'Tangan Besi' PHR, Langkah Asa Pejinak Lele Gading Sari Semakin Mandiri

  • Jumat, 30 Oktober 2026 - 08:08 WIB

Kehadiran 'tangan besi' otomatis dari PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) Zona Rokan
bukan hanya sekadar urusan efisiensi waktu, tapi juga bikin kantong aman. Bagi para pejuang air tawar, presisi lontaran pakan mampu memangkas pemborosan pelet hingga 70 persen. 

Disaat harga pakan pabrikan bikin sesak napas dan hampir mati, pakan buatan sendiri solusi asa baru agar tetap eksis bagi kalangan Kelompok Mekar Mulia. Karena selisih angka tersebut adalah napas lega untuk menjaga keberlangsungan dapur mereka tetap berasap.

Honda Juni 4

Ketua Kelompok Perikanan Mekar Mulia Desa Gading Sari, Kecamatan Tapung Kabupaten, Kampar Provinsi Riau, Sugiharto, menjelaskan bagaimana tangan besi dari PT PHR berproduksi mencetak pakan palet.


Pertengahan tahun 2026, datanglah dua unit mesin pakan palet kapasitas 100 kilogram (Kg) per jam. Dukungan ini dari CSR perusahaan PHR, bagi pihaknya bantuan mesin pakan palet merupakan napas baru agar tetap eksis di dunia penyelam dolar hitam. 

Masing-masing mesin memiliki tugas yang berbeda, mesin satu untuk menghancurkan sedangkan satu mesin lagi untuk mencetak pelet. Sugiharto bersama rekan Kelompok Gading Sari dan pihak PHR, serta awak media berkesempatan menyaksikan pejinak lele panen yang juga memproduksi pakan mandiri menggunakan tangan besi dari PHR. 

Usai berdialog media langsung menuju ke gubuk tua, terlihat dua mesin berwarna merah yang siap dioperasikan.


Nguuuung.... Nguuuung, mesin pencetak  pakan pelet itu bangun dulu, gruk gruk gruk ikan asin yang sudah dihancurkan, tepung kanji, daun singkong dan ampas tahu dihajar sampai lumat.

Puncaknya, cret cret crettt, butiran coklat memuntahkan diri ke terpal. Tik tik., 40 menit kemudian 60 kg pakan jadi. ''Ini jantung produksi kami sekarang, bantuan mesin pakan palet dari PHR sangat bermanfaat sekali," kata Sugiharto, Kamis (3/9/2026) silam sembari memasukkan bahan pakan palet ke mesin.

Sugiharto mengaku dengan kehadiran tangan besi dari PHR ini bisa menekan biaya sampai 70 persen, tentunya hasil ini membuat Kelompok Mekar Mulia semakin kokoh di dunia pejinak lele.

Efek bantuan dari PHR sangat terasa manfaatnya, selain diberi bibit sebanyak 30 ribu bibit ikan lele, perusahaan minyak milik negara itu juga memberikan bantuan bahan pakan sebanyak 500 Kg. Bantuan ini membuat Sugiarto dan anggota kelompoknya semakin senyum bahagia. 

Selama menjabat sebagai Navigator Birokrasi dan Penjaga Aset di Desa Gading Sari, dirinya merasa bahagia sekali jika menceritakan tentang bantuan PHR tersebut. Kenapa tidak, kehadiran perusahaan ke tempat dia berteduh mendatangkan asa yang tidak kunjung padam. Bantuan PHR serasa raga yang hilang kini kembali lagi ke pangkuan bumi pertiwi. 

"Selama saya menjabat, baru kali inilah perusahaan membantu kami sampai tuntas, mulai dari bibit, bahan pakan serta mesin pakan,'' ujarnya sambil senyum semringah. 

Kini, Kelompok Mekar Mulia Gading Sari bernapas lega. Ia tidak memikirkan harga pakan tinggi lagi di pasaran. Dia juga bisa mandiri dan mencetak pakan sendiri.

"Setiap hari (50 kolam, red), kami memberikan makan ikan lele berupa pelet sekitar 60 Kg, pagi 30 Kg dan sore 30 Kg," ujarnya. 

