Sejarah Kesetiaan, Pengorbanan, dan Nasionalisme Sultan Siak Sri Indrapura
Sumpah Sultan Syarif Kasim II: Ketika Takhta Kesultanan Siak Dipersembahkan untuk RI
- Jumat, 30 Oktober 2026 - 15:00 WIB
Tengku Iskandar MPd.
Oleh: Tengku Iskandar MPd
Duta Literasi Pena Da’i Nusantara Provinsi Sumatera Barat asal Selat Panjang, Kabupaten Kepulauan Meranti-Riau
Pendahuluan
Ada sebuah pelajaran besar dari sejarah Melayu Riau yang patut terus dikenang oleh generasi bangsa: seorang raja tidak selamanya harus mempertahankan takhta untuk membuktikan kebesarannya. Terkadang, kebesaran seorang pemimpin justru terlihat ketika ia bersedia melepaskan kekuasaan demi kepentingan rakyat dan masa depan bangsanya.
Sejarah itu tercermin dalam perjalanan hidup Sultan Syarif Kasim II, Sultan ke-12 Kesultanan Siak Sri Indrapura. Beliau bukan sekadar seorang penguasa kerajaan Melayu, melainkan juga seorang tokoh nasionalis yang memilih berdiri bersama Republik Indonesia (RI) setelah Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945.
Ketika banyak wilayah masih berjuang menentukan sikap terhadap pemerintahan baru Republik Indonesia, Sultan Syarif Kasim II menyatakan kesetiaan kepada pemerintah Republik. Sikap tersebut bukan hanya pernyataan politik, melainkan juga keputusan besar yang memiliki konsekuensi terhadap kedudukan, kekuasaan, dan kekayaan kesultanannya.
Inilah makna yang dapat kita renungkan dari sumpah kesetiaan Sultan Siak: lebih baik kehilangan takhta daripada kehilangan kehormatan dalam membela kemerdekaan bangsa.
Catatan sejarah perlu menjelaskan bahwa istilah sumpah dalam judul ini merujuk pada ikrar dan pernyataan kesetiaan Sultan bersama rakyat Siak, bukan berarti seluruh pernyataan tersebut merupakan satu naskah sumpah resmi dengan redaksi yang sama.
1. Sultan Syarif Kasim II dan Kesultanan Siak
Sultan Syarif Kasim II memerintah Kesultanan Siak Sri Indrapura sejak 1915 hingga 1945 sebagai penguasa kesultanan. Beliau lahir pada 1 Desember 1893 dan wafat pada 23 April 1968.
Kesultanan Siak merupakan salah satu kerajaan Melayu yang memiliki pengaruh penting di kawasan Sumatera bagian timur. Kekuatannya tidak hanya bersumber dari pemerintahan kerajaan, tetapi juga perdagangan, hubungan diplomatik, pendidikan, dan kebudayaan Melayu-Islam.
Sultan Syarif Kasim II dikenal memiliki perhatian terhadap pendidikan. Pada masa pemerintahannya berkembang lembaga pendidikan umum dan agama, termasuk Sultanah Latifah School dan Madrasah Taufiqiyah.
Pendidikan menjadi salah satu jalan untuk membangun masyarakat yang berpengetahuan dan memiliki kesadaran kebangsaan.
Penelitian Siti Zaqiah dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (2024) menguraikan peran Sultan Syarif Kasim II sebagai Sultan Republiken, termasuk keterlibatannya dalam mendukung perjuangan kemerdekaan, membangun pendidikan, dan membantu pembentukan organisasi perjuangan di Siak.[1]
2. Ikrar Kesetiaan kepada Republik Indonesia
Ketika berita Proklamasi Kemerdekaan Indonesia sampai ke Siak, Sultan Syarif Kasim II mengambil sikap yang menentukan arah sejarah kesultanannya.
Beliau menyatakan dukungan dan kesetiaan kepada pemerintahan Republik Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta.
Pada Oktober 1945, Sultan mengadakan rapat umum di lingkungan istana. Bendera Merah Putih dikibarkan sebagai lambang kemerdekaan dan persatuan bangsa.
Dalam kesempatan tersebut, Sultan bersama rakyat Siak menyatakan ikrar untuk sehidup semati mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia.
Ikrar itu memiliki makna yang sangat dalam. Sultan tidak hanya berbicara atas nama dirinya sendiri, tetapi juga mengajak rakyat Siak untuk mengambil bagian dalam mempertahankan negara yang baru saja memproklamasikan kemerdekaannya.
