JAUHI SIFAT DENGKI

Menjernihkan Hati, Menjaga Ukhuwah, dan Meraih Ketenangan Jiwa

  • Selasa, 22 September 2026 - 05:46 WIB

Oleh: Tengku Iskandar MPd
Duta Literasi Pena Da’i Nusantara Provinsi Sumatera Barat (Padang, Indonesia) asal Selat Panjang, Kabupaten Meranti-Riau.

 

Honda Juni 4

Pendahuluan


Manusia tentu senang ketika mendapatkan nikmat, keberhasilan, kedudukan, kesehatan, ilmu, harta, keluarga yang harmonis, atau penghargaan dari orang lain. Namun, persoalan muncul ketika keberhasilan orang lain justru membuat hati merasa tidak nyaman. Lebih buruk lagi, muncul keinginan agar nikmat tersebut hilang dari orang yang mendapatkannya.

Inilah yang dalam ajaran Islam disebut hasad, atau dengki. Dengki merupakan penyakit hati yang sering tidak terlihat secara kasatmata. 

Seseorang dapat tersenyum di hadapan orang lain, tetapi di dalam hatinya tersimpan rasa tidak senang atas keberhasilan saudaranya. Karena tidak terlihat, penyakit ini terkadang lebih sulit diobati daripada penyakit fisik.


Islam memberikan perhatian besar terhadap kebersihan hati. Sebab, kualitas amal manusia tidak hanya ditentukan oleh apa yang tampak, tetapi juga oleh keadaan batinnya. Rasulullah ? bersabda:

«????? ??????? ??? ????????? ????????? ????? ???????? ?????? ????????? ???????? ??????? ???????? ?????? ????????? ???????? ????? ?????? ?????????»

«“Ketahuilah, sesungguhnya di dalam jasad terdapat segumpal daging. Jika ia baik, baiklah seluruh jasad; jika ia rusak, rusaklah seluruh jasad. Ketahuilah, ia adalah hati.”[^1]»

Hadis ini mengingatkan bahwa hati merupakan pusat pembentukan perilaku manusia. Jika hati dipenuhi keimanan, kasih sayang, syukur, dan keikhlasan, maka perilaku yang lahir cenderung baik. Sebaliknya, jika hati dikuasai iri, dengki, kebencian, dan kesombongan, kerusakan dapat menjalar kepada perkataan dan perbuatan.

Apa Itu Dengki?

Dengki atau hasad adalah keinginan agar nikmat yang dimiliki orang lain hilang, baik nikmat itu berpindah kepada dirinya maupun tidak.

Imam al-Nawawi menjelaskan bahwa hasad merupakan keinginan hilangnya nikmat dari orang lain. Dengan demikian, seseorang yang merasa tidak senang melihat saudaranya memperoleh kebaikan perlu berhati-hati agar perasaan tersebut tidak berkembang menjadi hasad.[^2]

Al-Qur’an secara tegas mengajarkan manusia untuk berlindung kepada Allah dari kejahatan orang yang dengki:

«????? ????? ??????? ????? ??????»

«“Dan dari kejahatan orang yang dengki apabila dia dengki.”
(QS. Al-Falaq [113]: 5)»

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ayat tersebut mengandung permohonan perlindungan kepada Allah dari keburukan orang yang memiliki hasad ketika kedengkiannya diwujudkan dalam tindakan.[^3]

Dengan demikian, dengki bukan sekadar persoalan perasaan. Jika tidak dikendalikan, ia dapat berkembang menjadi tindakan yang merugikan orang lain.

Dengki Merusak Diri Sendiri

Menariknya, orang yang paling pertama dirugikan oleh kedengkian sering kali bukan orang yang menjadi objek dengki, tetapi justru pelakunya sendiri.

Orang yang dengki sulit menikmati kehidupannya. Ketika tetangga membeli kendaraan baru, ia gelisah. Ketika temannya mendapatkan jabatan, ia kecewa. Ketika saudaranya memperoleh keberhasilan, ia mencari-cari kekurangannya. Ketika orang lain mendapatkan penghargaan, ia berusaha mengecilkan prestasinya.

Hidup akhirnya menjadi perlombaan yang melelahkan.

Ia tidak lagi bertanya, “Apa yang sudah Allah berikan kepadaku?” tetapi terus bertanya, “Mengapa dia mendapatkan lebih banyak daripada aku?”

Padahal Allah telah mengingatkan:

«????? ???????????? ??? ??????? ??????? ???? ?????????? ?????? ??????»

