TELUNJUK LURUS, KELINGKING BERKAIT

Ketika Penampilan Berbeda dengan Perbuatan

  • Rabu, 30 September 2026 - 07:58 WIB

Oleh: Tengku Iskandar MPd
Duta Literasi Pena Da’i Nusantara Provinsi Sumatera Barat (Padang, Indonesia) asal Selat Panjang, Kabupaten Kepulauan Meranti-Riau.

 

Honda Juni 4

Ada sebuah peribahasa Melayu yang mengandung teguran moral yang sangat dalam: “Telunjuk lurus, kelingking berkait.” Ungkapan ini menggambarkan perilaku seseorang yang secara lahiriah tampak lurus, baik, dan meyakinkan, tetapi di baliknya terdapat maksud atau tindakan yang tidak sejalan dengan penampilan dan perkataannya.


Peribahasa ini mengajak kita merenungkan satu persoalan penting dalam kehidupan sosial: apakah yang tampak di hadapan manusia benar-benar mencerminkan apa yang ada di dalam hati?

Di zaman ketika citra dapat dibangun dengan mudah, persoalan ini semakin relevan. Seseorang dapat terlihat santun di depan banyak orang, tetapi berbeda ketika tidak ada yang melihat. 

Seseorang dapat berbicara tentang kejujuran, tetapi dalam praktiknya mencari keuntungan dengan cara yang tidak benar. Ada pula yang rajin memberikan nasihat kepada orang lain, tetapi lupa memperbaiki dirinya sendiri.


Islam mengajarkan bahwa kemuliaan manusia tidak ditentukan oleh penampilan lahiriah semata. Allah memperhatikan hati dan amal.

Lurus di Luar, Berbeda di Dalam

Peribahasa “telunjuk lurus, kelingking berkait” secara sederhana mengingatkan bahwa penampilan dapat menipu. Jari telunjuk yang lurus seakan menunjukkan kelurusan, sedangkan kelingking yang berkait menyimpan gambaran sesuatu yang tersembunyi.

Dalam kehidupan sehari-hari, hal semacam ini dapat ditemukan dalam berbagai bentuk. Ada orang yang perkataannya sangat manis, tetapi tindakannya menyakiti. Ada yang mengaku mendukung seseorang, tetapi diam-diam menjatuhkannya. Ada yang berbicara tentang amanah, tetapi ketika memperoleh kesempatan justru menyalahgunakan kepercayaan.

Islam sangat memperhatikan keselarasan antara iman, ucapan, dan perbuatan.

Allah Swt. berfirman:

??? ???????? ????????? ??????? ???? ?????????? ??? ??? ??????????? ? ?????? ??????? ????? ??????? ???? ????????? ??? ??? ???????????

“Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Sangatlah besar kemurkaan di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan.”
(QS. Al-Saff [61]: 2–3).¹

Ayat tersebut memberikan peringatan keras agar perkataan tidak berjarak terlalu jauh dari perbuatan.

Bukan berarti manusia harus sempurna sebelum berbicara tentang kebaikan. Manusia tetap boleh saling menasihati sekaligus memperbaiki diri. Yang menjadi masalah adalah ketika seseorang sengaja membangun citra seolah-olah dirinya baik, sementara perbuatannya bertentangan dengan nilai yang ia ucapkan.

Kejujuran Dimulai dari Dalam Diri

Kejujuran bukan hanya berkata benar kepada orang lain. Kejujuran juga berarti berani mengakui keadaan diri sendiri.

Seseorang yang jujur kepada dirinya akan berkata, “Saya masih banyak kekurangan dan perlu belajar.” Ia tidak perlu menciptakan kesempurnaan palsu.

Rasulullah ? bersabda:

?????????? ??????????? ??????? ????????? ??????? ????? ???????? ??????? ???????? ??????? ????? ??????????

“Hendaklah kalian berlaku jujur, karena kejujuran membawa kepada kebajikan, dan kebajikan membawa ke surga.”²

Hadis ini menunjukkan bahwa kejujuran bukan sekadar etika sosial. Ia merupakan jalan menuju kebajikan dan keselamatan.

Sebaliknya, kebiasaan berdusta dapat berkembang menjadi karakter. Kebohongan yang awalnya kecil dapat menjadi kebiasaan, kemudian merusak kepercayaan orang lain.

