Memuliakan Penyandang Disabilitas: Sikap Baik Cermin Keimanan dan Akhlak Mulia
- Senin, 02 November 2026 - 07:48 WIB
Tengku Iskandar MPd.
Oleh: Tengku Iskandar MPd
Duta Literasi Pena Da’i Nusantara Provinsi Sumatera Barat asal Selat Panjang, Kabupaten Kepulauan Meranti-Riau
Setiap manusia dilahirkan dengan keadaan dan kemampuan yang berbeda-beda. Ada yang memiliki tubuh sempurna menurut pandangan umum, ada pula yang terlahir dengan keterbatasan fisik, sensorik, intelektual, atau mengalami disabilitas karena kecelakaan dan penyakit. Namun, perbedaan tersebut tidak pernah menjadi alasan untuk merendahkan martabat seseorang.
Dalam Islam, kemuliaan manusia tidak ditentukan oleh kesempurnaan fisik, kekayaan, jabatan, ataupun kekuatan tubuh. Kemuliaan manusia ditentukan oleh ketakwaan dan amal salehnya.
Allah SWT berfirman:
??? ???????? ???????? ?????? ????????????? ???? ?????? ?????????? ??????????????? ???????? ??????????? ????????????? ????? ???????????? ?????? ??????? ???????????
"Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa." (QS. Al-Hujurat: 13).
Ayat ini mengajarkan bahwa ukuran kemuliaan bukanlah penampilan fisik, melainkan ketakwaan kepada Allah SWT.
1. Jangan Merendahkan Orang karena Keterbatasannya
Salah satu kesalahan dalam kehidupan sosial adalah menjadikan kekurangan fisik seseorang sebagai bahan ejekan. Ada yang menertawakan cara berjalan, bentuk tubuh, cara berbicara, atau keterbatasan penglihatan dan pendengaran orang lain.
Padahal, Allah SWT secara tegas melarang manusia saling mengolok-olok.
Allah berfirman:
??? ???????? ????????? ??????? ??? ???????? ?????? ????? ?????? ?????? ???? ????????? ??????? ?????????
"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, karena boleh jadi mereka yang diperolok-olokkan lebih baik daripada mereka yang mengolok-olok." (QS. Al-Hujurat: 11).
Jangan sampai seseorang merasa lebih mulia hanya karena memiliki tubuh yang sehat dan lengkap. Kesehatan adalah nikmat Allah yang sewaktu-waktu dapat berubah.
2. Bersikap Santun dan Menghormati Martabatnya
Penyandang disabilitas harus diperlakukan dengan sopan, sebagaimana kita menghormati manusia lainnya.
Jangan berbicara dengan nada merendahkan. Jangan pula menggunakan istilah yang menghina atau menjadikan kondisi fisiknya sebagai bahan candaan.
Berbicaralah secara wajar, dengarkan pendapatnya, dan hargai keberadaannya dalam lingkungan masyarakat.
Ingatlah, mereka bukan objek belas kasihan, melainkan manusia yang memiliki kehormatan, hak, kemampuan, cita-cita, dan potensi.
3. Membantu Tanpa Mempermalukan
Membantu orang lain merupakan perbuatan mulia. Namun, bantuan harus diberikan dengan cara yang tepat.
Misalnya:
* Membantu pengguna kursi roda ketika membutuhkan akses jalan.
* Menawarkan bantuan kepada tunanetra ketika menyeberang jalan.
* Berkomunikasi dengan ramah kepada penyandang tunarungu.
* Memberikan kesempatan yang sama dalam pendidikan dan pekerjaan.
* Menyediakan fasilitas umum yang ramah disabilitas.
Sebelum membantu, sebaiknya tanyakan terlebih dahulu apakah mereka membutuhkan bantuan dan bagaimana cara membantu yang tepat.
Jangan memaksakan bantuan sehingga justru menghilangkan kemandirian mereka.
4. Belajar dari Kisah Abdullah bin Ummi Maktum
Islam memberikan pelajaran penting tentang penghormatan kepada penyandang disabilitas melalui kisah Abdullah bin Ummi Maktum radhiyallahu 'anhu, seorang sahabat Nabi Muhammad SAW yang mengalami kebutaan.
Ketika beliau datang menemui Rasulullah SAW untuk meminta pengajaran agama, Rasulullah saat itu sedang menghadapi para pembesar Quraisy dengan harapan mereka menerima Islam.
Kemudian Allah menurunkan Surah 'Abasa sebagai teguran dan pelajaran tentang pentingnya memberikan perhatian kepada orang yang sungguh-sungguh mencari petunjuk.
Allah berfirman:
?????? ??????????? ? ???? ??????? ???????????
"Dia (Muhammad) berwajah masam dan berpaling, karena seorang buta telah datang kepadanya." (QS. 'Abasa: 1–2).
Peristiwa ini mengandung pelajaran besar bahwa orang yang memiliki keterbatasan fisik tidak boleh diabaikan. Kesungguhan mencari ilmu dan kedekatan kepada Allah jauh lebih penting daripada kedudukan sosial seseorang.
