Entakan Cokmar LAMR, Menbud Fadli Zon Soroti Kuatnya Akar Melayu dalam Sejarah Nusantara

  • Minggu, 18 Oktober 2026 - 11:32 WIB

KLIKMX.COM, PEKANBARU - Menteri Kebudayaan (Menbud) Republik Indonesia Fadli Zon, melepas Arak-arakan Keberagaman, Persebatian Antaretnis di halaman Balai Adat Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR), Jalan Diponegoro, Pekanbaru, Ahad (18/10/2026).

Tak sekadar memberikan aba-aba, Fadli Zon mengentakkan Cokmar LAMR sebanyak tiga kali sebagai penanda dimulainya arak-arakan yang menjadi puncak peringatan Hari Kebudayaan Nasional (HKN) 2026 di Provinsi Riau.

Honda Juni 4

Sebelum melepas barisan peserta, Fadli Zon menyampaikan apresiasi kepada LAMR dan seluruh pihak yang telah menggelar rangkaian kegiatan kebudayaan sejak 16 Oktober lalu.


“Atas nama Kementerian Kebudayaan, saya sampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya dan apresiasi setinggi-tingginya kepada LAMR Provinsi Riau beserta seluruh pihak yang telah menyelenggarakan kegiatan ini,” ucap Fadli Zon.

Ia menyebutkan, arak-arakan ini merupakan ikhtiar bersama untuk melestarikan warisan budaya, tradisi, dan adat Melayu Riau sekaligus memperkuat persaudaraan di tengah keberagaman masyarakat.

Menurutnya, keberagaman budaya merupakan kekayaan Indonesia yang harus dijaga dan dikembangkan. Kebudayaan tidak hanya mencakup seni, tetapi juga bahasa, tradisi lisan, manuskrip, ritus, adat istiadat, pengetahuan tradisional, olahraga tradisional, permainan rakyat, hingga berbagai bentuk ekspresi seni.


Fadli Zon juga menyoroti kuatnya akar kebudayaan Melayu dalam perjalanan sejarah Nusantara. Bahasa Melayu, katanya, memiliki peran penting dalam sejarah perdagangan dan komunikasi antarmasyarakat di kawasan Nusantara.

Fadli Zon turut menyinggung upaya pengusulan Tari Zapin ke Unesco bersama negara-negara serumpun, termasuk Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam. “Kebudayaan kita ini sangat luas. Keberagaman ini adalah kekayaan kita,” ucapnya lagi.

Fadli Zon berharap kebudayaan di Riau terus berkembang, termasuk museum, situs sejarah, dan berbagai warisan budaya yang dimiliki daerah ini. Menurutnya, kebudayaan bukan hanya menjadi identitas bangsa dan kekuatan pemersatu, tetapi juga berpotensi menggerakkan ekonomi serta meningkatkan kunjungan wisatawan.

Ia juga mendorong komunitas dan pelaku budaya di Riau memanfaatkan program Dana Indonesiana untuk mendukung kegiatan seni dan kebudayaan. 

Fadli Zon menyebutkan, pemerintah turut menjalankan program revitalisasi ratusan situs budaya, termasuk sejumlah situs di Riau.

Menjelang pelepasan arak-arakan, Fadli kembali mengingatkan pentingnya menjaga semangat Bhinneka Tunggal Ika sebagai ikatan kebangsaan di tengah perbedaan suku, bahasa, dan tradisi.

Arak-arakan yang diikuti ribuan peserta dari 42 paguyuban tersebut menampilkan beragam busana adat dan ekspresi budaya dari berbagai etnis di Riau. Kegiatan ini diinisiasi LAMR bersama Badan Kerja Sama Organisasi Wanita (BKOW), Forum Pembauran Kebangsaan (FPK), dan sejumlah pihak lainnya.

Peringatan HKN 2026 di Riau mengusung semangat keberagaman sebagai kekuatan bersama, sejalan dengan pesan persatuan yang terus dijaga dalam kehidupan masyarakat Melayu.

Fadli Zon menutup sambutannya dengan pantun yang menegaskan kecintaan terhadap budaya Melayu. “Dijunjung tinggi takkan Melayu hilang di bumi.” 

LAMR Dorong Budaya Melayu Diakui Unesco, Pemprov Riau Titip Revitalisasi Candi Muara Takus 

Puncak peringatan Hari Kebudayaan Nasional (HKN) 2026 di Provinsi Riau menjadi momentum bagi Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR) untuk memperjuangkan pengakuan dan pelestarian warisan budaya Melayu hingga tingkat internasional.

Ketua Umum Dewan Pimpinan Harian (DPH) LAMR Provinsi Riau, Datuk Seri Taufik Ikram Jamil, menyampaikan sejumlah agenda kebudayaan kepada Menbud RI, Fadli Zon, saat Arak-arakan Keberagaman, Persebatian Antaretnis di halaman Balai Adat LAMR, Pekanbaru, Ahad (18/10/2026).