Karena itu, orang yang ingin hidup tenang hendaknya membiasakan diri berkata benar, meskipun kebenaran itu terkadang tidak menguntungkan dirinya.

Bahaya Kemunafikan dalam Perilaku

Islam memberikan perhatian serius terhadap ketidaksesuaian antara perkataan dan perbuatan.

Rasulullah ? bersabda:

????? ???????????? ???????: ????? ??????? ??????? ??????? ?????? ????????? ??????? ????????? ?????

“Tanda orang munafik ada tiga: apabila berbicara ia berdusta, apabila berjanji ia mengingkari, dan apabila diberi amanah ia berkhianat.”³

Hadis tersebut mengingatkan tentang tiga perilaku yang merusak kehidupan sosial: kebohongan, pengingkaran janji, dan pengkhianatan amanah.

Penting dipahami bahwa hadis tentang tanda-tanda kemunafikan tidak boleh digunakan untuk sembarangan memberi vonis kepada seseorang sebagai munafik. Para ulama menjelaskan adanya perbedaan antara nifaq dalam keyakinan dan perilaku yang memiliki karakteristik kemunafikan.?

Pelajarannya adalah kita harus berhati-hati dalam berbicara tentang orang lain sekaligus serius mengevaluasi diri sendiri.

Jangan sibuk mencari “telunjuk lurus” orang lain sementara “kelingking berkait” dalam diri sendiri tidak pernah diperiksa.

Jangan Pandai Menasihati, tetapi Lupa Mengamalkan

Salah satu penyakit sosial yang sering muncul adalah mudah memberikan nasihat, tetapi sulit melaksanakannya.

Kita meminta orang lain sabar, tetapi kita sendiri mudah marah.

Kita meminta orang lain jujur, tetapi kita sendiri menyembunyikan kebenaran.

Kita mengajak orang lain menjaga lisan, tetapi kita sendiri senang membicarakan keburukan orang.

Kita mengajak orang lain bersedekah, tetapi kita sendiri berat mengeluarkan harta.

Tentu, memberikan nasihat tetap merupakan kewajiban moral yang baik. Namun, nasihat akan semakin kuat apabila disertai keteladanan.

Allah Swt. berfirman:

????????????? ???????? ?????????? ???????????? ????????????

“Mengapa kamu menyuruh orang lain mengerjakan kebajikan, sedangkan kamu melupakan dirimu sendiri?”
(QS. Al-Baqarah [2]: 44).?

Ibn Kathir menjelaskan ayat ini sebagai teguran terhadap orang yang memerintahkan kebaikan tetapi tidak mengamalkannya, meskipun perintah kepada kebaikan itu sendiri tetap merupakan sesuatu yang benar.?

Dengan demikian, ada dua tugas yang harus berjalan bersama: mengajak kepada kebaikan dan berusaha mengamalkannya.

Citra Bukanlah Akhlak

Di era media sosial, manusia mudah membangun citra. Foto, video, tulisan, dan berbagai unggahan dapat menampilkan sisi tertentu dari kehidupan seseorang.

Namun, citra digital tidak selalu identik dengan karakter.

Orang dapat terlihat sangat ramah di media sosial, tetapi belum tentu ramah kepada keluarga. Seseorang dapat sering mengutip nasihat agama, tetapi belum tentu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Karena itu, jangan mengukur kesalehan seseorang hanya dari apa yang terlihat di layar.

Allah Swt. berfirman:

????? ???????????? ?????? ??????? ???????????

“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.”
(QS. Al-Hujurat [49]: 13).?

Ukuran kemuliaan dalam Islam bukan popularitas, jumlah pengikut, kekayaan, jabatan, atau penampilan. Ukurannya adalah ketakwaan.

Buya Hamka ketika menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an banyak menekankan pentingnya membangun manusia yang memiliki integritas moral, bukan sekadar penampilan kesalehan.?

Amanah Menguji Kelurusan Seseorang

Karakter seseorang sering kali baru terlihat ketika ia mendapatkan amanah.

Ketika tidak memiliki kekuasaan, seseorang mungkin mudah berbicara tentang keadilan. Tetapi ketika memiliki kekuasaan, apakah ia tetap adil?

