Baru Pindah, 45 WBP Lapas Pekanbaru Jalani Skrining Penyakit Menular
- Sabtu, 07 Maret 2026 - 14:48 WIB
- Reporter : Hendra Bakti
- Redaktur : Yendra
KLIKMX.COM, PEKANBARU - Sebanyak 45 warga binaan pemasyarakatan (WBP) yang baru masuk ke Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Pekanbaru menjalani pemeriksaan kesehatan (skrining), Sabtu (7/3/2026).
Pemeriksaan ini digelar sebagai upaya deteksi dini dan pencegahan penyakit menular, sekaligus pemenuhan hak warga binaan untuk mendapatkan layanan kesehatan yang baik.
Skrining kesehatan tersebut meliputi BAP kesehatan, skrining tuberkulosis (TB), Hepatitis C-HIV, serta tes kejiwaan.
Kepala Lapas Kelas IIA Pekanbaru, Yuniarto, menjelaskan pelaksanaan tes ini bermanfaat untuk mencegah dan mengantisipasi gangguan kesehatan serta penularan penyakit antar warga binaan di dalam lapas.
“Skrining awal kesehatan ini dilakukan dengan tujuan mengetahui kondisi kesehatan warga binaan serta mendeteksi apakah terdapat riwayat penyakit tertentu atau tidak,” kata Yuniarto.
Ia mengatakan, terhadap setiap warga binaan baru dan begitu juga yang baru pindah, pemeriksaan kesehatan selalu dilakukan. Hal ini mengingat beragam latar belakang orang yang masuk ke lingkungan Lapas Kelas IIA Pekanbaru dapat meningkatkan risiko penularan bakteri maupun penyakit.
“Atas pertimbangan itu, kami wajib menerapkan SOP penerimaan warga binaan dengan melakukan skrining kesehatan,” tuturnya.
Hal senada disampaikan dokter Yani yang bertugas melakukan pemeriksaan. Ia menjelaskan tes kesehatan bagi warga binaan yang baru dipindahkan ke Lapas Kelas IIA Pekanbaru bertujuan mendeteksi adanya tanda-tanda penyakit seperti TB, Hepatitis C-HIV, gangguan kejiwaan, maupun penyakit lainnya.
Yani menambahkan, usai pemeriksaan kesehatan seluruh warga binaan yang baru masuk juga diberikan pengarahan dan sosialisasi oleh tim tenaga kesehatan Lapas Pekanbaru. Materi yang disampaikan antara lain pentingnya menjaga kebersihan, menerapkan perilaku hidup sehat, serta melaporkan keluhan kesehatan kepada petugas jaga atau komandan jaga agar dapat segera ditangani oleh petugas kesehatan.
“Kami juga memiliki kader kesehatan dari warga binaan yang telah dididik dan mendapatkan pelatihan terkait penanganan kesehatan serta pemberian pertolongan pertama,” pungkasnya. ***
