- Beranda
- RIAUSTORIA
- Pertunjukan 6.000 Penari Zapin di Pekanbaru Pecahkan Rekor Dunia, Tanpa Gunakan APBD
Mengukuhkan Riau sebagai Pusat Pelestarian Budaya Melayu
Pertunjukan 6.000 Penari Zapin di Pekanbaru Pecahkan Rekor Dunia, Tanpa Gunakan APBD
- Minggu, 11 Januari 2026 - 09:52 WIB
- Reporter : Hendra Bakti
- Redaktur : Armazi Yendra
KLIKMX.COM, PEKANBARU - Sebanyak 6.000 penari Zapin memadati Jalan Gajah Mada, Kota Pekanbaru, Riau, Ahad (11/1/2026), dan berhasil mencatatkan sejarah dengan memecahkan rekor dunia tari Zapin massal.
Aksi kolosal tersebut resmi ditetapkan sebagai rekor dunia, sekaligus mengukuhkan Riau sebagai pusat pelestarian budaya Melayu di kancah internasional.
Pertunjukan ribuan penari dari berbagai kalangan tampil serempak membawakan Tari Zapin dengan gerakan yang terkoordinasi, diiringi alunan musik tradisional gambus dan marwas.
Pementasan massal ini mengusung tema “Bersatu Dalam Gerak Zapin Lestarikan Budaya Melayu” dan diprakarsai oleh Badan Kerja Sama Organisasi Wanita (BKOW) Provinsi Riau.
Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Riau (Gubri) H SF Hariyanto MT, menyampaikan apresiasi atas capaian tersebut. Ia menilai, keberhasilan memecahkan rekor dunia ini bukan sekadar pencapaian angka, melainkan simbol kuat komitmen masyarakat Riau dalam menjaga dan mempromosikan warisan budaya Melayu di tengah arus modernisasi.
“Rekor dunia ini menjadi bukti bahwa Riau mampu maju tanpa meninggalkan akar budaya. Kita menunjukkan kepada dunia bahwa tradisi Melayu tetap hidup, kuat, dan relevan,” ujar SF Hariyanto.
Menurutnya, Tari Zapin tidak hanya merepresentasikan keindahan seni gerak, tetapi juga nilai-nilai filosofi seperti kebersamaan, kedisiplinan, dan keharmonisan. Hal tersebut tercermin dari kekompakan ribuan penari yang tampil seragam dalam satu irama.
Pementasan ini juga menarik perhatian lewat busana khas Melayu yang dikenakan para penari, khususnya kebaya labuh kekek bagi penari perempuan. Busana tersebut dinilai memperkuat identitas budaya sekaligus menjadi simbol kehormatan dan marwah perempuan Melayu.
SF Hariyanto menegaskan, Pemerintah Provinsi Riau berkomitmen untuk terus mendorong pelestarian budaya Melayu agar tidak berhenti pada kegiatan seremonial semata. Rekor dunia ini, kata dia, harus menjadi pemicu lahirnya gerakan kebudayaan yang berkelanjutan dan melibatkan seluruh lapisan masyarakat.
Hal lain yang mendapat sorotan adalah pelaksanaan kegiatan yang sepenuhnya dilakukan tanpa menggunakan dana APBD. Seluruh rangkaian acara terselenggara berkat swadaya dan partisipasi berbagai pihak.
Atas hal tersebut, Pemprov Riau memberikan apresiasi tinggi kepada BKOW Provinsi Riau sebagai penggagas utama kegiatan. Bagi Riau, torehan rekor dunia Tari Zapin massal ini menjadi penanda penting bahwa budaya lokal mampu tampil di panggung global.
Ribuan penari yang menari serempak di jantung Kota Pekanbaru menjadi pesan kuat bahwa warisan leluhur tetap dijaga, dirawat, dan diwariskan kepada generasi mendatang. ***