Ketika belum memegang harta, seseorang mungkin berbicara tentang kejujuran. Tetapi ketika mendapat kesempatan mengelola harta, apakah ia tetap amanah?

Ketika belum dipercaya, seseorang mungkin berkata bahwa dirinya siap membantu. Tetapi setelah mendapatkan tanggung jawab, apakah ia benar-benar melaksanakannya?

Rasulullah ? bersabda:

????????? ????? ??????????? ????????? ???? ???????????

“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.”?

Amanah merupakan ujian yang nyata bagi integritas.

Karena itu, jangan meminta amanah hanya karena mengejar kedudukan. Setiap amanah akan dimintai pertanggungjawaban, bukan hanya oleh manusia, tetapi juga di hadapan Allah.

Belajar Menjaga Hati

Peribahasa “telunjuk lurus, kelingking berkait” juga mengajarkan pentingnya memperhatikan penyakit hati.

Seseorang mungkin mampu mengendalikan penampilan, tetapi sulit mengendalikan iri, dengki, sombong, riya, dan keinginan mendapatkan pujian.

Karena itu, pembinaan akhlak harus dimulai dari hati.

Rasulullah ? bersabda:

????? ??????? ??? ????????? ???????? ????? ???????? ?????? ????????? ??????? ??????? ???????? ?????? ????????? ??????? ????? ?????? ?????????

“Ketahuilah, sesungguhnya di dalam tubuh terdapat segumpal daging. Jika ia baik, baiklah seluruh tubuh; jika ia rusak, rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah, itulah hati.”¹?

Hati yang baik akan memengaruhi perkataan dan tindakan. Sebaliknya, hati yang dipenuhi penyakit dapat membuat seseorang menggunakan kebaikan sebagai alat untuk memperoleh kepentingan pribadi.

Maka, memperbaiki akhlak tidak cukup dengan memperbaiki penampilan. Yang lebih utama adalah memperbaiki hati.

Jangan Cepat Menuduh Orang Lain

Namun, peribahasa ini juga harus dipahami secara bijaksana.

Jangan sampai kita menggunakan ungkapan “telunjuk lurus, kelingking berkait” untuk mencurigai semua orang.

Islam mengajarkan tabayun dan husnuzan. Allah Swt. berfirman:

??????????? ???????? ???? ???????? ????? ?????? ???????? ??????

“Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa.”
(QS. Al-Hujurat [49]: 12).¹¹

Kita tidak boleh menghakimi hati seseorang hanya berdasarkan dugaan.

Ada perbedaan antara waspada dan berprasangka buruk.

Waspada berarti berhati-hati berdasarkan tanda dan fakta yang tersedia. Prasangka buruk berarti menuduh tanpa dasar yang memadai.

Karena itu, peribahasa ini sebaiknya pertama-tama digunakan sebagai cermin untuk diri sendiri, bukan sebagai senjata untuk menuduh orang lain.

Menjadi Pribadi yang Utuh

Kehidupan membutuhkan manusia yang utuh: apa yang dikatakan sesuai dengan apa yang dilakukan.

Jika berkata jujur, maka berlaku jujur.

Jika berjanji, maka berusaha menepati.

Jika menerima amanah, maka menjaganya.

Jika menasihati orang lain, maka berusaha menerapkannya kepada diri sendiri.

Jika melakukan kesalahan, berani mengaku dan memperbaikinya.

Inilah integritas.

Integritas membuat seseorang tidak perlu terlalu sibuk membangun citra. Ia cukup menjadi dirinya sendiri dalam kebaikan, baik ketika dilihat manusia maupun ketika tidak ada seorang pun yang melihat.

Allah mengetahui apa yang tersembunyi di dalam hati.

Karena itu, ukuran terpenting bukanlah bagaimana manusia menilai kita, tetapi bagaimana Allah menilai hati dan amal kita.

Penutup

“Telunjuk lurus, kelingking berkait” adalah peribahasa yang sederhana, tetapi menyimpan pesan moral yang dalam.

Ia mengingatkan manusia agar tidak hidup dalam kepura-puraan. Jangan sampai ucapan terlihat lurus, tetapi perbuatan menyimpang. Jangan sampai wajah menampilkan kebaikan, tetapi hati menyimpan keburukan.

