Memperbaiki Komunikasi Keluarga: Kunci Membangun Rumah Tangga Sakinah
- Sabtu, 07 November 2026 - 07:16 WIB
Tengku Iskandar MPd.
Oleh: Tengku Iskandar MPd
Duta Literasi Pena Da’i Nusantara Provinsi Sumatera Barat asal Selat Panjang, Kabupaten Kepulauan Meranti-Riau
### Ketika Komunikasi Menjadi Sumber Persoalan Keluarga
Tidak sedikit rumah tangga yang sebenarnya memiliki kecukupan ekonomi, tempat tinggal yang layak, dan kebutuhan hidup yang terpenuhi, tetapi tetap diwarnai pertengkaran. Persoalannya terkadang bukan karena kekurangan harta, melainkan karena komunikasi yang tidak berjalan dengan baik.
Suami merasa tidak dihargai. Istri merasa tidak didengarkan. Anak merasa tidak diperhatikan. Orang tua merasa kehilangan kedekatan dengan anak-anaknya. Akibatnya, rumah yang seharusnya menjadi tempat beristirahat justru berubah menjadi tempat yang melelahkan secara emosional.
Ironisnya, persoalan kecil dapat berkembang menjadi pertengkaran besar hanya karena cara menyampaikan sesuatu yang keliru.
Kalimat yang seharusnya menjadi nasihat berubah menjadi hinaan. Teguran berubah menjadi kemarahan. Perbedaan pendapat berubah menjadi permusuhan.
Di sinilah pentingnya memperbaiki komunikasi keluarga. Sebab, keluarga harmonis bukan berarti tidak pernah berbeda pendapat, melainkan mampu menyelesaikan perbedaan tanpa saling menyakiti.
Komunikasi Adalah Fondasi Keluarga Sakinah
Islam memberikan perhatian besar terhadap kehidupan keluarga. Tujuan pernikahan bukan sekadar memenuhi kebutuhan biologis atau membangun kehidupan ekonomi, tetapi menciptakan ketenteraman, kasih sayang, dan rahmat.
Allah SWT berfirman:
?????? ???????? ???? ?????? ????? ????? ???????????? ?????????? ????????????? ????????? ???????? ????????? ?????????? ??????????
"Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang."
(QS. Ar-Rum [30]: 21).
Ayat ini menegaskan bahwa kehidupan pernikahan dibangun di atas tiga nilai penting: sakinah, mawaddah, dan rahmah.
Ketenteraman tidak akan tumbuh apabila suami dan istri terus-menerus saling mencurigai. Kasih sayang sulit berkembang apabila perkataan yang keluar selalu menyakitkan. Rahmat keluarga akan terganggu apabila setiap persoalan diselesaikan dengan ancaman dan penghinaan.
Karena itu, komunikasi yang baik merupakan salah satu jalan untuk merawat ketiga nilai tersebut.
1. Belajar Mendengarkan Sebelum Menjawab
Kesalahan komunikasi yang sering terjadi adalah keinginan untuk selalu didengar, tetapi kurang bersedia mendengarkan.
Ketika istri menyampaikan keluhan, suami terkadang langsung membantah. Ketika suami menjelaskan persoalan pekerjaan, istri mungkin langsung memberikan penilaian tanpa memahami keadaan.
Padahal, mendengarkan merupakan bentuk penghargaan.
Rasulullah ? dikenal sebagai pribadi yang santun dalam berbicara dan memberikan perhatian kepada orang yang sedang berbicara dengannya.
Dalam keluarga, mendengarkan bukan berarti selalu menyetujui pendapat pasangan. Mendengarkan berarti memberikan kesempatan kepada pasangan untuk menjelaskan perasaan dan pikirannya.
2. Hindari Kata-Kata yang Melukai Hati
Perkataan dapat menjadi obat, tetapi juga dapat menjadi luka yang sulit dilupakan.
Suami dan istri perlu menghindari kalimat seperti:
* "Kamu memang tidak pernah benar."
* "Kamu tidak berguna."
* "Dari dahulu kamu selalu begitu."
* "Menyesal saya menikah denganmu."
Kalimat seperti itu tidak menyelesaikan persoalan. Sebaliknya, dapat merusak harga diri dan menambah jarak emosional.
Allah SWT berfirman:
????????? ????????? ???????
"Dan bertuturkatalah yang baik kepada manusia."
(QS. Al-Baqarah [2]: 83).
Jika berbicara kepada sesama manusia saja diperintahkan dengan baik, tentu pasangan hidup dan anak-anak lebih berhak mendapatkan perkataan yang santun.