«“Dan janganlah kamu iri hati terhadap karunia yang telah dilebihkan Allah kepada sebagian kamu atas sebagian yang lain.”
(QS. Al-Nisa’ [4]: 32)»

Menurut al-Qurthubi, ayat ini mengajarkan agar seseorang tidak menginginkan karunia yang Allah berikan kepada orang lain dengan cara yang tercela. Setiap manusia memiliki bagian dan tanggung jawab yang berbeda dalam kehidupan.[^4]

Karena itu, obat pertama dari dengki adalah memahami bahwa Allah membagi rezeki dan kelebihan manusia dengan hikmah-Nya.

Jangan Jadikan Kehidupan Orang Lain sebagai Ukuran Kebahagiaan

Salah satu sumber dengki dalam kehidupan modern adalah kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain.

Media sosial membuat seseorang dapat melihat keberhasilan orang lain setiap hari. Kita melihat rumah yang indah, kendaraan baru, perjalanan wisata, jabatan, prestasi pendidikan, bisnis yang berkembang, bahkan kebahagiaan keluarga orang lain.

Namun, yang terlihat biasanya hanya bagian depan kehidupan. Kita tidak mengetahui seluruh perjuangan, kesulitan, hutang, kegagalan, air mata, atau ujian yang mungkin mereka alami.

Karena itu, membandingkan kehidupan secara tidak utuh dapat melahirkan ketidakpuasan. Seseorang lupa bahwa Allah telah memberikan nikmat kepadanya dalam bentuk yang berbeda.

Orang yang bijaksana tidak menjadikan kehidupan orang lain sebagai ukuran harga dirinya. Ia melihat nikmat orang lain sebagai karunia Allah, kemudian memperbaiki dirinya dengan cara yang halal dan bermartabat.

Islam Melarang Saling Mendengki

Rasulullah ? memberikan peringatan yang sangat jelas:

«??? ???????????? ????? ???????????? ????? ???????????? ????????? ??????? ??????? ??????????»

«“Janganlah kalian saling mendengki, jangan saling membenci, jangan saling membelakangi, dan jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara.”[^5]»

Hadis ini menunjukkan bahwa dengki dapat merusak ukhuwah. Dengki yang dibiarkan dapat berubah menjadi kebencian. Kebencian dapat melahirkan permusuhan. Permusuhan dapat memutus silaturahmi.

Karena itu, membersihkan hati bukan hanya urusan pribadi. Ia juga merupakan bagian dari upaya membangun masyarakat yang sehat.

Keluarga dapat retak karena dengki. Persahabatan dapat berakhir karena iri hati. Hubungan antarwarga dapat rusak karena persaingan yang tidak sehat. Bahkan dalam organisasi, kedengkian dapat membuat seseorang tidak mampu menerima keberhasilan rekannya.

Bedakan Hasad dengan Ghibthah

Islam tidak melarang seseorang memiliki cita-cita untuk mendapatkan kebaikan seperti yang dimiliki orang lain.

Rasulullah ? bersabda:

«“Tidak boleh hasad kecuali terhadap dua perkara: seseorang yang Allah berikan harta lalu ia menggunakannya untuk kebenaran, dan seseorang yang Allah berikan hikmah lalu ia mengamalkan dan mengajarkannya.”[^6]»

Para ulama menjelaskan bahwa yang dimaksud dalam konteks ini bukan hasad tercela, tetapi ghibthah: seseorang menginginkan memperoleh kebaikan serupa tanpa menginginkan nikmat orang lain hilang.[^7]

Perbedaannya sangat penting. Jika kita melihat seseorang rajin bersedekah lalu berkata, “Semoga aku juga bisa seperti dia agar dapat banyak membantu orang,” itu merupakan dorongan positif.

Namun jika kita berkata, “Mengapa dia yang banyak bersedekah? Semoga hartanya berkurang,” maka hati telah memasuki wilayah yang tercela.

Jadi, jadikan keberhasilan orang lain sebagai inspirasi, bukan alasan untuk membenci.

Membersihkan Hati dengan Doa

Al-Qur’an memberikan teladan luar biasa melalui doa orang-orang beriman:

«???????? ??????? ????? ???????????????? ????????? ?????????? ????????????? ????? ???????? ??? ?????????? ?????? ??????????? ???????»

«“Ya Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu daripada kami dan janganlah Engkau jadikan dalam hati kami kedengkian terhadap orang-orang yang beriman.”
(QS. Al-Hasyr [59]: 10)»

Ibnu Katsir menerangkan bahwa ayat ini merupakan gambaran sifat orang beriman yang mendoakan saudara-saudaranya dan memohon agar Allah membersihkan hati mereka dari rasa benci dan dengki.[^8]

Doa tersebut sangat relevan dalam kehidupan sehari-hari.

