Bintara SPKT Tidak Boleh Ada Praktik Kekerasan
- Senin, 20 Juli 2026 - 11:45 WIB
- Reporter : Hendra Bakti Nainggolan
- Redaktur : Armazi Yendra
Kapolda Riau Irjen Dr H Herry Heryawan SIK MH MHum, saat melaksanakan prosesi dimulainya pendidikan bagi calon Bintara Polri di SPN Polda Riau, Senin (20/7/2026).
KLIKMX.COM, KAMPAR - Pendidikan Pembentukan Bintara Polri Berkemampuan Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Tahun Anggaran 2026 resmi dibuka Kapolda Riau Irjen Dr H Herry Heryawan SIK MH MHum, di Sekolah Polisi Negara (SPN) Polda Riau, Rimbo Panjang, Kecamatan Tambang, Kabupaten Kampar,
Senin (20/7/2026).
Dalam arahannya, Kapolda menegaskan proses pendidikan harus berlangsung tegas dan disiplin tanpa menghilangkan nilai-nilai kemanusiaan maupun martabat peserta didik.
Irjen Herry mengatakan pendidikan pembentukan Bintara bukan sekadar mengubah status masyarakat menjadi anggota Polri, tetapi merupakan proses membentuk karakter, integritas, moral, serta kompetensi personel agar mampu memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat.
Ia juga mengucapkan selamat kepada seluruh peserta didik yang berhasil lolos dari ribuan pendaftar di seluruh Indonesia.
Menurutnya, mereka merupakan putra-putri terbaik bangsa yang harus memanfaatkan kesempatan tersebut untuk menimba ilmu dan membentuk diri menjadi Bhayangkara yang profesional.
"Pendidikan ini bukan sekadar mengubah status seseorang menjadi anggota Polri, tetapi menjadi proses transformasi pengetahuan, keterampilan, sikap, karakter, mental, dan budaya kerja agar menjadi personel yang profesional," ujar Kapolda.
Pendidikan Pembentukan Bintara Polri Berkemampuan SPKT akan berlangsung selama lima bulan dengan jumlah peserta sebanyak 4.799 orang di seluruh Indonesia. Totalnya, sebanyak 709 polisi wanita mengikuti pendidikan di Sepolwan, sedangkan 4.090 polisi pria menjalani pendidikan di 31 Sekolah Polisi Negara (SPN) Polda. Khusus di SPN Polda Riau, pendidikan diikuti 119 siswa.
Kapolda menjelaskan, tema pendidikan tahun ini, "Membangun Keutamaan Pendidikan Polri Berbasis Moral dan Literasi untuk Mendukung Program Kedaulatan Pangan, Energi, dan Ekonomi yang Produktif serta Inklusif," menjadi landasan untuk membentuk personel yang tidak hanya tangguh secara fisik, tetapi juga memiliki integritas, moralitas, kemampuan berpikir kritis, dan mampu menjawab tantangan perkembangan zaman.
Menurutnya, sebagai calon personel SPKT, para peserta didik nantinya akan menjadi garda terdepan pelayanan kepolisian. Mereka merupakan anggota pertama yang menerima masyarakat saat datang ke kantor polisi dengan berbagai persoalan.
"Masyarakat datang ke kantor polisi sering kali membawa masalah, ketakutan, kebingungan, bahkan keputusasaan. Karena itu, personel SPKT harus mampu menerima laporan dengan cepat, berkomunikasi secara santun, memberikan kepastian hukum, serta menghadirkan pelayanan prima," katanya.
Herry juga berpesan agar seluruh peserta meningkatkan keimanan dan ketakwaan, menjaga kesehatan, mempersiapkan fisik dan mental, mematuhi seluruh aturan pendidikan, menghormati para pendidik, serta membangun solidaritas antarsesama peserta.
Ia mengingatkan peserta untuk meninggalkan sikap manja, individualistis, dan mudah menyerah selama menjalani pendidikan. Menurutnya, setiap tantangan yang dihadapi akan menjadi bekal membentuk ketangguhan dalam menjalankan tugas sebagai anggota Polri.
Selain memberikan arahan kepada peserta didik, Kapolda juga menyampaikan instruksi tegas kepada seluruh kepala SPN, tenaga pendidik, instruktur, pengasuh, dan tenaga kependidikan agar menjalankan proses pendidikan secara profesional, bertanggung jawab, dan berorientasi pada kualitas lulusan.
Kapolda juga menegaskan tidak boleh ada praktik kekerasan maupun hukuman yang merendahkan martabat peserta didik selama proses pendidikan berlangsung.
"Terapkan disiplin secara tegas, adil, dan konsisten. Hindari segala bentuk kekerasan, hukuman yang merendahkan martabat, serta tindakan yang bertentangan dengan hukum dan nilai-nilai kemanusiaan," tegasnya.
Ia juga meminta seluruh tenaga pendidik memperhatikan kondisi kesehatan peserta, termasuk dampak cuaca panas selama latihan.
"Latihan boleh berat, tetapi tidak boleh kehilangan martabat. Ketegasan harus membentuk karakter, bukan menumbuhkan dendam. Tekanan latihan harus memperkuat daya juang, bukan merusak fisik dan mental peserta didik," pungkas Kapolda alumni Akpol 1996 itu. ***