Datuk Seri Taufik mengatakan, kegiatan yang diikuti ribuan peserta dari berbagai paguyuban tersebut bukan sekadar perayaan, melainkan juga simbol persatuan dan kekuatan kebudayaan yang tumbuh di Bumi Lancang Kuning.

Datuk Seri menjelaskan, susunan empat jalur arak-arakan memiliki makna yang berkaitan dengan empat sungai besar di Riau, yakni Sungai Rokan, Siak, Kampar, dan Indragiri. Simbol empat jalur itu juga selaras dengan tradisi sastra Melayu yang mengenal pantun empat baris serta syair yang mendapat pengaruh tradisi Arab.

Menurut Datuk Seri Taufik, kebudayaan harus menjadi kekuatan yang mempersatukan masyarakat sekaligus membuka jalan bagi pengakuan terhadap warisan budaya daerah.

Dalam kesempatan itu, Datuk Seri Taufik menyebutkan sejumlah agenda yang tengah diperjuangkan LAMR bersama berbagai pihak. Di antaranya, pengusulan tokoh Melayu Abdul Wahab Rokan sebagai pahlawan nasional serta upaya mendorong Layang Kuau, Zapin, dan Pacu Jalur memperoleh pengakuan Unesco.

Ia juga menyinggung kehadiran Dika Aura Farming, yang disebutnya sebagai salah satu putra Riau yang mendapat perhatian di tingkat internasional. 

Datuk Seri Taufik berharap momentum tersebut dapat menjadi modal untuk memperkuat pengakuan terhadap kekhasan budaya Riau.

Datuk Seri Taufik turut mengapresiasi kehadiran Fadli Zon di tengah kesibukannya. Menurutnya, kehadiran Menteri Kebudayaan menjadi bentuk perhatian terhadap upaya masyarakat Riau dalam menjaga dan mengembangkan kebudayaan.

Ia juga menyampaikan terima kasih kepada paguyuban, komunitas, dan pihak swasta yang mendukung kegiatan tersebut. Menurut Datuk Seri Taufik, partisipasi masyarakat menjadi kekuatan utama karena banyak peserta mengikuti arak-arakan dengan pembiayaan secara mandiri.

Sementara itu, Sekretaris Daerah Provinsi Riau, Syahrial Abdi, yang mewakili Plt Gubernur Riau, menyampaikan sejumlah harapan kepada Kementerian Kebudayaan, terutama terkait revitalisasi situs sejarah, penguatan kelembagaan kebudayaan, dan dukungan bagi para pelaku budaya.

Syahrial mengapresiasi dukungan pemerintah pusat terhadap revitalisasi Museum Sang Nila Utama. Ia juga menitipkan perhatian Menteri Kebudayaan terhadap penataan dan pelestarian kawasan Candi Muara Takus yang masuk dalam agenda kunjungan Fadli Zon di Riau.

Selain itu, Pemprov Riau berharap pembentukan Balai Pelestarian Kebudayaan di Riau dapat segera direalisasikan. Pemerintah provinsi, kata Syahrial, telah menyiapkan tiga alternatif lahan yang dapat dipilih untuk pembangunan kantor perwakilan tersebut.

Syahrial juga mendorong agar dukungan bagi komunitas budaya diperluas. Ia berharap program Kementerian Kebudayaan dapat menjangkau seluruh 12 kabupaten/kota di Riau, termasuk melalui pembinaan, pengembangan karya, serta perluasan jejaring pertunjukan seni dan budaya di tingkat nasional maupun internasional.

Pemprov Riau turut mengharapkan dukungan dalam penelitian dan penulisan sejarah Melayu, inventarisasi manuskrip, serta dokumentasi tradisi dan pengetahuan budaya untuk diwariskan kepada generasi berikutnya.

Dalam sambutannya, Syahrial juga menyampaikan apresiasi atas dukungan Kementerian Kebudayaan terhadap revitalisasi Istana Siak. Ia berharap perhatian pemerintah pusat tersebut dapat memperkuat pelestarian warisan sejarah Melayu di Riau.

Syahrial turut menyinggung persoalan lahan perkebunan sawit yang terindikasi berada dalam kawasan hutan, termasuk lahan yang berkaitan dengan tanah ulayat. Ia berharap pemerintah pusat memberi perhatian terhadap keberadaan tanah adat agar dapat memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi komunitas dan masyarakat adat.

Menutup sambutannya, Syahrial menegaskan pentingnya menjaga persaudaraan dan keberagaman sebagai fondasi pembangunan kebudayaan di Riau. “Bahagialah kita hidup di tanah Riau Melayu. Karena rumah besar bagi semua suku,” pungkasnya. mx/rls

 



Baca Juga

--ads--