Ketika hati mulai iri, jangan ikuti bisikan itu. Segera berdoa untuk kebaikan orang tersebut. Ucapkan:

“Ya Allah, berkahilah nikmat yang Engkau berikan kepadanya. Berikan pula kepadaku karunia yang baik dan halal. Bersihkan hatiku dari iri dan dengki.”

Kebiasaan mendoakan orang yang semula kita iri kepadanya merupakan latihan spiritual untuk membersihkan hati.

Lima Cara Menjauhi Dengki

Pertama, memperkuat iman kepada takdir Allah.

Yakinlah bahwa rezeki setiap manusia berada dalam pengetahuan dan ketetapan Allah. Keberhasilan orang lain tidak mengurangi jatah kita.

Kedua, memperbanyak syukur.

Syukur membuat seseorang fokus pada nikmat yang dimilikinya. Orang yang bersyukur tidak berarti tidak memiliki cita-cita. Ia hanya tidak membenci orang lain karena memperoleh nikmat.

Ketiga, membiasakan mendoakan orang lain.

Ketika seorang sahabat mendapatkan keberhasilan, ucapkan selamat dan doakan keberkahannya. Latihan ini sederhana tetapi memiliki pengaruh besar terhadap kebersihan hati.

Keempat, memperbanyak introspeksi.

Ketika merasa iri, tanyakan kepada diri sendiri: “Mengapa aku merasa tidak senang melihat keberhasilan orang lain?” Bisa jadi masalah sebenarnya bukan pada orang tersebut, melainkan pada ketidakpuasan yang ada dalam diri kita.

Kelima, berlomba dalam kebaikan.

Allah berfirman:

«????????????? ????????????»

«“Maka berlomba-lombalah dalam kebaikan.”
(QS. Al-Baqarah [2]: 148)»

Islam mengajarkan kompetisi yang sehat. Jika orang lain lebih rajin beribadah, kita termotivasi untuk memperbaiki ibadah. Jika orang lain lebih banyak bersedekah, kita berusaha meningkatkan sedekah. Jika orang lain lebih banyak memberikan manfaat, kita berusaha menjadi manusia yang lebih bermanfaat.

Masyarakat Tanpa Dengki

Bayangkan jika sebuah keluarga terbiasa saling mendoakan. Kakak tidak iri kepada adik. Adik tidak membenci kakak. Suami dan istri tidak saling menjatuhkan. Orang tua bahagia melihat keberhasilan anak-anaknya.

Bayangkan pula jika masyarakat terbiasa ikut bergembira atas keberhasilan tetangga. Pengusaha tidak menjatuhkan pengusaha lain. Guru senang ketika muridnya berhasil. Da’i bahagia ketika dakwah saudaranya berkembang. Tokoh masyarakat mendukung generasi muda yang berprestasi.

Masyarakat seperti itu akan tumbuh dengan semangat ta'awun, saling membantu dalam kebaikan.

Dengki membuat keberhasilan orang lain terasa seperti ancaman. Sebaliknya, ukhuwah membuat keberhasilan orang lain menjadi kebahagiaan bersama.

Penutup

Dengki adalah penyakit hati yang harus diwaspadai. Ia dapat menghilangkan ketenangan, merusak persaudaraan, mengganggu silaturahmi, dan mendorong seseorang melakukan tindakan yang tidak terpuji.

Namun, hati manusia dapat dibersihkan.

Mulailah dengan menerima takdir Allah, memperbanyak syukur, mengurangi kebiasaan membandingkan diri, mendoakan orang lain, dan berlomba dalam kebaikan.

Ketika melihat seseorang mendapatkan nikmat, jangan berkata dalam hati, “Mengapa dia?”

Ubahlah menjadi:

“Masya Allah. Semoga Allah memberkahinya. Semoga aku juga mendapatkan karunia yang terbaik menurut Allah.”

Inilah akhlak yang membuat hati lapang.

Sebab kebahagiaan sejati bukan ketika kita memiliki semua yang dimiliki orang lain, melainkan ketika kita mampu bersyukur atas apa yang Allah berikan dan ikut bahagia atas kebaikan yang diterima sesama.

Hati yang bersih tidak takut melihat orang lain sukses. Hati yang bersih justru mampu berkata: “Semoga nikmatmu menjadi berkah, dan semoga keberhasilanmu menjadi manfaat bagi banyak orang.”