Sebuah penelitian sejarah dalam jurnal Yupa: Historical Studies Journal mencatat bahwa pada November 1945 Sultan mengirimkan telegram kepada Presiden Republik Indonesia yang menyatakan kesetiaan kepada pemerintah RI dan berdiri di belakang Soekarno-Hatta.[2]
Di sinilah terlihat bahwa kesetiaan Sultan bukan sekadar ucapan seremonial. Ia diwujudkan melalui tindakan politik dan pengorbanan nyata.
3. Telegram 28 November 1945: Pernyataan yang Menggetarkan Sejarah
![Sultan Syarif Kasim II: Pejuang Kemerdekaan dan Pahlawan Nasiona
Salah satu peristiwa penting dalam sejarah perjuangan Sultan Syarif Kasim II adalah telegram yang dikirimkan kepada Presiden Soekarno pada 28 November 1945.
Melalui telegram tersebut, Sultan menyatakan dukungan terhadap Republik Indonesia dan kesediaan memberikan bantuan keuangan sebesar 13 juta gulden untuk perjuangan republik.
Informasi mengenai telegram dan sumbangan tersebut dicatat oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Riau dalam publikasi arsipnya pada 20 Maret 2025.[3]
Bayangkan, sebuah kesultanan yang memiliki kekayaan, tanah, istana, dan simbol kebesaran kerajaan bersedia memberikan dukungan besar kepada negara yang baru lahir.
Sultan memahami bahwa kemerdekaan bukan sekadar mengganti bendera atau mengganti pemerintahan. Kemerdekaan harus dipertahankan dengan pengorbanan, persatuan, dan keberanian.
Sumbangan tersebut menjadi bukti bahwa Sultan Siak tidak menempatkan kekayaan kerajaan di atas kepentingan bangsa.
Namun, angka sumbangan dan tahapan penyerahan kekayaan perlu dibaca secara cermat karena sejumlah sumber sejarah menyebut angka dan waktu penyerahan yang berbeda. Karena itu, dokumen arsip primer tetap menjadi rujukan utama.
4. Menyerahkan Mahkota, Istana, dan Kekuasaan
Menyusuri Keindahan Istana Siak, Warisan Bersejarah di Tanah Melayu
Tak Banyak yang Tahu, Begini Penampakan Asli Mahkota Sultan Siak Sri Indrapura di Museum Nasional Jakarta.
Salah satu simbol paling mengesankan dari keputusan Sultan Syarif Kasim II adalah penyerahan simbol kebesaran kesultanan kepada Republik Indonesia.
Mahkota Siak bukan sekadar perhiasan kerajaan. Mahkota merupakan lambang legitimasi, martabat, dan kewibawaan seorang sultan.
Menurut Museum Nasional Indonesia, penyerahan mahkota pada 1945 merupakan simbol tekad Kesultanan Siak untuk menyatukan diri dengan Republik Indonesia. Mahkota tersebut kini menjadi koleksi Museum Nasional dan telah ditetapkan sebagai cagar budaya peringkat nasional.[4]
Sultan juga menyerahkan kekuasaan dan berbagai kekayaan kesultanan untuk kepentingan republik.
Istana Asserayah Hasyimiyah, yang dahulu menjadi pusat pemerintahan Kesultanan Siak, kemudian digunakan untuk kepentingan pemerintahan Republik Indonesia.
Peristiwa ini menunjukkan bahwa Sultan tidak menjadikan kekuasaan turun-temurun sebagai sesuatu yang harus dipertahankan dengan segala cara. Beliau memilih jalan persatuan nasional.
Ada pesan sejarah yang sangat kuat di sini: mahkota boleh dilepaskan, tetapi kehormatan tidak boleh dijual; kekuasaan boleh berakhir, tetapi pengabdian kepada bangsa harus terus hidup.
5. Tidak Takut Kehilangan Kedudukan
Keputusan Sultan Syarif Kasim II tentu bukan keputusan sederhana. Sebagai seorang sultan, beliau memiliki kedudukan politik, kekayaan, dan kewibawaan yang diwariskan oleh sejarah panjang Kesultanan Siak.
Bergabung dengan Republik Indonesia berarti menerima perubahan besar dalam sistem pemerintahan. Beliau tidak lagi menempatkan dirinya sebagai penguasa sebuah kerajaan yang berdiri sendiri, tetapi sebagai bagian dari bangsa Indonesia.
Sikap tersebut juga memiliki risiko. Dukungan kepada Republik Indonesia menyebabkan Sultan menghadapi tekanan dari kekuatan kolonial yang ingin kembali menguasai Indonesia.
Dalam perkembangan revolusi, Sultan meninggalkan Siak dan menuju wilayah Republik yang lebih aman. Beliau kemudian berada di Aceh dan terus memberikan dukungan kepada perjuangan Indonesia.
