Bersama Ahli Tinjau Karhutla, Kapolda Riau: Penegakan Hukum Harus Tegas dan Berkeadilan

  • Jumat, 03 April 2026 - 16:18 WIB

KLIKMX.COM, BENGKALIS - Kapolda Riau Irjen Dr Herry Heryawan SIK MH MHum turun langsung ke lokasi Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di Desa Sekodi, Kecamatan Bengkalis, Kabupaten Bengkalis, Provinsi Riau, Jumat (3/4/2026), untuk menyemangati tim gabungan sekaligus memastikan proses pemadaman berjalan maksimal.

Dalam kunjungan tersebut, Kapolda bersama Ahli Lingkungan yang juga Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB) bidang perlindungan hutan, Prof Bambang Hero Suharjo, serta Kapolres Bengkalis AKBP Fahrian Saleh Siregar SIK MH.

Honda Februari 2026

Di lapangan, Kapolda menyapa langsung personel gabungan yang terdiri dari BPBD, TNI, Polri, Manggala Agni, relawan, hingga Masyarakat Peduli Api (MPA) yang masih berjibaku memadamkan api di sejumlah titik.


“Kami hadir untuk memberikan motivasi dan memastikan upaya pemadaman dilakukan secara maksimal. Penanganan karhutla tidak bisa dilakukan sendiri, tetapi harus kolaboratif melibatkan semua pihak,” ujar Irjen Herry.

Ia menegaskan, langkah strategis yang kini dilakukan adalah menemukan dan memutus titik api sedini mungkin agar kebakaran tidak meluas, terutama menjelang puncak musim kemarau.

“Lebih baik bekerja keras sekarang sebelum memasuki puncak kemarau, daripada memadamkan api dalam kondisi yang lebih besar dan sulit,” tegas Alumni Akpol 1996 itu.


Selain upaya pemadaman, Kapolda juga menekankan pentingnya penegakan hukum sebagai bagian integral dalam penanganan karhutla. Sepanjang 2025, Polda Riau telah menangani 74 kasus karhutla dengan jumlah tersangka yang sama.

“Penegakan hukum harus tegas dan berkeadilan. Tidak boleh ada toleransi bagi pelaku pembakaran, baik yang disengaja maupun karena kelalaian,” jelasnya.

Sebagai langkah pencegahan, Polda Riau bersama para pemangku kepentingan telah memasang ratusan papan imbauan di wilayah rawan karhutla. Papan tersebut memuat ancaman pidana serta larangan memanfaatkan lahan bekas terbakar.

“Kami ingin ada efek jera. Lahan yang sudah terbakar tidak boleh dimanfaatkan kembali, termasuk untuk penanaman sawit,” tambahnya.

Sementara itu, Prof Bambang Hero Suharjo mengingatkan bahwa tahun ini perlu diwaspadai adanya fenomena Super El Nino yang berpotensi memicu kekeringan panjang dan memperparah karhutla.

Menurutnya, fenomena tersebut ditandai dengan kenaikan suhu permukaan laut hingga 2,7 derajat celsius di atas normal, yang dapat memicu perubahan sirkulasi atmosfer dan cuaca ekstrem.

“Kondisi ini mirip dengan kejadian 1997–1998, di mana kebakaran melanda hingga 10–11 juta hektare lahan dan menimbulkan korban jiwa,” kata Bambang.

Ia juga menyoroti kondisi tinggi muka air di kanal yang telah melebihi ambang batas aman, sehingga meningkatkan potensi kebakaran.

“Ini harus segera dimitigasi secara komprehensif. Karena ke depan kondisi akan semakin kering dan kita berpotensi kekurangan air,” ujarnya.

Bambang menegaskan bahwa langkah preventif dan sistem peringatan dini menjadi kunci utama dalam menghadapi ancaman tersebut. Ia juga mengapresiasi pendekatan Green Policing yang dijalankan Polda Riau, termasuk program penanaman pohon sebagai strategi jangka panjang pengendalian karhutla.

Menutup peninjauan tersebut, Kapolda Riau kembali menegaskan bahwa penanganan karhutla harus dilakukan secara terintegrasi, mencakup pemadaman, pencegahan, penegakan hukum, serta pendekatan ekologis.

“Kita bergerak bersama lintas sektor untuk mencegah penyebaran api dan melindungi lingkungan serta masyarakat,” pungkasnya. ***



Baca Juga

--ads--