---

Catatan Kaki — Chicago Notes

[^1]: Muhammad ibn Isma‘il al-Bukhari, Sahih al-Bukhari, Kitab al-Iman, hadis no. 52; Muslim ibn al-Hajjaj, Sahih Muslim, Kitab al-Musaqat, hadis no. 1599.

[^2]: Yahya ibn Sharaf al-Nawawi, Riyad al-Salihin (Beirut: Dar Ibn Kathir, 2007), pembahasan tentang larangan hasad.

[^3]: Isma‘il ibn Umar Ibn Kathir, Tafsir al-Qur’an al-‘Azim, tafsir QS. Al-Falaq [113]: 5 (Riyadh: Dar Tayyibah, 1999).

[^4]: Muhammad ibn Ahmad al-Qurtubi, Al-Jami‘ li Ahkam al-Qur’an, tafsir QS. Al-Nisa’ [4]: 32 (Kairo: Dar al-Kutub al-Misriyyah, 1964).

[^5]: Al-Bukhari, Sahih al-Bukhari, Kitab al-Adab, hadis no. 6065; Muslim, Sahih Muslim, Kitab al-Birr wa al-Silah, hadis no. 2559.

[^6]: Al-Bukhari, Sahih al-Bukhari, Kitab al-‘Ilm, hadis no. 73; Muslim, Sahih Muslim, Kitab Salat al-Musafirin, hadis no. 816.

[^7]: Abu Zakariyya al-Nawawi, Al-Minhaj Sharh Sahih Muslim ibn al-Hajjaj (Beirut: Dar Ihya’ al-Turath al-‘Arabi, 1392 H), penjelasan hadis tentang ghibthah.

[^8]: Ibn Kathir, Tafsir al-Qur’an al-‘Azim, tafsir QS. Al-Hasyr [59]: 10.

[^9]: Muhammad ibn Jarir al-Tabari, Jami‘ al-Bayan ‘an Ta’wil Ay al-Qur’an, tafsir QS. Al-Nisa’ [4]: 32 (Kairo: Dar Hijr, 2001).

[^10]: Fakhr al-Din al-Razi, Mafatih al-Ghayb, tafsir QS. Al-Nisa’ [4]: 32 (Beirut: Dar Ihya’ al-Turath al-‘Arabi, 1999).

[^11]: Ibn Qayyim al-Jawziyyah, Ighathat al-Lahfan min Masayid al-Shaytan (Riyadh: Dar Ibn al-Jawzi, 1999), pembahasan penyakit hati dan pengobatannya.

[^12]: Abu Hamid al-Ghazali, Ihya’ ‘Ulum al-Din, jilid 3 (Beirut: Dar al-Ma‘rifah, n.d.), pembahasan tentang penyakit hati, hasad, dan obatnya.

Daftar Pustaka

Al-Bukhari, Muhammad ibn Isma‘il. Sahih al-Bukhari. Beirut: Dar Ibn Kathir, 2002.

Al-Ghazali, Abu Hamid. Ihya’ ‘Ulum al-Din. Beirut: Dar al-Ma‘rifah, n.d.

Al-Nawawi, Yahya ibn Sharaf. Al-Minhaj Sharh Sahih Muslim ibn al-Hajjaj. Beirut: Dar Ihya’ al-Turath al-‘Arabi, 1392 H.

———. Riyad al-Salihin. Beirut: Dar Ibn Kathir, 2007.

Al-Qurtubi, Muhammad ibn Ahmad. Al-Jami‘ li Ahkam al-Qur’an. Kairo: Dar al-Kutub al-Misriyyah, 1964.

Al-Razi, Fakhr al-Din. Mafatih al-Ghayb. Beirut: Dar Ihya’ al-Turath al-‘Arabi, 1999.

Al-Tabari, Muhammad ibn Jarir. Jami‘ al-Bayan ‘an Ta’wil Ay al-Qur’an. Kairo: Dar Hijr, 2001.

Ibn Kathir, Isma‘il ibn Umar. Tafsir al-Qur’an al-‘Azim. Riyadh: Dar Tayyibah, 1999.

Ibn Qayyim al-Jawziyyah. Ighathat al-Lahfan min Masayid al-Shaytan. Riyadh: Dar Ibn al-Jawzi, 1999.

Muslim ibn al-Hajjaj. Sahih Muslim. Beirut: Dar Ihya’ al-Turath al-‘Arabi. ***



Baca Juga

--ads--