Kajian sejarah tentang Siak pada masa Revolusi 1945–1949 menjelaskan bahwa dukungan Sultan tidak berhenti pada telegram. Beliau turut mendorong pembentukan Komite Nasional Indonesia, Tentara Keamanan Rakyat, serta Barisan Pemuda Republik di Siak.[2]
Dengan demikian, perjuangan Sultan tidak hanya berupa pengorbanan materi, tetapi juga dukungan kelembagaan dan penguatan semangat rakyat.
6. Perspektif Al-Qur'an: Menepati Janji dan Menjaga Amanah
Pengorbanan Sultan Syarif Kasim II dapat direnungkan melalui nilai-nilai Al-Qur'an tentang kesetiaan, amanah, dan tanggung jawab.
Allah SWT berfirman:
??? ???????? ????????? ??????? ???????? ????????????
"Wahai orang-orang yang beriman! Penuhilah janji-janji."
(QS. Al-Ma'idah [5]: 1).
Ayat ini mengajarkan bahwa janji bukanlah perkataan yang boleh diucapkan kemudian dilupakan. Janji memiliki tanggung jawab moral dan konsekuensi.
Dalam konteks sejarah Sultan Siak, ikrar kesetiaan kepada Republik dapat menjadi pelajaran mengenai pentingnya konsistensi antara perkataan dan perbuatan.
Allah juga berfirman:
????? ??????? ???????????? ???? ????????? ????????????? ?????? ?????????
"Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya."
(QS. An-Nisa' [4]: 58).
Kepemimpinan adalah amanah. Kekuasaan bukan semata-mata fasilitas untuk menikmati kehormatan, melainkan tanggung jawab untuk menjaga kepentingan masyarakat.
Seorang pemimpin harus berani mengambil keputusan yang benar sekalipun keputusan itu menuntut pengorbanan pribadi.
Rasulullah SAW juga bersabda:
????????? ????? ??????????? ????????? ???? ???????????
"Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya."
(HR. Bukhari dan Muslim).[5]
Hadis ini mengingatkan bahwa seorang pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban bukan hanya atas kekuasaan yang dimilikinya, tetapi juga atas nasib orang-orang yang dipimpinnya.
Sultan Syarif Kasim II memberikan contoh sejarah bahwa kepemimpinan dapat diwujudkan melalui keberanian mengambil keputusan demi kepentingan yang lebih luas.
7. Siak dan Pelajaran Nasionalisme bagi Generasi Melayu
Sejarah Sultan Syarif Kasim II tidak boleh berhenti sebagai cerita yang hanya dibacakan ketika peringatan hari kemerdekaan.
Generasi muda Riau, khususnya masyarakat Siak, perlu memahami bahwa kemerdekaan Indonesia juga memiliki jejak pengorbanan para pemimpin Melayu.
Siak bukan sekadar wilayah yang memiliki istana megah, sungai bersejarah, dan peninggalan kebudayaan. Siak juga merupakan bagian dari sejarah integrasi bangsa Indonesia.
Ada Tiga Pelajaran Penting dari Perjalanan Sultan Syarif Kasim II
Pertama, kebesaran pemimpin diukur dari pengabdiannya. Jabatan dan kekuasaan tidak boleh menjadi tujuan akhir kepemimpinan.
Kedua, persatuan membutuhkan pengorbanan. Sultan bersedia memberikan kekayaan dan simbol kebesaran kesultanan untuk mendukung perjuangan Republik Indonesia.
Ketiga, sejarah harus diwariskan melalui pendidikan. Generasi muda harus mengenal tokoh-tokoh daerah yang memiliki kontribusi besar terhadap kemerdekaan Indonesia.
Karena itu, sejarah Sultan Syarif Kasim II layak menjadi materi pendidikan sejarah lokal, kajian kebudayaan Melayu, dan literasi kebangsaan di sekolah-sekolah Riau.
Penutup: Mahkota Boleh Berpindah, Marwah Tetap Abadi
Sultan Syarif Kasim II telah memberikan pelajaran yang sangat berharga kepada bangsa Indonesia. Beliau menunjukkan bahwa seorang pemimpin tidak harus mempertahankan kekuasaan demi kepentingan pribadi. Ada saatnya seorang pemimpin harus berani melepaskan simbol kebesaran dirinya demi cita-cita yang lebih besar.
Ketika mahkota Kesultanan Siak diserahkan kepada Republik Indonesia, yang berpindah bukan sekadar benda berharga. Peristiwa tersebut menjadi lambang perubahan sejarah, dari pemerintahan kesultanan menuju kehidupan bernegara dalam Republik Indonesia.