Abdullah bin Ummi Maktum bahkan kemudian mendapatkan kepercayaan untuk menggantikan Rasulullah SAW dalam beberapa urusan ketika beliau bepergian.
5. Jangan Menilai Kemampuan dari Penampilan
Banyak penyandang disabilitas memiliki kemampuan luar biasa. Ada yang menjadi guru, pengusaha, penulis, hafiz Al-Qur'an, akademisi, atlet, bahkan pemimpin.
Karena itu, masyarakat harus membuka kesempatan seluas-luasnya bagi mereka untuk berkembang.
Jangan menutup pintu pendidikan, pekerjaan, kegiatan keagamaan, dan kehidupan sosial hanya karena keterbatasan fisik.
Allah SWT berfirman:
??? ????????? ??????? ??????? ?????? ?????????
"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya." (QS. Al-Baqarah: 286).
Ayat ini mengingatkan bahwa setiap manusia memiliki kemampuan dan tanggung jawab sesuai kesanggupannya.
6. Menolong Sesama adalah Jalan Menuju Kebaikan
Rasulullah SAW bersabda:
????????? ??? ?????? ????????? ??? ????? ????????? ??? ?????? ???????
"Allah senantiasa menolong seorang hamba selama hamba tersebut menolong saudaranya." (HR. Muslim, no. 2699).
Hadis ini mengajarkan bahwa membantu sesama merupakan amal yang mendatangkan pertolongan Allah SWT.
Masyarakat yang beradab bukanlah masyarakat yang hanya menghargai orang kuat, sehat, kaya, dan berkuasa. Masyarakat yang beradab adalah masyarakat yang memberikan tempat terhormat kepada setiap manusia.
### 7. Membangun Lingkungan yang Ramah Disabilitas
Keluarga, sekolah, masjid, kantor pemerintahan, dan lingkungan masyarakat harus menjadi tempat yang aman serta nyaman bagi penyandang disabilitas.
Masjid, misalnya, perlu memperhatikan akses kursi roda, jalur yang aman, tempat duduk yang sesuai, serta kemudahan memperoleh informasi keagamaan.
Begitu pula lembaga pendidikan dan pelayanan publik harus memberikan kesempatan yang setara.
Kepedulian tidak cukup diwujudkan melalui kata-kata. Ia harus terlihat dalam kebijakan, fasilitas, pelayanan, dan perilaku sehari-hari.
Penutup: Kemuliaan Bukan pada Kesempurnaan Tubuh
Jangan pernah merasa lebih hebat hanya karena tubuh kita sehat. Jangan merasa lebih mulia hanya karena kita mampu berjalan, melihat, mendengar, atau berbicara dengan sempurna.
Boleh jadi seseorang yang memiliki keterbatasan fisik justru lebih tinggi derajatnya di sisi Allah karena kesabaran, ketakwaan, dan amal salehnya.
Mari kita ubah cara pandang terhadap penyandang disabilitas. Jangan mengejek, jangan mengucilkan, jangan meremehkan, dan jangan mengambil hak-haknya.
Sebaliknya, hormati, bantu, lindungi, dan berikan kesempatan yang sama.
Tubuh boleh memiliki keterbatasan, tetapi martabat manusia tidak boleh dibatasi. Sebab, yang menentukan kemuliaan seseorang bukanlah kesempurnaan jasadnya, melainkan ketakwaan dan akhlaknya di hadapan Allah SWT.
Catatan Kaki
* Al-Qur'an, QS. Al-Hujurat [49]: 11.
* Al-Qur'an, QS. Al-Hujurat [49]: 13.
* Al-Qur'an, QS. 'Abasa [80]: 1–10.
* Al-Qur'an, QS. Al-Baqarah [2]: 286.
* Muhammad bin Ismail al-Bukhari, Sahih al-Bukhari, Kitab al-Adab.
* Muslim bin al-Hajjaj, Sahih Muslim, hadis no. 2699.
* Ismail bin Umar Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur'an al-'Azim, tafsir Surah 'Abasa.
* Muhammad bin Ahmad al-Qurtubi, Al-Jami' li Ahkam al-Qur'an, tafsir Surah 'Abasa.
Daftar Pustaka
* Al-Qur'an al-Karim.
* Al-Bukhari, Muhammad bin Ismail. Sahih al-Bukhari. Beirut: Dar Ibn Kathir.
* Al-Qurtubi, Muhammad bin Ahmad. Al-Jami' li Ahkam al-Qur'an. Beirut: Mu'assasah al-Risalah.
* Ibnu Katsir, Ismail bin Umar. Tafsir al-Qur'an al-'Azim. Riyadh: Dar Tayyibah.
* Muslim bin al-Hajjaj. Sahih Muslim. Beirut: Dar Ihya' al-Turath al-'Arabi.
Kata kunci: Penyandang Disabilitas, Akhlak Islam, Kesetaraan Manusia, Kepedulian Sosial, Dakwah Inklusif, Islam Rahmatan lil 'Alamin. ***