Kolam Emas Kumis di Kebun Sawit Banjir Cuan

Keberadaan kolam Emas Kumis di areal kebun sawit ternyata bisa banjir cuan, di samping emas hijau bisa dipanen, ternyata juga bisa ditumpang sarikan. Beginilah dilakukan Sugiarto beserta 10 orang Kelompok Mekar Mulia Desa Gading Sari. Ia memanfaatkan lahan setengah hektare untuk menjinak lele.

Berawal dari 5 kolam terpal, kini sudah menjadi 50 kolam, baik dari kolam terpal, kolam tanah serta kolam yang dicetak dari semen. Angka tersebut tentunya menggeliat luar biasa, hanya 10 orang bisa menjadikan lahan emas hijau ditumpang sarikan dengan budidaya lele. Kini, ada puluhan warga Gading Sari menaruh nasib ke pejinak lele tersebut.

Siang itu, air kolam keruh berwarna hijau kecokelatan itu mendadak "bergolak" begitu air dikuras untuk panen perdana. Terlihat Sugiharto mengarahkan rekannya yang memakai kaos berkerah untuk menarik jaring agar segera mungkin dipanen. 

Hari itu, bukan hari biasa bagi Kelompok Mekar Mulia. Karena hari itu panen perdana pasca perusahaan minyak negara memberikan bantuan mesin, bahan pakan dan bibit ikan lele.

Sejak menyedot air kolam sedikit demi sedikit, saat permukaan air menyusut, kesibukan sesungguhnya akan dimulai. Terlihat Sugiarto bersama rekannya mengambil tangguk. 

Dengan gerakan terampil yang sudah terlatih berbilang tahun, mereka menyusuri sudut-sudut kolam. Sirip-sirip tajam dan kibatan ekor lele mulai memecah ketenangan air. Ribuan kumis hitam menyembul, menciptakan riak bergemuruh yang riuh.

Bau amis khas air kolam menyengat hidung, tetapi justru aroma itulah yang dinanti-nanti setelah tiga bulan penuh. Mulai dari memberi pakan secara berkala, menjaga kadar PH air, hingga ketar-ketir menghadapi cuaca ekstrem yang tak menentu.

Begitu jaring terangkat, pemandangan memukau tersaji. Ribuan lele konsumsi berukuran seragam sekitar 8 hingga 10 ekor per kilogram mengeliat berkilauan diterpa sinar matahari  yang mulai menembus dedaunan. 

Warna abu-abu kehitaman tubuh mereka memantulkan cahaya bagai tumpukan perak hidup yang melimpah.

Proses berikutnya tak kalah cepat. Dari dalam jaring, lele-lele dipindahkan ke ember keranjang bertoreh lubang untuk disortir. Tangan-tangan cekatan memilih dan memisahkan ukuran sesuai pesanan pasar.

Namun, panen perdana ini diperkirakan mencapai setengah ton sudah memiliki pasaran tersendiri, bukan hanya untuk masyarakat, tapi untuk lauk pauk program Makan Bergizi Gratis (MBG).

"Panen perdana ini, diperkirakan mencapai 500 Kg, ini sudah ada yang pesan untuk MBG," kata Sugiharto.

Kehadiran dapur MBG di Desa Gading Sari merupakan asa baru untuk kehidupan masyarakatnya. ''Berapun ada lele, mereka ambil semuanya, bapak Hardi (mitra MBG) juga memberikan dana segar kepada kami. Kami juga mempekerjakan warga lokal untuk bersihkan lele maupun packingnya," ujar Sugiharto dengan nada semangat 

Dirinya juga sebagai harapan masyarakat lain, apalagi buat kalangan ibu-ibu. Jika panen lele, Sugiharto mempekerjakan 8 orang masyarakat dengan upah menggiurkan sebesar Rp100.000.

''Untuk bagian membersihkan lele dan packing, kemudian lele itu dikirim ke dapur MBG," ujarnya lagi.

Di kolam lain, ribuan lele bersahut-sahutan pertanda memunculkan kegagahan dari emas kumis dan menciptakan cipratan air dan suara gemericik yang riuh. Di balik riak air yang intens itu, ada cerita tentang ketangguhan, efisiensi, dan pundi-pundi rupiah yang terus mengalir dari salah satu komoditas perikanan paling populer di Indonesia.