Sultan Syarif Kasim II telah wafat pada 23 April 1968. Namun, pengorbanannya tetap menjadi bagian penting dari ingatan kolektif bangsa.
Kita patut bertanya kepada generasi hari ini: jika dahulu Sultan Siak bersedia mengorbankan mahkota dan kekayaannya untuk kemerdekaan, apa yang sudah kita korbankan untuk menjaga persatuan, keadilan, dan kemajuan negeri?
Jangan sampai generasi sekarang hanya menikmati hasil perjuangan para pendahulu tanpa mengenal sejarah pengorbanannya.
Sultan Syarif Kasim II telah memberikan mahkotanya kepada Republik. Kini tugas generasi penerus adalah menjaga kehormatan, persatuan, dan kemerdekaan Indonesia.
Sejarah boleh berlalu, tetapi marwah perjuangan tidak boleh hilang ditelan zaman.
Catatan kaki
* Siti Zaqiah, Peran Sultan Syarif Kasim II sebagai Sultan Republiken dalam Mendukung Perjuangan Republik Indonesia (1915–1968) (Jakarta: Fakultas Adab dan Humaniora, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2024).
* “Siak Masa Revolusi Tahun 1945–1949,” Yupa: Historical Studies Journal 4, no. 1 (2020): 40–49.
* Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Riau, “Surat Pernyataan Penyerahan Harta Sultan Siak pada Pemerintahan RI,” 20 Maret 2025.
* Ujang Mulyadi, “Mahkota Siak Bukti Penyatuan Kekuasaan Kesultanan Siak Sri Indrapura kepada Republik Indonesia,” Museum Nasional Indonesia, 6 Mei 2021.
* Muhammad ibn Ismail al-Bukhari, Sahih al-Bukhari, Kitab al-Ahkam; Muslim ibn al-Hajjaj, Sahih Muslim, Kitab al-Imarah.
Daftar pustaka
* Al-Bukhari, Muhammad ibn Ismail. Sahih al-Bukhari. Beirut: Dar Ibn Kathir.
* Al-Qur'an al-Karim.
* Muslim ibn al-Hajjaj. Sahih Muslim. Beirut: Dar Ihya' al-Turath al-'Arabi.
* Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Riau. “Surat Pernyataan Penyerahan Harta Sultan Siak pada Pemerintahan RI.” 2025.
* Mulyadi, Ujang. “Mahkota Siak Bukti Penyatuan Kekuasaan Kesultanan Siak Sri Indrapura kepada Republik Indonesia.” Museum Nasional Indonesia, 2021.
* Zaqiah, Siti. Peran Sultan Syarif Kasim II sebagai Sultan Republiken dalam Mendukung Perjuangan Republik Indonesia (1915–1968). UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2024.
* “Siak Masa Revolusi Tahun 1945–1949.” Yupa: Historical Studies Journal 4, no. 1 (2020): 40–49.
Sumber sejarah untuk penelusuran lebih lanjut
* [Arsip Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Riau – Surat Penyerahan Harta Sultan Siak](https://dipersip.riau.go.id/post/photo-surat-pernyataan-penyerahan-harta-sultan-siak-pada-pemerintahan-ri?utm_source=chatgpt.com).
* [Museum Nasional Indonesia – Mahkota Siak dan penyatuan dengan Republik Indonesia](https://www.museumnasional.or.id/3769/?utm_source=chatgpt.com).
* [Penelitian UIN Jakarta – Sultan Syarif Kasim II sebagai Sultan Republiken](https://repository.uinjkt.ac.id/dspace/handle/123456789/82022?utm_source=chatgpt.com).
* [Jurnal Yupa – Siak Masa Revolusi 1945–1949](https://download.garuda.kemdikbud.go.id/article.php?article=1814261&title=Siak+Masa+Revolusi+tahun+1945-1949&val=10672&utm_source=chatgpt.com).
* [Arsip Nasional Republik Indonesia – Citra Daerah Siak](https://anri.go.id/publikasi/berita/kado-dua-dasawarsa-untuk-siak-kota-istana?utm_source=chatgpt.com).
Catatan penguatan naskah: Untuk menjadikan artikel ini benar-benar kuat secara historiografis, perlu ditelusuri naskah asli telegram 28 November 1945, teks ikrar Sultan bersama rakyat Siak pada Oktober 1945, serta dokumen resmi penyerahan kekuasaan. Dengan demikian, pembaca dapat membedakan antara sumpah atau ikrar, pernyataan politik, dan penyerahan aset kesultanan. ***