Namun, jangan pula menjadikan peribahasa ini sebagai alasan untuk mudah menuduh orang lain.

Jadikan ia sebagai cermin.

Sebelum bertanya apakah orang lain jujur, tanyakan kepada diri sendiri: sudahkah saya jujur?

Sebelum mempertanyakan amanah orang lain, tanyakan: sudahkah saya menjaga amanah?

Sebelum mengkritik perilaku orang lain, tanyakan: sudahkah perilaku saya sesuai dengan nasihat yang saya sampaikan?

Sebab manusia tidak membutuhkan kesalehan yang hanya terlihat di luar. Kita membutuhkan integritas: kesatuan antara hati yang baik, ucapan yang benar, dan perbuatan yang nyata.

Jangan biarkan telunjuk kita terlihat lurus sementara kelingking diam-diam berkait.

Luruskan hati, luruskan ucapan, dan luruskan perbuatan. Karena pada akhirnya, bukan citra yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah, melainkan iman, amal, dan kejujuran hati.Catatan Kaki — Chicago Notes

1. Al-Qur’an, QS. Al-Saff [61]: 2–3.


2. Muhammad ibn Isma‘il al-Bukhari, Sahih al-Bukhari, Kitab al-Adab, hadis no. 6094; Muslim ibn al-Hajjaj, Sahih Muslim, Kitab al-Birr wa al-Silah wa al-Adab, hadis no. 2607.


3. Al-Bukhari, Sahih al-Bukhari, Kitab al-Iman, hadis no. 33; Muslim, Sahih Muslim, Kitab al-Iman, hadis no. 59.


4. Yahya ibn Sharaf al-Nawawi, Al-Minhaj Sharh Sahih Muslim ibn al-Hajjaj (Beirut: Dar Ihya’ al-Turath al-‘Arabi, 1392 H), pembahasan hadis tentang tanda-tanda kemunafikan.


5. Al-Qur’an, QS. Al-Baqarah [2]: 44.


6. Isma‘il ibn ‘Umar Ibn Kathir, Tafsir al-Qur’an al-‘Azim, ed. Sami ibn Muhammad Salamah (Riyadh: Dar Taybah li al-Nashr wa al-Tawzi‘, 1999), tafsir QS. Al-Baqarah [2]: 44.


7. Al-Qur’an, QS. Al-Hujurat [49]: 13.


8. Hamka, Tafsir Al-Azhar, Jilid 9 (Singapura: Pustaka Nasional PTE LTD, 2003), tafsir QS. Al-Hujurat [49]: 13.


9. Al-Bukhari, Sahih al-Bukhari, Kitab al-Jumu‘ah, hadis no. 893; Muslim, Sahih Muslim, Kitab al-Imarah, hadis no. 1829.


10. Al-Bukhari, Sahih al-Bukhari, Kitab al-Iman, hadis no. 52; Muslim, Sahih Muslim, Kitab al-Musaqat, hadis no. 1599.


11. Al-Qur’an, QS. Al-Hujurat [49]: 12.

 

Daftar Pustaka

Al-Bukhari, Muhammad ibn Isma‘il. Sahih al-Bukhari. Beirut: Dar Tawq al-Najah, 2001.

Al-Nawawi, Yahya ibn Sharaf. Al-Minhaj Sharh Sahih Muslim ibn al-Hajjaj. Beirut: Dar Ihya’ al-Turath al-‘Arabi, 1392 H.

Al-Qur’an al-Karim.

Hamka. Tafsir Al-Azhar. Jilid 9. Singapura: Pustaka Nasional PTE LTD, 2003.

Ibn Kathir, Isma‘il ibn ‘Umar. Tafsir al-Qur’an al-‘Azim. Ed. Sami ibn Muhammad Salamah. Riyadh: Dar Taybah li al-Nashr wa al-Tawzi‘, 1999.

Muslim ibn al-Hajjaj. Sahih Muslim. Ed. Muhammad Fu’ad ‘Abd al-Baqi. Beirut: Dar Ihya’ al-Turath al-‘Arabi, t.t. ***



Baca Juga

--ads--