Budidaya ikan lele bukan lagi sekadar usaha sampingan pemanfaat lahan pekarangan. Bagi banyak peternak, kumis tipis ikan ini adalah penghidupan utama. 

Sifatnya yang sangat adaptif, mampu bertahan hidup di lingkungan minim oksigen menjadikan lele sebagai "raja" budidaya air tawar yang relatif tahan banting dibandingkan jenis ikan lainnya.

"Kalau kolam tanah cepat panen bang, paling lama sekitar dua setengah bulan lah, tapi kalau terpal sekitar 3 bulan. Budidaya lele pada berbagai model kolam dengan pemanfaatan eceng gondok sebagai peneduh alami," jelas Sugiharto. 

Sugiharto juga menceritakan bagaimana menaruh asa dengan pejinak lele, bukan mudah. Ia mulai mengajukan pinjaman dana sebesar Rp100.000.000 agar kelompoknya tetap bertahan di tengah gempuran ekonomi yang sulit.

Budidaya emas kumis mulai menjanjikan. Dalam seminggu kelompok tersebut bisa menjual per ton lele segar kepada dapur MBG.

"Bersih sekitar 12 juta, itu sudah dipotang beban, bayar pinjaman bank, duit pakan, buat kolam dan biaya lainnya,'' tuturnya. 

Sugiharto mengakui semenjak menjadi pejinak lele warga maupun kelompok Mekar Mulia mengalami peningkatan ekonomi yang luar biasa.

Sekretaris Gading Sari itu menceritakan bagaimana dia menjinak lele hingga panen cepat dan berujung cuan. Ia menyebutkan pejinak lele diperlukan manajemen air dan pakan yang tepat.

Selain itu, persiapan media dan kolam 
kunci utama keberhasilan budidaya lele ada pada kualitas airnya. Lele adalah ikan yang sangat tangguh, namun air yang terlalu kotor bisa memicu penyakit.

Jenis kolam,  bisa menggunakan kolam terpal, kolam semen, atau kolam tanah. Sedangkan pengisian air terlebih dahulu harus diendapkan selama 3-7 hari sebelum benih ditebar. Berikan pupuk organik (seperti kotoran ayam yang di masukkan karung) atau probiotik air untuk menumbuhkan pakan alami (plankton).

Tidak hanya itu, ketinggian air juga menjadi bagian terpenting dalam menjinak emas kumis ini. Awal tebar, sekitar 20-30 cm (agar benih mudah mengambil oksigen ke permukaan).

Semakin besar ikan, tambahkan ketinggian air secara bertahap hingga mencapai 80-100 cm untuk menjaga suhu air tetap stabil.

Usai itu, penebaran benih yang baik ukuran harus seragam (minimal 5-7 cm) agar tidak terjadi kanibalisme (lele besar memakan lele kecil).

Adaptasi (Aklimatisasi) jangan langsung memasukkan benih ke kolam. Apungkan wadah atau plastik berisi benih di permukaan air kolam selama 15-30 menit agar suhu air di dalam plastik sama dengan suhu kolam, lalu biarkan benih keluar sendiri.

Padat tebar benih, jangan terlalu padat. Untuk kolam terpal ukuran 1x2 meter, idealnya diisi sekitar 100-150 ekor agar pertumbuhan optimal. 

Perihal Pemberian Pakan (Feeding Management)

Pakan memegang porsi terbesar dalam biaya operasional budidaya lele. Jenis pakan, gunakan pelet khusus ikan lele dengan kandungan protein tinggi. Sesuaikan ukuran pelet (ukuran butiran/nomor) dengan bukaan mulut lele seiring pertumbuhannya. Beri makan 3-4 kali sehari (misalnya pagi, siang, sore, dan malam hari).

Selanjutnya, beri makan secukupnya (jangan sampai berlebihan/overfeeding). Pakan yang tersisa dan mengendap di dasar kolam akan membusuk, merusak kualitas air, dan memicu amonia tinggi yang beracun bagi ikan.

Pengelolaan dan pergantian air sistem bioflok atau pergantian rutin, jika air mulai berbau busuk, berubah warna menjadi pekat, atau lele sering terlihat menggantung di permukaan (megap-megap mencari oksigen), itu tanda air sudah buruk.

