Polda Riau Kurangi Kecemasan, Ketakutan Mahasiswi UIN Suska Korban Pembacokan
- Sabtu, 28 Februari 2026 - 16:24 WIB
- Reporter : Hendra Nainggolan
- Redaktur : Armazi Yendra
Kabag Psikologi Biro SDM Polda Riau AKBP Dr Winarko MPsi Psikolog, bersama tim turun langsung memberikan pendampingan kepada mahasiswi UIN Suska Riau yang menjadi korban pembacokan.
KLIKMX.COM, PEKANBARU - Kabag Psikologi Biro SDM Polda Riau AKBP Dr Winarko MPsi Psikolog, bersama tim turun langsung memberikan pendampingan kepada mahasiswi UIN Suska Riau yang menjadi korban pembacokan.
Kehadiran tim psikologi Polda Riau di RSUD Arifin Achmad, Pekanbaru, sebagai bentuk respons cepat institusi dalam memastikan korban mendapatkan perhatian serius, khususnya dalam pemulihan kondisi mental pasca peristiwa penganiayaan yang dialaminya.
Dalam proses pendampingan tersebut, tim menggunakan pendekatan metode PTSD (Post Traumatic Stress Disorder), sebagai langkah awal untuk mengidentifikasi serta menangani gejala trauma pascakejadian.
“Pendekatan ini dilakukan guna memetakan kondisi psikologis korban sekaligus menyusun strategi pemulihan yang tepat dan terukur,” kata AKBP Dr Winarko, Sabtu (28/2/2026).
AKBP Dr Winarko menjelaskan, pendampingan tersebut bertujuan membantu korban mengelola dampak psikologis akibat kekerasan yang dialaminya.
“Pendekatan PTSD kami gunakan untuk mengidentifikasi gejala trauma sejak dini. Fokus kami adalah membantu korban mengurangi kecemasan, ketakutan, serta bayangan kejadian yang berulang, sekaligus membangun kembali rasa aman dan kepercayaan diri,” ujarnya.
Ia menambahkan, proses pemulihan psikologis tidak bisa dilakukan sendiri oleh korban, melainkan membutuhkan dukungan kuat dari keluarga sebagai lingkungan terdekat.
“Kami juga memberikan edukasi kepada keluarga agar memahami kondisi psikologis korban dan mengetahui langkah-langkah yang tepat dalam mendampingi selama masa pemulihan. Dukungan keluarga menjadi faktor penting dalam mempercepat proses penyembuhan,” katanya.
Menurutnya, pendampingan akan terus dilakukan secara bertahap hingga kondisi psikologis korban dinyatakan stabil dan siap kembali menjalani aktivitas akademik maupun sosial.
“Kami ingin memastikan korban dapat pulih secara optimal, bukan hanya secara fisik, tetapi juga mental. Ini bagian dari komitmen kami menghadirkan pelayanan yang humanis dan presisi,” tegasnya mengakhiri. ***