3. Jangan Membawa Semua Persoalan ke Dalam Pertengkaran
Setiap keluarga memiliki masalah. Ada persoalan ekonomi, pendidikan anak, pekerjaan, pembagian tanggung jawab, hingga hubungan dengan keluarga besar.
Namun, tidak semua masalah harus diselesaikan dengan emosi.
Suami dan istri perlu belajar menentukan waktu yang tepat untuk berdiskusi. Jangan memaksakan pembicaraan ketika salah satu sedang sangat marah, kelelahan, atau tidak mampu berpikir jernih.
Berhenti sejenak bukan berarti menghindari masalah. Itu merupakan usaha agar persoalan dapat dibicarakan dengan pikiran yang lebih tenang.
4. Membiasakan Musyawarah dalam Keluarga
Keluarga bukan tempat seseorang memaksakan kehendak. Suami memang memiliki tanggung jawab kepemimpinan, tetapi kepemimpinan dalam Islam bukanlah kekuasaan untuk bertindak sewenang-wenang.
Allah SWT berfirman:
???????????? ??????? ??????????
"Sedangkan urusan mereka diputuskan dengan musyawarah di antara mereka."
(QS. Asy-Syura [42]: 38).
Musyawarah keluarga dapat dilakukan dalam berbagai persoalan, seperti pengaturan keuangan, pendidikan anak, pembagian pekerjaan rumah, rencana masa depan, dan kebutuhan keluarga.
Anak-anak juga perlu diberi kesempatan menyampaikan pendapat sesuai usia dan kematangannya.
Dengan demikian, setiap anggota keluarga merasa dihargai dan memiliki tanggung jawab terhadap kehidupan bersama.
5. Memperbaiki Komunikasi antara Orang Tua dan Anak
Persoalan komunikasi tidak hanya terjadi antara suami dan istri. Hubungan orang tua dan anak juga membutuhkan perhatian.
Ada orang tua yang merasa sudah memberikan nafkah, pendidikan, dan fasilitas yang cukup. Namun, anak justru merasa kurang mendapatkan perhatian emosional.
Anak membutuhkan kesempatan bercerita tanpa langsung dimarahi. Mereka membutuhkan nasihat tanpa selalu merasa dihakimi.
Rasulullah ? bersabda:
???? ??? ???????? ??? ????????
"Barang siapa tidak menyayangi, maka ia tidak akan disayangi."
(HR. Bukhari dan Muslim).
Kasih sayang harus diwujudkan melalui perilaku sehari-hari: menyapa anak, mendengarkan ceritanya, mendampingi belajarnya, dan memberikan teladan yang baik.
Orang tua juga perlu menyadari bahwa anak lebih mudah menerima nasihat apabila merasa dicintai dan dihargai.
### 6. Jangan Membiarkan Masalah Menumpuk
Persoalan yang tidak dibicarakan sering kali berubah menjadi kekecewaan berkepanjangan.
Istri mungkin memendam perasaan karena takut dimarahi. Suami mungkin menyimpan tekanan pekerjaan karena merasa tidak memiliki tempat bercerita. Anak-anak mungkin memilih diam karena menganggap pendapatnya tidak pernah diperhatikan.
Lama-kelamaan, komunikasi menjadi dingin.
Karena itu, keluarga perlu membangun kebiasaan berbicara secara terbuka dan jujur.
Apabila terjadi kesalahan, jangan malu meminta maaf. Apabila menerima kebaikan, jangan lupa mengucapkan terima kasih.
Dua kalimat sederhana, "Maaf" dan "Terima kasih", dapat menjadi jembatan untuk memperbaiki hubungan.
### 7. Membangun Kebiasaan Komunikasi yang Sehat
Perbaikan komunikasi tidak harus dimulai dengan kegiatan besar. Hal-hal sederhana dapat menjadi kebiasaan keluarga.
| Kebiasaan | Manfaat |
| ------------------------ | --------------------------- |
| Makan bersama | Mempererat hubungan |
| Berbicara sebelum tidur | Mengetahui keadaan pasangan |
| Musyawarah mingguan | Menyelesaikan persoalan |
| Salat berjamaah | Memperkuat spiritualitas |
| Mengucapkan terima kasih | Menumbuhkan penghargaan |
| Saling meminta maaf | Mengurangi konflik |
Kebiasaan ini perlu dilakukan secara konsisten, bukan hanya ketika keluarga sedang menghadapi masalah.