Pergantian air untuk pejinak lele menjadi hal yang terpenting, lakukan pergantian air secara berkala (misal 20-30 persen air dibuang dan ditambah air baru setiap beberapa hari sekali), atau gunakan probiotik khusus pengurai sisa pakan untuk memperpanjang usia pakai air kolam.

Jika terjadi penyakit pada lele seperti serangan jamur, bakteri, atau perut kembung akibat kualitas air yang buruk. Maka, lakukan karantina, pisahkan segera lele yang terlihat sakit atau cacat agar tidak menular. Jaga kebersihan kolam, jangan memberi makan berlebihan, dan pastikan kepadatan kolam ideal.

Dapur MBG Gading Sari Angkat Derajat Pejinak Lele

Di sekeliling rumah Sugiarto tidak hanya dikelilingi pelepah sawit, tapi terdapat 50 kolam berbagai jenis ukuran dan model. Menariknya 50 kolam itu, menjadi komoditas baru bagi masyarakat Gading Sari untuk menghasil cuan yang sangat menggiurkan.  

Di bawah naungan Kelompok Mekar Mulia dipimpin oleh Sugiharto, kolompok ini sudah manampak tajinya bagi desa lain di Kecamatan Tapung, Kabupaten Kampar, Riau. 

Gemercik air kolam kini terdengar seperti irama harapan baru. Sugiharto beserta 10 Kelompok Mekar Mulia, tak lagi pusing memikirkan ke mana harus menjual puluhan ribu ekor lelenya saat panen raya tiba. 

Sejak program MBG berjalan dan membuka dapur komunitas di wilayahnya, permintaan pasokan ikan kumis ini melonjak drastis. Bagi para pembudidaya lele, kehadiran Dapur MBG bukan sekadar pembeli baru, melainkan angin segar yang mengubah peta ekonomi lokal.

Kini Desa Gading Sari menjadi percontohan buat desa lain dalam memasarkan produk emas kumis ini. Setiap bulan pihak dapur menampung sekitar 2,6 ton ikan lele segar untuk dibagikan kepada ribuan pemanfaat di Kecamatan Tapung, termasuk di Desa Gading Sari.

Hardi Purwanto selaku perwakilan pihak Yayasan Bakti Rumah Peduli Jateng, membenarkan bahwa dirinya memberi peluang bagi masyarakat Gading Sari, tidak hanya peluang, suntikan stimulan agar Kelompok Mekar Mulia tetap eksis di pasaran.

"Kalau hitungan sekali masak ikan lele untuk mencapai 350 Kg terbagi jadi 2 porsi, yaitu porsi kecil dan besar. Kalau porsi besar itu 1 Kg lele sekitar 7 sampai 8 ekor lele, sedangkan kalau porsi kecil untuk anak TK sampai kelas 4 SD itu lelenya 1 Kg 9 sampai 10 ekor. Itu tergantung sesuai kebutuhan,'' terang Hardi Purwanto. 

Maka, lanjut Hardi yang merupakan masyarakat yang tinggal di sana hampir 35 tahun lebih itu menyesuaikan kebutuhan lelenya ada berapa Kg. ''Makanya, kita sesuai rancangan menu, berapa kilogram lele dipanen kita sesuai rancangan menu yang ada. Kalau satu bulan, kita perkirakan sekitar 2,6 ton kebutuhan lele yang sudah dikelola. Jadi berapapun lele dipanen kita tampung semua,'' ujarnya. 

Selain di Kecamatan Tapung memiliki satu dapur, tapi di Kabupaten Kampar ada 5 dapur lagi di bawah naungan putra Jateng itu.

Hardi mengucapkan terima kasih kepada Pertamina karena sudah mendukung penuh Kelompok Mekar Mulia. Pertamina bersama Mitra MBG sudah mendukungan komunikasi  bagaimana sama-sama mendukung nilai perekonomian, serta menjadi poros terdepan dalam mensejahterahkan masyarakat tempatan. 

"Sekarang pejinak lele Mekar Mulia jadi komoditi baru dan sebagai pilot projek  untuk desa lain. Karena dinilai mampu memberikan kontribusi nyata untuk masyarakat,'' ujar Hardi lagi.

Terkait yang disampaikan oleh Sugiharto pinjaman dana segar, Hardi membenarkan itu. Dia yakin kolompok tersebut akan menjadi kelompok mandiri dan mampu bertahan di tengah efisiensi anggaran dari pemerintah. Jadi, kolompok ini hadir untuk mensejahterahkan masyarakat sekitar.

