Prabowo Menghunus Pedang ke Lehernya Sendiri?
- Jumat, 03 April 2026 - 10:10 WIB
Abuzar SH.
Oleh : Abuzar SH, Ketua KADAR
Prabowo itu bukan siapa-siapa, dia hanya mantan pecatan tentara yang mengemis hormat kepada rakyat, meminta kuasa kepada rakyat.
Kata sebagian orang waktu dulu. Serta media memberitakannya. Lalu saat ini setelah mandat kuasa ia dapatkan, ia berbalik arah mengkhianati rakyat?.
Jika ini yang ia lakukan dan terjadi, hal ini merupakan sebuah pengkhianatan besar sepanjang sejarah. Maka ia seperti menghunus pedang ke atas lehernya sendiri.
Berbeda dengan banyak presiden sebelumnya. Mereka dilahirkan zaman, tuntutan zaman menghadirkan mereka secara alami.
Harusnya Prabowo benar-benar menghayati kehadirannya dengan bijaksana dan taktis dalam mengawaki pemerintahan Republik Indonesia saat ini.
Jangan sampai ia lupa diri setelah diberi amanah oleh Rakyat Indonesia untuk menjadi Presiden.
Bertahun tahun ia mengemis simpati, menawarkan solusi serta pemikirannya bagi rakyat, tapi rakyat tidak memilihnya.
Saat ini dengan segala taktik dan strategi yang ia lakukan kemudian mampu mengantarkannya dilantik sebagai Presiden Republik Indonesia, tidak mesti membuat ia lupa diri dan berbangga diri dengan pencapaiannya.
Belajarlah kepada yang sudah- sudah.
Pepatah nasehat mulia mengatakan, belajar pada yang sudah, berguru pada yang menang. Artinya ambil pelajaran kepada kejadian- kejadian sebelumnya, jika ianya buruk jangan lakukan dan jangan ulangi, tapi jika sesuatu itu baik maka teruskan dan pertahankan.
Itulah guru yang menang. Bagaimana melakukannya. Pedomani lah hati nurani mu. Jangan tinggalkan musyawarah mufakat yang dipimpin Hikmah.
Jangan kau sembrono dan petantang petenteng dengan kuasamu itu yang secuil. Memang seorang tentara harus tegas dan pasti dalam berbicara tapi sesekali pelankan suaramu, hayati kata-kata yang kau ucapkan.
Jangan berteriak kepada rakyat apalagi menghardiknya. Karena rakyat itu semua adalah ciptaan Tuhan jua sama seperti dirimu.
Jika benar Prabowo ingin menertibkan para pengamat, maka itu kekeliruan besar dalam kebijakannya. Pengamat tidak membawa pedang tajam berkilau, tidak membawa pistol api, atupun bom pemusnah yang mencelakai massal.
Ia hanya berbicara memberi pandangan sebagai bahan pertimbangan dalam kehidupan orang banyak. Jika penguasa anti kritik maka ia tidak lebih hanya seorang otoriter yang amoral dan bodoh serta licik.
Seorang cerdas dan bijaksana tentu haus akan kritik dan Arif dalam menyikapi nya. Itulah harapan kita bersama. Semoga Prabowo tidak dijadikan umpan peluru oleh oligarki dan penjilat yang menjadikan ia tameng untuk memuaskan hasrat nafsu kekuasan dan kemewahan dunia, dengan berlindung dibalik kekuasaan Presiden Republik Indonesia.
Semoga informasi bahwa Prabowo akan menertibkan atau membatasi pengamat hanya mainan oportunis yang sengaja ingin pemerintahan Prabowo goyang dan mereka menangguk di air keruh. Semoga saja ini hanya mainan informasi media sempalan. Begitu harapan saya.
Namun jika benar adanya, maka saatnya kita menggenggam tangan, bergandengan kuat melakukan PERLAWANAN! Karena negeri ini milik kita BERSAMA. ***