### 8. Mengendalikan Amarah dan Menjaga Lisan
Rasulullah ? bersabda:
?????? ?????????? ?????????????? ???????? ?????????? ??????? ???????? ???????? ?????? ?????????
"Orang yang kuat bukanlah orang yang menang dalam bergulat, tetapi orang yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah."
(HR. Bukhari dan Muslim).
Hadis ini sangat relevan dalam kehidupan rumah tangga. Kekuatan suami bukan terletak pada kerasnya suara. Kewibawaan istri bukan terletak pada kemampuannya memenangkan pertengkaran.
Kekuatan keluarga justru terlihat ketika masing-masing mampu menahan diri, menghormati pasangan, dan mencari penyelesaian.
Jika terdapat kekerasan atau ancaman, keselamatan anggota keluarga harus diutamakan. Komunikasi tidak boleh dijadikan alasan untuk memaksa korban terus bertahan dalam keadaan berbahaya.
### Penutup: Rumah Tangga yang Bahagia Dimulai dari Perkataan yang Baik
Keluarga yang harmonis tidak dibangun hanya dengan uang, rumah mewah, kendaraan, atau fasilitas kehidupan. Semua itu memang penting, tetapi tidak cukup untuk menghadirkan ketenteraman.
Keluarga membutuhkan komunikasi yang sehat, kesediaan mendengarkan, kejujuran, penghargaan, dan kasih sayang.
Suami perlu memahami perasaan istri. Istri perlu menghargai tanggung jawab suami. Orang tua perlu mendengarkan anak. Anak-anak perlu belajar menghormati orang tua.
Jangan sampai orang yang paling dekat dengan kita justru menjadi orang yang paling sering menerima perkataan menyakitkan.
Pada akhirnya, memperbaiki komunikasi keluarga adalah investasi jangka panjang untuk membangun generasi yang sehat secara emosional, kuat secara spiritual, dan berakhlak mulia.
Rumah tangga sakinah tidak lahir dari siapa yang paling keras berbicara, tetapi dari siapa yang paling tulus mendengarkan, memahami, dan menjaga perasaan anggota keluarganya.
Catatan Kaki
* Kementerian Agama RI, Al-Qur'an dan Terjemahannya (Jakarta: Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur'an, 2019), QS. Ar-Rum [30]: 21.
* Ismail bin Umar Ibnu Katsir, Tafsir Al-Qur'an al-'Azhim, tafsir QS. Ar-Rum [30]: 21.
* Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, Kitab al-Adab, hadis tentang kelembutan dan akhlak.
* Kementerian Agama RI, Al-Qur'an dan Terjemahannya, QS. Al-Baqarah [2]: 83.
* Ibid., QS. Asy-Syura [42]: 38.
* Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, Kitab al-Adab; Muslim bin Al-Hajjaj, Shahih Muslim, Kitab al-Fadha'il, hadis tentang kasih sayang.
* John Gottman dan Nan Silver, The Seven Principles for Making Marriage Work (New York: Harmony Books, 1999).
* John Bowlby, A Secure Base: Parent-Child Attachment and Healthy Human Development (New York: Basic Books, 1988).
* Marshall B. Rosenberg, Nonviolent Communication: A Language of Life (Encinitas, CA: PuddleDancer Press, 2003).
* Kementerian Agama RI, Al-Qur'an dan Terjemahannya, QS. Al-Hujurat [49]: 11–12.
Daftar Pustaka
Al-Qur'an dan Tafsir
* Al-Qur'an al-Karim.
* Ibnu Katsir, Ismail bin Umar. Tafsir Al-Qur'an al-'Azhim. Riyadh: Dar Thayyibah, 1999.
* Kementerian Agama Republik Indonesia. Al-Qur'an dan Terjemahannya. Jakarta: Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur'an, 2019.
Kitab Hadis
* Al-Bukhari, Muhammad bin Ismail. Shahih al-Bukhari. Beirut: Dar Ibn Katsir.
* Muslim bin Al-Hajjaj. Shahih Muslim. Beirut: Dar Ihya' al-Turats al-'Arabi.
Literatur Psikologi dan Komunikasi
* Bowlby, John. A Secure Base: Parent-Child Attachment and Healthy Human Development. New York: Basic Books, 1988.
* Gottman, John, dan Nan Silver. The Seven Principles for Making Marriage Work. New York: Harmony Books, 1999.
* Rosenberg, Marshall B. Nonviolent Communication: A Language of Life. Encinitas, CA: PuddleDancer Press, 2003. ***

