Gajah Jovi Akhirnya Mati Setelah 34 Hari Menjalani Perawatan, Ini Penyebabnya

  • Selasa, 04 Agustus 2026 - 11:21 WIB

KLIKMX.COM, PEKANBARU - Berita duka datang dari Pusat Latihan Gajah (PLG) Minas, Kabupaten Siak. Jovi, gajah jinak jantan berusia 46 tahun akhirnya mati setelah selama 34 hari menjalani perawatan intensif tim medis.

Penyebabnya karena diakibatkan komplikasi infeksi hingga memicu gangguan otot berat. Jovi mengembuskan napas terakhir pada Senin malam (3/8/2026) sekitar pukul 20.47 WIB, saat berada dalam penanganan tim medis Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau yang dikoordinasikan dokter hewan, drh Rini Deswita.

Honda Juni 4

Plh Kepala BBKSDA Riau, Ujang Holisudin, mengatakan Jovi sebelumnya telah menunjukkan sejumlah gejala penyakit. Kondisinya mulai menurun dengan ditandai kelemahan tubuh, kehilangan nafsu makan, tremor, kekakuan pada kaki, belalai dan ekor, hingga kesulitan berdiri.


“Gajah jantan dewasa ini telah berjasa besar membantu penanganan berbagai konflik manusia dan satwa liar di Provinsi Riau akibat komplikasi infeksi saluran pencernaan dan pernapasan atas yang memicu kelemahan otot berat (myopathy),” ungkap Ujang, Selasa (4/8/2026).

Sejak gejala muncul, tim medis langsung memberikan penanganan intensif. Berbagai tindakan dilakukan, mulai dari terapi cairan melalui infus selama 24 jam, pemberian vitamin, antibiotik, antiinflamasi, asam amino hingga terapi suportif.

Kondisi Jovi sempat memperlihatkan perkembangan positif selama masa perawatan. Kekakuan pada sejumlah bagian tubuh mulai berkurang dan nafsu makannya perlahan membaik.


Bahkan, pada hari keenam perawatan, Jovi sempat mampu berdiri dan berjalan beberapa langkah. Namun, kondisi tersebut tidak bertahan lama. 

Hasil pemeriksaan laboratorium memang menunjukkan adanya penurunan tingkat infeksi setelah terapi diberikan, tetapi kondisi otot Jovi terus mengalami penurunan hingga berkembang menjadi myopati berat. Karena gangguan tersebut membuat Jovi kembali tidak mampu berdiri.

Dokter hewan BBKSDA Riau, drh Rini Deswita, mengatakan kebutuhan nutrisi dan cairan Jovi tetap dipenuhi selama menjalani perawatan. Tim memberikan pakan khusus serta terapi infus secara intensif untuk mempertahankan kondisi tubuhnya.

Menurut Rini, penanganan Jovi juga dilakukan dengan melibatkan koordinasi bersama Direktorat Konservasi Spesies dan Genetik, Kementerian Kehutanan, termasuk melalui diskusi serta konsultasi teknis dengan dokter hewan dari sejumlah unit di lingkungan kementerian tersebut.

“Tidak bekerja sendiri dalam menangani kasus ini. Kami selalu berkoordinasi dengan Direktorat Konservasi Spesies dan Genetik, Kementerian Kehutanan, mengoordinasikan diskusi dan konsultasi teknis bersama dokter hewan dari berbagai unit lingkup Kementerian Kehutanan guna memperoleh masukan dan pertimbangan medis terbaik dalam penanganan Gajah Jovi,” kata Rini.

Memasuki Ahad (2/8/2026), kondisi Jovi kembali mengalami penurunan signifikan. Gajah tersebut tidak lagi mau makan maupun minum sehingga tim medis terus memberikan terapi intensif.

Sehari kemudian, Senin (3/8/2026), suhu tubuh Jovi meningkat hingga sekitar 40 derajat Celsius pada pukul 16.00 WIB. Tim medis kemudian melanjutkan pemberian cairan melalui infus, secara oral maupun rektal, disertai berbagai tindakan suportif lainnya.

Namun, sekitar pukul 20.43 WIB, Jovi mengalami tremor hebat. Empat menit kemudian, tepat pukul 20.47 WIB, gajah tersebut dinyatakan mati.

Setelah pemeriksaan dilakukan, tim medis melaksanakan nekropsi dan mengambil sampel organ serta jaringan untuk pemeriksaan laboratorium lebih lanjut guna memastikan penyebab kematian secara ilmiah.

“Setelah seluruh proses pemeriksaan selesai dilakukan, jenazah Gajah Jovi dimakamkan sesuai prosedur yang berlaku,” kata Rini lagi.

Jovi merupakan gajah jinak jantan yang berasal dari Kabupaten Indragiri Hulu. Ia bergabung di PLG Minas sejak 18 Februari 1998.

Selama lebih dari dua dekade, Jovi menjadi salah satu gajah binaan yang memiliki peran dalam berbagai operasi mitigasi konflik antara manusia dan gajah liar di sejumlah wilayah Provinsi Riau.

Keberadaan dan kontribusinya dalam mendukung upaya konservasi gajah Sumatera menjadi bagian dari perjalanan panjang penanganan konflik manusia dan satwa liar di Riau.

BBKSDA Riau mengajak masyarakat untuk meningkatkan kepedulian terhadap kelestarian gajah Sumatera yang masih menghadapi berbagai ancaman, termasuk kehilangan habitat dan konflik dengan manusia.

Upaya pelestarian, menurut Ujang, membutuhkan kolaborasi berbagai pihak, mulai dari menjaga habitat, mengurangi konflik manusia dan satwa liar hingga mendukung program perlindungan dan penyelamatan gajah di Indonesia. ***



Baca Juga

--ads--