FK Unri Gandeng Relawan Pendamping Tangani Pengidap HIV-AIDS di Riau
- Kamis, 20 Agustus 2026 - 08:43 WIB
- Reporter : Bakti
- Redaktur : Armazi Yendra
KLIKMX.COM, PEKANBARU - Orang dengan HIV-AIDS (ODHA) atau pengidap sangat butuh pendampingan konseling dan psikososial. Untuk itu, civitas Universitas Riau (Unri) hadir memberi pelatihan ke sejumlah pendamping ODHA.
Kehadiran itu terlihat dari kolaborasi antara Fakultas Kedokteran Universitas Riau (FK Unri) saat pengabdian kepada masyarakat. Civitas hadir melalui pelatihan Pendamping Sebaya bagi ODHA atau orang dengan HIV (ODHIV) di Pekanbaru beberapa waktu lalu.
"Pelatihan ini merupakan bagian dari Program TEMAN-ODHA (Training Empathic Mentoring and Counseling for ODHA) yang bertujuan meningkatkan kapasitas Pendamping Sebaya ODHIV. Tentu saja berbasis komunitas dalam memberikan konseling dan dukungan psikososial bagi ODHIV di Riau," kata Ketua Tim pengabdian, Dr dr Fauzia Andrini Djojosugito, kemarin.
Kegiatan yang dikemas melalui pelatihan konseling berbasis psikososial, workshop komunikasi empatik dan simulasi konseling berbasis kasus. Selain itu pendampingan praktik konseling.
Bukan tanpa alasan, pelatihan dari sejumlah perwakilan akademisi ini dirancang untuk meningkatkan pengetahuan sekaligus keterampilan para Pendamping Sebaya. Khususnya dalam memberikan dukungan yang tepat kepada ODHIV di lingkungan komunitas.
Adapun usia rentan ODHIV pada usia produktif 25-49 tahun sesuai data Dinkes Riau dan sejalan dengan data nasional (61% kasus nasional Q1 2025 ada di rentang usia ini). Pengidap perlu pendampingan karena ODHIV menghadapi stigma dan ketakutan membuka status, yang berdampak pada keterbukaan saat konseling dan kepatuhan minum ARV, sehingga Pendamping Sebaya yang empatik lebih mudah diterima dibanding pendekatan formal.
Data ODHA di Riau kumulatif sekitar 11.523 kasus. Bahkan, pada tahun 2025 terdapat sekitar 1170 kasus baru dan di Pekanbaru merupakan penyumbang terbesar yaitu sekitar sekitar 58 persen kasus.
Tak hanya dari Pekanbaru, sejumlah peserta dari Siak, Kota Dumai, Indragiri Hilir juga ikut ambil bagian. Seluruhnya berbaur untuk bertukar ilmu dalam pendampingan kepada para penyitas.
"Keterlibatan peserta dari beberapa wilayah di Riau ini menjadi bagian penting dalam memperluas jangkauan dan peningkatan kapasitas pendampingan. Sehingga keterampilan yang diperoleh melalui pelatihan dapat diterapkan di masing-masing wilayah," kata wanita yang akrab disapa dokter Andin.
Selain mendapatkan modul, peserta juga diberi pemahaman terkait konseling HIV berbasis psikososial. Termasuk pentingnya komunikasi empatik saat pendampingan.
Dalam momentum itu peserta juga diajak memahami bagaimana membangun komunikasi yang terbuka, mendengarkan secara aktif, menjaga kerahasiaan, serta memberikan respons yang sesuai dengan kondisi dan kebutuhan ODHIV.
Di ruang Health Studies Compleks kampus Panam, kegiatan juga dilengkapi dengan simulasi konseling berbasis kasus (role play). Lewat simulasi singkat itu, peserta dapat mempraktikkan langsung situasi yang mungkin dihadapi dalam proses pendampingan.
Dalam praktiknya, peserta yang hadir diberi kesempatan untuk mencoba membangun komunikasi dengan ODHIV dan merespons permasalahan yang disampaikan. Selanjutnya mendapatkan masukan untuk meningkatkan keterampilan konseling.
Adapun anggota tim yang terdiri dari Prof dr Arfianti M.Biomed MSc PhD, dr Ariza Julia Paulina M.Biomed, Nabilla Sonia Sahara SSi M.Biomed, Rahma Dhani SSI M.Biomed, dan Denisa Nurmalia ST MIKom. Ada pula para mahasiswa S2 Biomedis FK terlibat dalam pelaksanaan kegiatan.
Tak sendiri, kampus juga menggandeng Yayasan SIKLUS Riau sebagai mitra. Yayasan ini merupakan organisasi masyarakat sipil yang telah berpengalaman dalam program pencegahan dan pendampingan HIV/AIDS di Provinsi Riau melalui jaringan relawan dan Pendamping Sebaya.
Andin menilai keterlibatan mitra dalam kegiatan ini memberikan penguatan dari sisi pengalaman lapangan, khususnya dalam proses pendampingan dan pemberian dukungan kepada ODHIV.
Dari Yayasan SIKLUS Riau, hadir dr Sofyan MM, Wahyudi, dan Rizna Ma'mun.
"Kolaborasi antara FK Unri dan Yayasan SIKLUS Riau menjadi salah satu kekuatan dalam pelaksanaan Program TEMAN-ODHA. Perguruan tinggi memberikan penguatan dari sisi pengetahuan dan pendekatan akademik, sementara Yayasan SIKLUS turut memberikan pengalaman praktis yang diperoleh dari pendampingan di lapangan," kata Andin.
Para Pendamping Sebaya diharapkan memiliki kemampuan yang lebih baik dalam memberikan dukungan kepada ODHIV. Pendampingan tidak hanya diarahkan pada aspek kesehatan, tapi juga memperhatikan kondisi psikologis dan sosial yang dapat memengaruhi kehidupan dan kesejahteraan ODHIV.
Kemampuan komunikasi empatik menjadi salah satu hal yang ditekankan dalam kegiatan ini. Pendamping Sebaya diharap mampu menciptakan suasana komunikasi yang nyaman sehingga ODHIV dapat menyampaikan pengalaman maupun permasalahan yang dihadapi tanpa merasa dihakimi.
Pangabdian ini sekaligus menjadi upaya FK Unri dalam memperkuat peran komunitas dalam mendukung penanggulangan HIV di Provinsi Riau. Dengan melibatkan Pendamping Sebaya dari sejumlah wilayah, program ini diharapkan dapat memberikan manfaat yang lebih luas dan mendukung penguatan layanan pendampingan berbasis komunitas di Siak, Dumai, Tembilahan, Pekanbaru, serta wilayah lainnya di Provinsi Riau.
"Program TEMAN-ODHA, FK Unri bersama Yayasan SIKLUS Riau berkomitmen untuk terus mendorong peningkatan kapasitas pendamping sebaya agar mampu memberikan konseling dan dukungan psikososial yang lebih baik bagi ODHIV. Kolaborasi antara perguruan tinggi dan komunitas diharapkan dapat terus dikembangkan sebagai bagian dari upaya menciptakan pendampingan HIV yang lebih empatik, inklusif, dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat," pungkasnya. ***