Semakin Mandiri Berkat Bimbingan PHR  dalam Mengawal Asa Pejinak Lele Gading Sari 

PT PHR berhasil menitiskan sesuatu yang lebih penting dari pelepah sawit, rasa percaya diri bahwa orang di balik layar bisa menciptakan lapangan kerja sendiri menjadi pejinak lele di Desa Gading Sari. 

Pengembangan pejinak lele di Gading Sari bukan suatu hal mudah, lantaran tekstur tanah mempengaruhi kualitas air, kalau tidak pas tentu akan menimbulkan petaka.

Kini Sugiharto bersama 10 orang kelompoknya berhasil menciptakan 50 kolam berbagai bentuk, pencapaian ini tidak terlepas dari dukungan PHR.

Bagi warga, kedatangan PHR bukan hanya tentang deretan paket bantuan yang mereka bawa pulang. Kehadiran mereka menghadirkan rasa dianggap dan dipedulikan. 

Ada percakapan hangat yang terjalin, tawa ringan yang terlepas, serta doa-doa tulus yang saling diucapkan di sela-sela penyerahan bantuan. Aksi turun langsung itu menegaskan sebuah pesan penting.

Keberlanjutan usaha mereka terikat erat dengan kesejahteraan lingkungan masyarakat sekitar, saat matahari mulai bergeser, para pejinak lele bersiap kembali ke rutinitas mereka. Baju lusuh mereka mungkin tak selicin saat pagi hari dan sendal yang mereka gunakan tidak sehebat sepatu kantor. 

Namun, binar kepuasan terpancar jelas dari mata mereka. Hari itu, mereka tidak hanya sukses menjinak lele, tapi berhasil membawa pulang dua unit mesin, pakan dan bibit lele yang paling mendasar dari peternak air tawar. 
 
Kelompok Mekar Mulia Jadi Offteker Perikanan bagi Desa Lain

Kelompok Perikanan Mekar Mulia sudah menjadi Offteker bagi desa lain, kelompok ini sudah memiliki bangsa pasar dalam menjual produk emas kumisnya.

Lele yang siap panen ternyata sudah ada yang menunggu, enam dapur SPPG siap menampung berapa saja lele yang siap panen, berapapun panen, dan mereka siap tampung. 

Officer Community Involvement Development (CID) PHR Zona Roka Lidia Sari, mengatakan Kelompok Mekar Mulia merupakan kelompok mempuni Offteker perikanan, karena memiliki bangsa pasar. 

Ada empat lokasi yang budidaya ikan. Desa Pantai Cermin budidaya ikan patin dan begitu juga Desa Sumber Sari, dan Desa Indra Sakti. Sedangkan Desa Gading Sari sudah mampuni.

"Kami harap Gading Sari jadi Offteker. Apabila desa lain tidak ada pasar, Gading Sari punya pasar, mereka bisa membantu memasarkan," kata Lidia Sari.

Lidia Sari menyebutkan bantuan PHR ke Kelompok Mekar Mulia merupakan CID perusahaan atau lebih dikenal CSR.
"Kami langsung turun, berdiskusi dengan kelompok, mereka mengeluhkan mahalnya biaya pakan," jelasnya.

Setelah itu, PHR langsung memberikan asa baru, tidak hanya mesin, perusahaan milik negera itu juga memberikan bahan pakan sebanyak 500 Kg dan bibit ikan lele sebanyak 30 ribu.

"Kami bukan hanya memberikan bantuan tapi kami juga menciptakan kemandirian buat kelompok itu, begitu tidak beri bantuan mereka bisa melanjutkan usaha," ujarnya lagi.

Untuk ke depan, PHR berencana Kolompok Mekar Mulia akan dibimbing untuk proses pembibitan ikan, jadi mereka tidak perlu lagi membeli bibit ikan dari luar.

"Kami siapkan bantuan berupa pengetahuan tentang pembibitan. Bimbingan diperlukan dengan SDM berkompeten dalam pembibitan. Ini masih rencana, mudah-mudahan terlaksana tahun depan," pungkasnya. ***

 



Baca Juga

--ads--